Kamis, 09 Februari 2012

Selamat Jalan Fanka!

Selamat siang seluruh saudara, kawan, dan teman yang mengikuti perkembangan kondisi pencarian saudari kami, Angelina Yofanka selama beberapa hari ini.

Melalui postingan ini, kami memberitahukan bahwa saudari kami telah ditemukan pada hari Rabu, 8 Februari 2012 sekitar pukul 17.45 di sekitar pusat pencarian. Saudari kami ditemukan dalam keadaan meninggal dunia.
Kami memohon doanya untuk saudari kami, Angelina Yofanka agar dilapangkan jalannya kepada Sang Pencipta.

Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam Operasi SAR selama kurang lebih 4 hari untuk mencari hingga mengevakuasi saudari kami. Kami juga mengucapkan terima kasih seluruh bantuan materiil dan immateriil yang telah diberikan kepada seluruh tim.
Dengan ini juga, kami memberitahukan bahwa Operasi SAR telah dihentikan sejak saudari kami ditemukan.

Saat ini, saudari kami, Angelina Yofanka disemayamkan di RSPAD Gatot Subroto Jakarta. Pada Kamis, 9 Februari 2012 telah dilakukan misa pertama untuk saudari kami. Besok, 10 Februari 2012 pukul 09.00 akan dilakukan Misa Pelepasan di tempat disemayamkan.
Saudari kami akan dimakamkan pada hari kamis esok, sekitar pukul 10.00 di Pemakaman San Diego Hills, Karawang.

Demikian yang kami dapat bagikan.
Kami memohon doanya dan keikhlasan hati buat saudari kami, Angelina Yofanka.

Senyummu, akan selalu ada di hati kami, Fanka. 

Rabu, 08 Februari 2012

Update per tanggal 7-8 Feb 2012

Rabu, 8 Februari 2012 pukul 10.30

Sudah empat orang penyelam melakukan penyelaman secara bergantian tetapi belum tampak hasilnya


Rabu, 8 Februari 2012 pukul 08.50

Tim penyelam gabungan AL Jakarta dan Bandung mulai melakukan penyelaman


Rabu, 8 Februari 2012 pukul 07.00

Tim Pencarian yang baru diberangkatkan sudah sampai di garut dan sedang menuju TKP

Tim Pencarian yang sekarang ada di lapangan adalah gabungan dari Tim AL Jakarta, Tim AL Bandung, Tim SAR Gabungan dari Koramil, Wanadri, termasuk mahasiswa ITB, UNPAD, dan UNPAR 

Helikopter yang disewa pihak keluarga Angelina Yofanka, kemarin sudah 2 kali menyusur sungai sampai muara dan sempat landing di lokasi (ada batu yang sangat besar dan dapat digunakan untuk landing helikopter)
 

Rabu, 8 Februari 2012 pukul 05.30

Kebutuhan logistik yang  dipost pada Selasa, 7 Februari 2012 pukul 22.30
telah sampai di garut. 
Kami ucapkan banyak terimakasih pada berbagai pihak yang telah membantu, semoga peralatan tersebut dapat berguna dalam proses pencarian


Selasa, 7 Februari 2012 pukul 22.30

Dibutuhkan:
- terpal 50m
- tali lampar 5 kg ukuran standard
- karung pasir 200 buah
- sekop pasir 20 buah
Bagi yang memiliki salah satu dari barang tersebut dan dapat diberikan dapat menghubungi Johan (KMPA) 087877176576

Selasa, 07 Februari 2012

Informasi mengenai Hilangnya Angelina Yofanka

Info terbaru per hari selasa/ 7 Februari 2012: 
Biodata Saudara kami yang hilang, yaitu : 
Nama : Angelina Yofanka
Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 11 Juli1992 
Umur : 19 tahun 
Golongan Darah : A 
Tinggi : 172 cm 

ciri-ciri terakhir korban adalah sebagai berikut:
- Mengenakan pelampung berwarna merah-biru 
- Helm berwarna merah - Kaos hitam lengan panjang 
- Celana pendek warna biru tua dengan legging berwarna abu-abu
- Memakai sandal gunung eiger 

Waktu dan lokasi kejadian : 
Waktu : Hari minggu/ 5 Februari 2012 jam 12.00 
Lokasi : Desa Tanjung Jaya, Pakenjeng, Garut Selatan 
Koordinat Tempat : 790204, 9169282, 48M 

Telah dibuat basecamp yang berlokasi di :
 Rumah Pak Tarmudin,Kampung Bihbul dekat SMP Pakenjeng 2, Desa TTanjung Jaya, Kec. Pakenjeng
Koordinat basecamp : 789671, 9169668, UTM 48M

 KRONOLOGIS KEJADIAN : 
Pada hari Minggu, 5 Februari 2012, unit kegiatan mahasiswa Keluarga Mahasiswa Pecinta Alam (KMPA) 'Ganesha' ITB, Mahasiswa Pecinta Alam Sekolah Tinggi Teknologi Garut (STTG), UKM Pecinta Alam 'GERHANA' Fisip UNIGA, UKM Pecinta Alam 'PALAWA' UNPAD, beserta MAPALA 'WANALA' UNAIR dan 'IMPALA' melakukan pengarungan bersama di Sungai Cikandang, Garut. Pengarungan dilakukan dengan 10 perahu dengan total peserta 56 orang. Peserta dari KMPA menggunakan 6 perahu, GERHANA 1 perahu, STTG 2 perahu, dan PALAWA bersama MAHATALA bergabung dalam 1 perahu. Peserta dari WANALA dan IMPALA tergabung dengan peserta dari KMPA. Sistem pengarungan dilakukan dengan 3 perahu sebagai perahu rescue yang ditempatkan di depan (membuka jalan), tengah, dan belakang (sweeper). Pengarungan dimulai pukul 09.00 waktu setempat dengan start di jembatan Ciarinem, desa Ciarinem. Sekitar pukul 12.30, perahu yang ditumpangi Angelina Yofanka mengalami wrap (perahu menyangkut di batu) dan arus air yang deras mengisi bagian tengah dan hampir terbalik sehingga 4 dari 6 peserta jatuh dari perahu sementara 2 peserta lain masih berusaha membalikkan perahu. 3 orang yang terjatuh tadi langsung masuk ke arus utama dan terbawa ke tepi kanan sungai di mana tim rescue sudah bersiaga dengan tali lempar. 3 orang tersebut pun dapat diselamatkan oleh tim rescue. Namun, Fanka tidak terlihat hanyut bersama 3 orang tersebut. Sementara 2 orang yang mencoba membalikkan perahu berhasil menepi ke sisi kanan setelah perahu kembali pada posisi normal. Bersama warga, sebagian tim melakukan usaha pencarian korban di lokasi undercut tersebut dengan tenaga dan alat seadanya. Sementara itu, tim lain meneruskan perjalan beberapa saat sebelum dievakuasi di desa terdekat (desa Bokor). Saat ini, upaya pencarian masih dilakukan dengan dibantu banyak personil dan alat yang lebih memadai untuk melakukan penyelaman

Kondisi Save and Rescue saat ini :
a. Jumlah personil 
Personil saat ini di lapangan sebanyak 156 orang dengan rincian sebagai berikut :
(uritan : Nama organisasi- Jumlah orang- Penanggung Jawab)
KMPA ‘G’ ITB 32 Emil
KAPINIS 6 Wawan 
Mahitala Unpar 7 Pipin
Koramil 13 Acum Suparman
Polsek 7 Sapriyudin
Wanadri 13 Gilang
Wanariksa 1 Fauzi
TMP 1 Fauza
Sabareuma 2 Bara
Nikreuh 7 Tako
Basarnas 6 Yudi
Bubat Corp 1 Rohman
Menwa 1 Gurhana
Jenggala 10 Ato Suprapto
Mapak Alam Unpas 1 Arni
Mataspala STIE Ekuitas 1 Kecos
Pamor UPI 1 Rifki
SAR Pramuka Garut 5
KMKL ITB 8 Ilman
Himpala ITENAS 2 Yogi Ginanjar
Bramatala Widyatama 2 Fajar
HIPAMA 1 Lukas
Gempar 1 Sapta
Mahacita UPI 1 Revi
Mapaligi Unikom 4
Arif Palawa Unpad 1
Rifki Janabuana 1 Ricky
Sadawana 1 Boay
Forester 1 Hadi
Swaorippa 1 Pelay
SBSM STKS 2 Faisal
Medis Astacala STT Telkom 4
Torak Rimba 1
PGPI 1
Lain-lain 14
Total Personil 160

SUSUNAN KEPANITIAAN TIM SAR:

SMC : BASARNAS 
- Staf Intelijen : Johan (KMPA) 087877186576 
Dani (KMPA) 085721406767 
- Staf Operasi : MAHITALA, KMPA
- Staf Komunikasi : Yana (KMPA) 085265824909
- Staf Admin Logistik : Gian (KMPA) 085222461261
 OSC : Emil (KMPA) 082185523385
- SRU 1 (Lokasi Undercut) Koordinator : Cahyo (KMPA) 085645451318
- SRU 2 (Susur Sungai) Koordinator : Zaki (KMPA) 08179883500 
- SRU 3 (Susur Darat) Koordinator : Ari (KMPA) 085263366292 


Deskripsi pergerakan

Personil saat ini terbagi menjadi tiga tim, yaitu :
•Tim Sungai Ada tiga tim dengan tiga perahu di tiap tim mengarungi sungai hingga titik finish. (5 feb-6 Feb) Pencarian melalui darat, di area sekitar tempat kejadian ( sisi barat dan timur perbukitan sekitar sungai). 

•Tim Darat (menyusuri sungai) Terbagi menjadi empat tim : tim Tanjungjaya-Bokor (di sisi barat dan timur) dan Bokor-Finish (di sisi barat dan timur) menyusuri sekitar sungai.

 •Tim Undercut Tim membendung aliran sungai disekitar undercut di dekat lokasi kejadian untuk memperlemah arus agar undercut dapat diselami. Bendungan sudah siap diselami 


Hasil pencarian saat ini
Belum ditemukan tanda-tanada mengenai keberadaan survivor Operasi SAR akan terus dilakukan sampai batas yang belum ditentukan. 


Perkiraan anggaran yang dibutuhkan selama operasi SAR dilakukan adalah:
Perkiraan anggaran untuk 1 hari
 a. Anggaran Tim SRU Transportasi : Mobil @500.000x5 Rp 2.500.000
 Motor @200.000x7 Rp 1.400.000
 Operasional: SRU @500.000x7 Rp 3.500.000
 Komunikasi: Rp 1.000.000
 Konsumsi : @10.000x200x2 Rp 4.000.000
 Administrasi: Rp 600.000

 b. Tim posko sel Administrasi
 Rp 500.000 Konsumsi Tim posko sel Rp 1.500.000

 Total Keseluruhan biaya yang dibutuhkan per harinya adalah sebesar Rp 15.000.000,00 

Beberapa kebutuhan lapangan di antaranya adalah:
- Lampu Halogen
- Bahan Bakar
- Batere
-Senter
- Penerangan bawah air
- Komunikasi HT/WT
- Transportasi (motor)
- Bahan Makanan (beras, sayur, lauk pauk, makanan kaleng, ikan kering, telur, kopi, teh, gula)
- minyak goreng
- tabung gas LPG
- senter bawah air
- head lamp

 Informasi lebih lanjut mengenai kegiatan ini dapat menghubungi :
Contact Person : Johan – 087877186576

Untuk pergerakan tim SAR dapat menghubungi: 
Contact Person : Yoga (Dansatgas) - 081578815653

Untuk memberikan bantuan dana dapat menyalurkan bantuan melalui :
BCA a.n. Yudhi Ferraro : 777 090 0501 
BNI a.n. Dian Lutfiana : 015 316 5582
Mandiri a.n. Dian Lutfiana : 119 000 5473 143

Silahkan untuk melihat website KMPA 'G' ITB : http://kmpaganesha.itb.ac.id/?p=340

Jumat, 30 September 2011

THE HIDDEN PARADISE


The hidden paradise, adalah nama yang menurut gw sangat cocok untuk mendeskripsikan sawarna. Sebuah pantai dengan tebing – tebing di pinggirnya, dengan ombak yang besar, pohon – pohon tropis kecil dan gua disekitarnya. Pantai ini terletak di Banten, 6 – 7 jam perjalanan dari Bandung dengan menggunakan motor, masuk ke jalan – jalan kecil dan rusak. Makanya gw kasi sebutan hidden paradise. Pantai terbagus dan ter-ribet (untuk mencapainya) yang pernah gw datengin.
Perjalanan kali ini berlangsung selama lima hari. Hari pertama dimulai dengan keberangkatan dari sel di kampus ITB tercinta naik 5 motor beranggotakan 10 orang. Perjalanan berlangsung di malam hari yang dingin. Tujuan pertama adalah ke sukabumi. Dalam perjalanan ini ban motor yang gw dan ade gunakan pecah sehingga mesti nyari tukang tambal ban. Untung bang fred nemu tukang tambal ban ga jauh di depan. Setelah tambal menambal selesai, perjalanan dilanjutkan menembus angin yang dingin sampai melewati sukabumi. Disana kita berhenti di sebuah warung yang sudah biasa ditempati anak – anak KMPA kalo mau ke Sawarna. Kita semua nginep, makan dan tidur di warung tersebut.
Keesokan paginya perjalanan dilanjutkan sampai ke Pelabuhan Ratu. Di sana kita beristirahat bentar dan kembali melanjutkan perjalanan sampai ke Sawarna siang menjelang sore hari. Dalam perjalanan sebelum sampai Sawarna ini, motor yang ditumpangi dika dan bayu terjatuh di tanjakan terjal dan rusak. Namun jatuhnya ga parah seperti yang akan gw ceritakan selanjutnya. Nah setiba di Sawarna, kita langsung ke rumah sebuah keluarga yang sudah sangat dekat dengan KMPA. Disana kita berramah – tamah sebentar, kemudian keluar untuk membeli berbagai barang – barang makanan dan kebutuhan lainnya. Di dekat rumah situ, ada warung yang sangat lengkap, kita sebut borma.
Nah kegiatan selanjutnya yang di hari ini yang sangat menyenangkan. Untuk pertama kalinya jalan – jalan melihat pantai di kirinya dan melihat tebing di kanannya. Tebing nya ga begitu tinggi tapi fun bwt boulderan. Kita dikasi task sm bang fred untuk boulderan sampe ke suatu titik, yang ga begitu tinggi, tapi rada susah. Gw coba sampe tangan lecet – lecet karna tebingnya kasar banget, tapi masih gagal(dikit lagi nyampe). Akhir – akhirnya, setelah coba sampe sore cuma bang fred yang berhasil. Kita foto – foto di pantai dan gw dika sama inda mencoba mengebor di batu kecil di pasir. Karna sebenarnya tujuan perjalanan kali ini adalah belajar buat jalur sport. Nah, kenapa gw bilang di awal paragraph kalo kegiatannya menyenangkan, karna Cuma itu kegiatan yang gw nikmatin. Ceritanya, setelah cape manjat, kita mau cari sunset di Tanjung Layar. Perjalanan ke Tanjung Layar menggunakan motor dan harus melewati sungai yang dipasangi jembatan kayu gantung yang bergoyang. NAHHH, di jembatan ini gw goncengan motor bareng dika terjatuh di tengah jalan gara – gara jembatannya goyang – goyang. Untung ga nyebur sungai, tapi tangan gw jadi keseleo(yang sialnya sampe sekarang masih). Gara – gara tangan keseleo itu gw jadi ga bisa ngapa – ngapain. Baru sekali ngerasain melakukan semua hal dengan 1 tangan dan ternyata sangat susah.
Besok pagi nya gw langsung diajak novi ke rumah pak siapa gitu yang bisa ngurut. Baru sadar disana gw kalo jatonya tu parah juga ternyata, karna ga begitu sakit pas jatoh, tapi pas di urut sakitnya mantab. Uda de, bis ini gw ga bisa ngapa - ngapain lagi. Kelanjutan ceritanya sangat membosankan karna gw Cuma datang ke pantai, ngeliat yang manjat. Bantu masak – masak dikit sebisanya. Tau – tau uda sore aja dan balik ke rumah. Hari ini pembuatan jalur kurang berjalan lancer karna kesusahan dalam memanjat keatas untuk memasang tali dan pengaman. Malem – malem mau mandi males, jadi Cuma bilas – bilas dan gw dapet sesuatu si, belajar nimba air pake 1 tangan. Haha. Malem makan tidur bangun pagi hari baru dan keadaan sama.
Hari ke tiga hamper sama kaya hari ke 2 karna ga pake urut. Siang siang kalau tidak salah brian sama wina pulang duluan. Tau – tau sore lagi dan 1 hari membosankan terlewat kembali. Hari kedua ini pembuatan jalur sudah setengah jadi. Malem berlangsung seperti biasa dan tidur seperti biasa.
Hari keempat jalur selesai dibuat siang menjelang sore. Setelah perjuangan berat oleh dwika dan inda akhirnya jalur baru selesai dibuat. Bang fred membantu melepaskan sekaligus member contoh dalam cleaning dari atas ke bawah. Nah jalur pertama ini juga dicobain dikit oleh bang fred dan katanya lumayan susah (wow). Sore – sore mau foto – foto terakhir di pantai semua orang tapi pas uda siap – siap tiba – tiba batre kamera abis. Jadinya malah main yang muter – muter ngadep tanah sambil megang kuping trus lari ke depan dan akhirnya pada bergelimpangan badan – badan hidup. Sebenernya gw dika sama inda mau main ombak di pantai, tapi karna ada kejadian berbahaya dulukala, jadi ga boleh lebih dari paha sama mas sigit. Malam terkahir kita evaluasi dan tidur nya agak cepet kecuali bayu inda sama mas sigit yang jalan – jalan keluar dulu.

Besok paginya bangun jam 4, rencananya mau ngeliat suset. Tapi pas nyalain motor, motornya si bambang yang dipinjem ade mogok lagi. Jadi ga jadi liat sunset malah jalan dan nongkrong di warung atas tidur – tiduran. Abis itu kita semua ke bayah untuk belanja sembako dan bensin. Balik ke rumah dan beres – beres, pamit kemudian kembali menempuh perjalan jauh ke Bandung. Belum jauh dari Sawarna, motor yang ditumpangi ade dan dwika kembali menimpa musibah yaitu jatuh dan nabrak motor mas sigit dan gw. Untung ga kena tangan kanan gw ~_~/ . Intinya dwika bawa sial :p dia naik motor dengan 3 pengendara berbeda dan smuanya jatoh ckckck. Sampai di bandung malam hari dan mampir ke rumah nda dulu ngambil lele yang kecil – kecil. Perjalanan ke hidden paradise berakhir.

Joseph Bimandita Sunjoto / GM 011 XX

Rabu, 11 Mei 2011

Impian 18 bulan lalu

kami bermain di Gua Jangkrik dan Gua Wayang

Catatan Perjalanan
Gua Jangkrik dan Gua Wayang
By: Belmesty Kamila GM-002-XX
Tanggal 8-10 April 2011, subdivisi caving pergi ke padalarang untuk mengunjungi gua jangkrik dan gua wayang. Orang-orang yang pergi hari pertama adalah Yoga, Onye, Usie, Yuda, Bowo, Bellys, Sojo, dan Andra. Muhsin dan Nurul menyusul datang hari kedua. Persiapan logistik selain makanan dipersiapkan dua hari sebelum berangkat (karena berebut dengan persiapan subdivisi gunung hutan yang hendak ke gunung gede-pangrango dan berebut dengan subdivisi RC yang hendak berlatih di maranata) sedangkan makanan dibeli tanggal 8 jam 12 siang. Saya dan Andra membeli makanan di pasar simpang. Berdasarkan menu yang sebelumnya sudah ditentukan, saya dan Andra menghabiskan Rp 173.700 namun belum membeli buah dan bakso yang seharusnya ada di menu.
Rencana berangkat ke padalarang jam delapan malam. Namun ada kendala yaitu: helm kurang sehingga Andra kembali ke kosan untuk mengambil helm cadangan, ayam tertinggal di rumah Bellys sehingga Bellys kembali ke rumah lagi, dan paravin kurang sehingga beli dulu di Alpina. Akhirnya, kami berangkat ke padalarang jam sembilan malam. Perjalanan ke padalarang terhambat karena ban motor Andra bocor dua kali hingga akhirnya ganti ban.
Selama perjalanan saya tertidur sehingga tidak terlalu mengetahui peristiwa-peristiwa selama perjalanan ke padalarang. Namun, berdasarkan pembicaraan teman-teman diketahui bahwa sempat mengambil air untuk minum di tempat wudhu.
Ketika sampai di tempat penambangan, kami ngobrol sama penjaganya (tadinya dikira tidak ada penjaga, ternyata ada penjaga di pos atas. Sampai di warung tempat kami menginap sekitar jam sebelas. Setelah itu kami memasang tenda dan membenahin warung sehingga nyaman untuk tidur. Sebelum tidur, onye berinisiatif untuk membakar ayam yang sudah dibeli. Akhirnya kami sempat mencoba dua ayam bakar. Sementara saya dan GL baru berniat untuk tidur, Yoga ternyata masih ingin makan. Jadi Yoga, Onye, Yudha, dan Usie menghabiskan dua bungkus mie sebelum tidur. Mereka tidur di tenda sementara Bellys, Bowo, Andra dan Sojo tidur di warung.
Hari kedua, kami terbangun jam tujuh oleh penambang-penambang yang datang bekerja. Kamipun akhirnya menemui Ibu pemilik warung yang kami tempati, ia tidak melarang kami berada disana. Pagi itu kami memasak sop, tempe dan nasi. Sopnya berisi kentang, wortel, kol, dan tomat. Tempenya digoreng biasa saja karena saya dan Andra tidak membeli tepung. Kami memasak dua misting nasi dan cukup untuk kami berdelapan.
Sementara beberapa dari kami mencuci piring dan berbenah-benah untuk berangkat ke gua jangkrik, seseorang pekerja mengajak kami ngobrol. Sepertinya pekerja itu termasuk orang penting diantara pekerja disana. Orang itu bertanya kepada kami apakah kami sedang melakukan penelitian disana, ketika kami menjawab bahwa kami hanya bermain-main, orang tersebut terlihat lega. Ia bercerita bahwa ia dan pekerja lainnya khawatir karena mulai banyak mahasiswa yang mengunjungin gua di sana. Mereka takut mahasiswa-mahasiswa tersebut melakukan penelitian ataupun pencarian situs purbakala yang dapat menghambat pekerjaan mereka.
Setelah bercakap-cakap dengan pekerja yang sepertinya orang penting tersebut, kami berangkat ke gua jangkrik yang terletak tak jauh dari jalan. Gua jangkrik adalah gua yang terbagi menjadi dua rute dari pintu gua, ada rute vertikal dan ada rute horizontal. Kami dibagi menjadi dua tim. Tim pertama terdiri dari Bellys, Bowo, Usie dan Yudha yang berangkat ke bagian horizontal. Tim kedua terdiri Yoga, Onye, Andra dan Sojo yang berangkat ke bagian horizontal.
Tim satu berangkat dengan Yudha yang ada di paling depan. Saya, Bowo, Usie dan Yoga membawa dua webbing. Webbing pertama dipakai di turunan terjal pertama dan webbing kedua dipakai di turunan yang bisa dilewati bagian atas maupun bagian bawahnya tapi tetap harus menggunakan webbing untuk turun lebih bawah lagi. Ternyata ada turunan terjal ketiga, sementara webbing kami sudah habis. Sementara kami memikirkan cara lain untuk turun, kami melihat tali jatuh dari bagian atas di tempat yang seharusnya kami turun dengan webbing. Kami berusaha memanggil tim kedua yang menggunakan tali tersebut, namun tidak ada jawaban. Kami menyimpulkan bahwa bagian horizontal dan bagian vertikal dari gua ini tersambung oleh lubang kecil. Akhirnya kami kembali ke atas dan menunggu teman-teman tim satu selesai menjelajahi bagian vertikal gua ini.
Tim dua kembali, akhirnya kami makan siang bersama. Makan siang kami adalah snack hijau, roti bagelan, snack bantal keju dan snack telor. Tapi snack bantal kejunya tidak terlalu enak. Snack tersebut kami habiskan setengah saja karena setengah berikutnya untuk dimakan pada makan siang esok harinya.
Kamipun bertukar tempat. Tim pertama ke bagian vertikal; tim kedua ke bagian horizontal tapi mereka dibekali tiga webbing. Selama pemasangan alat, Bellys masih sangat bermasalah alat mana diletakan sebelah mana dan bagaimana alat tersebut diletakan sehingga memakan waktu lebih dari yang diperlukan. Bellys juga lupa cara pemasangan webbing untuk harness. Setelah semua siap, kami akhirnya berangkat ke bagian gua masing-masing.
Bagian vertikal gua terdiri dari turunan terjal pertama yang mengunakan webbing. Kemudian turuanan landai yang diakhiri dengan tempat kami menurunkan tali. Kami turun tali dengan urutan Usie, Bellys dan Yudha. Karena alatnya hanya tiga, yang turun kami bertiga dulu, kemudian kami naik kembali dengan urutan Bellys, Usie, dan Yudha. Harusnya Usie naik duluan, namun ia sibuk menjelajahi bagian lain yang menjorok ke bawah. Ia menemukan sarang wallet dan banyak jangkrik disana. Ketika saya naik denga tali, helm saya jatuh karena saya mencoba menengok ke bawah padahal saya tidak memasang helm dengan kencang. Helm dan headlamp saya jatuh ke lubang yang menghubungkan bagian vertikal dengan bagian horizontal. Tim kedua sempat melihat helm dan headlamp saya jatuh, namun helm it uterus jatuh ke lubang berikutnya sehingga mereka tidak dapat menggapainya tanpa tali lagi.
Akhirnya saya menaiki tali dengan bantuan sinar dari headlamp lainnya. Saya bertukar alat dengan Bowo kemudian saya kembali ke jalur awal. Usie kemudian naik dan bertukar alat dengan Yoga. Usie dan Saya kembali ke mulut gua. Saya mengalami kesulitan ketika memanjat dengan webbing, sehingga perlu di bantu Onye yang sudah selesai menjelajahi bagian horizontal. Setelah saya berhasil naik, saya memberikan harness webbing, karabiner, dan sling saya karena Onye mau membantu Yoga. Onye ternyata bersama Nurul yang baru saja sampai padalarang bersama Muhsin. Awalnya Nurul ingin turun dengan tali juga, namun tidak jadi karena waktu sudah cukup sore. Akhirnya saya, Nurul dan Usie kembali ke mulut gua dan bertemu Muhsin, Sojo dan Andra. Kami bercakap-cakap hingga Yoga, Yudha, Bowo dan Onye kembali.
Kami kembali ke warung. Tadinya kami mau langsung mempersiapkan makanan, tapi akhirnya kami berjalan-jalan sebentar karena hari masih terang. Kami berjalan menuju gua di depan warung yang ada disekeliling kapur yang sudah di obrak-abrik pekerja tambang. Gua tersebut tadinya punya pilar yang bagus kata muhsin, tapi sekarang mulut guanya sudah retak-retak dan bagian dalam gua sudah berantakan. Kami tidak berani melanjutkan ke dalam gua karena takut guanya runtuh. Kamipun berjalan mengelilingi gua tersebut, setelah itu kembali ke warung dan mempersiapkan makan malam yaitu ayam bakar dan kangkung. Hari sebelumnya, ayamnya sudah di rendam dengan air jadi sekarang kami hanya perlu memberi bumbu dan membakarnya. Tapi kami kekurangan air bersih sehingga Muhsin dan Usie berangkat dengan motor untuk membeli air bersih, mereka juga membeli snack untuk makan siang karena snack yang dibeli di pasar simpang tidak memberikan energi yang cukup. Setelah api jadi dan Muhsin juga Usie sudah kembali dengan air 30 liter, ayampun dibakar. Saya membuat nasi, Nurul membuat kangkung normal sementara Andra membuat kangkung super manis. Minuman hangat dan melon yang dibawa Muhsin juga Nurul diedarkan sementara menunggu semua masakan matang. Setelah matang, kami menggelar makan panjang. Kami pun makan.
Setelah selesai makan, kami beres-beres dan memasak minuman hangat lagi. Tadinya sebelum kami memulai memasak, kami berniat melihat sunset. Tapi terlupakan ketika kami asyik masak. Karena hari sudah gelap, kami duduk mengelilingi api unggun dan mulai evaluasi. Selama evaluasi kami menyampaikan apa yang kami rasakan ketika masuk ke gua jangkrik. Dalan evaluasi, Yoga menyinggung bahwa saya masih belum menjaga alat-alat dengan baik. Setelah evaluasi, kami mengobrol dan bercanda. Tapi karena saya terlalu mengantuk, saya setengah tidur menjalaninya sampai akhirnya saya pindah ke warung untuk tidur.
Esok harinya, kami bangun lebih lambat karena tak ada pekerja yang membuat kami terbangun. Kami membuat sarapan, namun ternyata parafin dan spirtusnya tinggal sedikit sehingga kami menggunakan kompor Ibu pemilik warung untuk menyelesaikan masakan. Kami memasak nasi goreng yang dicampur mie goreng juga telur yang dicampur kol. Tapi nasi goreng gila kami terlalu lembek dan rasanya kurang muncul.
Setelah kami selesai makan, seperti biasa, kami mencuci alat masak di danau dekat warung. Setelah itu, kami dipisah menjadi dua tim yang berbeda dari kemarin. Tim pertama adalah Yoga, Andra, Onye dan Bowo yang akan kembali ke gua jangrik untuk menyelamatkan helm dan headlamp saya. Sementara tim kedua yaitu Muhsin, Usie, Nurul, Yudha, Sojo dan saya ke gua wayang. Tim kedua mengambil helm motor karena kami kekurangan helm, kemudian kami berangkat ke gua wayang.
Gua wayang terletak didekat belokan jalan. Muhsin tidak ikut masuk gua karena ia tidak tertarik memasuki gua tanpa headlamp. Headlamp kami terbatas, kami hanya memiliki dua headlamp dan satu senter bulat Onye. Kami pun memasuki gua, Yudha paling depan dan Nurul paling belakang. Gua wayang adalah gua yang pendek. Awal kami masuk, ada sisi diagonal yang bagus untuk difoto, sayangnya teknik kami dalam fotografi belum bisa menangkap keindahan sisi tersebut. Kami menurunin sisi diagonal tersebut hingga kami sampai pada ujung gua yaitu bagian yang ada ventilasi kecil di atas gua. Di gua ini, kami hanya menggunakan dua webbing. Webbing terakhir dipasang di anchor perunggu (Klasifikasi berdasarkan Muhsin, anchor perunggu adalah anchor yang mudah lepas bila di geser arah tarikannya, dalam peristiwa ini anchor akan copot bila ditarik ke atas).
Ketika setengah perjalanan di dalam gua, Sojo mengatakan bahwa ia ingin buang air besar. Tapi kami tetap melanjutkan perjalanan. Ternyata di akhir perjalanan, Sojo sudah tidak kuat lagi menahan dan akhirnya terciumlah bau yang kurang sedap. Kamipun segera ke mulut gua agar Sojo bisa melanjutkan urusannya yang sangat mendesak tesebut.
Kami kembali ke warung dan menunggu tim pertama yang menyelamatkan helm di gua jangkrik. Mereka kembali dengan pakaian kotor dan tubuh yang terlihat sangat kelelahan tapi mereka berhasil menyelamatkan helm dan headlamp saya. Kami istirahat sebentar dan kemudian berberes-beres karena mau berangkat ke sungai Citarum untuk membersihkan alat.
Kami tidak mengalami masalah dalam perjalanan ke sungai Citarum. Sebelum kami membersihkan alat di sungai Citarum. Kami mampir ke gua Sangyang Tikoro yang ada di hulu sungai Citarum. Dulu, gua tersebut dilalui air sungai Citarum yang deras, namun karena sungai Citarum sedang kering, kami bisa menjelajahinya.
Gua Sangyang Tikoro sangat besar. Sisi-sisi gua sangat kasar karena sering tergerus air deras. Sebelah kiri mulut gua ada jalur yang menembus ke luar gua. Kami jalan lurus dan menemukan bagian gua yang tergenang air. Bowo, Yoga dan Yudha terus berjalan sementara kami hanya melihat mereka yang makin lama tidak terlihat kemudian muncul lagi di bagian selanjutnya. Kamipun berbalik arah, kembali ke mulut gua. Beberapa dari kami mencoba melewati lorong lain yang agak berair dan menembus ke luar gua.
Setelah selesai menjelajahi gua dan berfoto-foto, kami kembali ke motor dan berangkat ke sungai Citarum dibalik pembangkit listrik Saguling. Kami melewati gua Sangyang Poek untuk mencapai bagian sungai yang ingin kami gunakan untuk membersihkan alat.
Setelah sampai, kami membersihkan alat-alat dan mengeringkannya. Setelah itu, kami berganti pakaian. Laki-laki tetap di tempat sementara perempuan ke gua Sangyang Poek untuk berganti pakaian. Kamipun selesai berganti pakaian dan kembali ke motor. Dalam perjalanan ke motor, Yudha tanpa sengaja memecahkan genteng saung warga dengan carriernya, namun kami tetep melanjutkan perjalanan. Ketika kami hampir mencapai motor, ada seorang penjaga PLTA Saguling yang berkata pada kami agar jika kami ingin parker motor, sebaiknya kami parker di PLTA Saguling agar lebih aman. Kemudian kami naik motor dan kembali ke ITB ;tapi Muhsin dan Yudha tidak langsung ke ITB, mereka mengurus keperluan tugas akhir Muhsin di PLTA Saguling.
Perjalanan dari sungai Citarum tidak ada masalah. Kami sampai di ITB sekitar jam delapan kemudian kami segera membersihkan jumar, krol, karabiner, MR, dan alat-alat lain yang berbahan besi. Kami juga menjemur tali di atas sel dan menggantungkan sling, webbing, padding, dll di depan sel. Esok harinya, kami membersihkan carrier yang terkena tumpahan shampoo Yudha, misting, dan alat masak lainnya. Berakhirlah rangkaian kegiatan yang kami lakukan dalam mengadakan perjalanan ke gua Jangkrik dan gua Wayang di Padalarang.

Rabu, 01 September 2010

Perjalanan ke Gunung Merapi




CATATAN PERJALANAN KE GUNUNG MERAPI – JOGJA
By nurul

Untuk mengisi liburan semester kemaren, beberapa anak mencetuskan ide untuk berjalan-jalan ke jogja. Kami pergi ke jogja pada tanggal 30 Juni 2010. Kami berangkat pada pukul 20.00 menggunakan kereta api. Anggota yang ikut dalam perjalanan berjumlah enam orang, yaitu fia, cahyo, ko andi, onye, usie dan saya sendiri, nurul. Kami sampai di Jogja kira-kira pukul tujuh pagi. Sesampainya di jogja kami langsung mencari untuk sarapan. Setelah itu, kami mencoba mencari dimanakah satu bumi (UGM) berada dengan bertanya dengan beberapa orang yang ada di jalan. Akhirnya, setelah naik busway kira-kira setengah jam, kami pun sampai di UGM. Seeampai di UGM kami langsung menanyakan keberadaan satu bumi.
Setelah sampai di sekre satu bumi, kami istirahat sejenak sambil ngobrol-ngobrol dengan anak-anak satu bumi. Setelah itu, kami semua dijamu dengan makan siang yang enak. Pada hari ini, kami tidak pergi kemana-mana, kecuali di malam harinya kami baru pergi ke alun-alun, pusat kota jogja, sebelumnya kami juga diajak main futsal oleh anak-anak satub.
Hari kedua, kami berencana untuk pergi naik gunung merapi. Rencana awal berangkat pukul dua siang, tetapi karena banyak yang ngaret kami baru berangkat pukul lima sore. Kami pergi menggunakan motor. Anggota yang ikut naik gunung merapi kira-kira ada enam belas orang. kami baru sampai di basecamp dekat gunung merapi sekitar pukul sembilan malam. Dari jogja ke tempat gunung merapi ini dibutuhkan kira-kira 3 jam, di tambah berhenti di jalan untuk makan dan solat, kira-kira total waktunya 4 jam.
Setelah beristirahat, sekitar pukul 10 malam, kami memulai perjalanan menuju puncak merapi. Di gunung merapi terdapat 2 pos. Pos pertama ditemui setelah kira-kira berjalan selama dua jam. Jalan menuju pos pertama tidaklah begitu sulit untuk ditempuh. Selanjutnya, menuju pos kedua, jalannya sudah agak curam. Untuk menuju ke pos kedua ini dibutuhkan waktu kira-kira 3 jam. Dari pos kedua menuju ke tempat ngecamp tidaklah begitu jauh lagi. Hanya perlu berjalan kira-kira setengah jam. Tempat campnya sangat luas. Pada saat itu, karena sedang weekend dan sedang musim liburan, banyak sekali orang yang naik gunung merapi dan ngecamp di tempat tersebut. kami sampai di tempat camp itu sekitar pukul 03.00 dan berencana naik ke puncak merapi pada pagi harinya.




Setelah beristirahat, kira-kira 3 jam, sekitar pukul 6 pagi kami mulai naik ke puncak merapi. Dari camp, puncak merapi dapat ditempuh hanya dalam satu jam. Setelah sampai di puncak, kami tidak lupa mengambil beberapa gambar untuk dokumentasi. Pemandangan di atas gunung merapi sangat lah indah. Dari atas sana, terlihat gunung merbabu dan gunung sindoro sumbing. Selanjutnya, setelah puas mengambil gambar lebih kurang selama satu jam, kami pun turun lagi.sesampainya di bawah, kami sarapan. Setelah kenyang, kami memacking semua baramg-barang dan bersiap untuk turun ke bawah lagi. Waktu yang dibutuhkan untuk turun gunung tidak selama naiknya, hanya dibutuhkan waktu selama dua jam. Sekitar pukul 2 siang kami sudah sampai di bawah.
Setelah sampai dibawah, kami beristirahat sejenak, kemudian kami melanjutkan perjalanan untuk kembali ke jogja. Sekitar pukul 5 sore kami sudah sampai kembali ke jogja. Pada malam harinya, kami diajak jalan-jalan di dalam kota jogja. Hari berikutnya kami berenacana pergi ke pantai siung, tetapi karena ada anggota yang harus balik ke banbung keesokan harinya, kami mengurungkan niat itu. Selanjutnya, keesokan harinya, kami kembali ke bandung. Perjalan ke jogja kali ini sangat seru.

Selasa, 31 Agustus 2010

Citatah 125, Padalarang





CATATAN PERJALANAN
GL-XIX SUBDIVISI ROCK CLIMBING

22 – 25 Mei 2010
CITATAH 125 M, PADALARANG, JAWA BARAT
Oleh :
Gabriel Efod Virant Pangkerego
Planologi 2009 / 15409034
No. Anggota : GM-013-XIX
KMPA Ganesha ITB

Hari itu adalah hari terakhir semester 2 dan menjelang Perjalanan Evaluasi Akhir Gladi Lanjut XIX Subdivisi Rock Climbing yang kami rencanakan pada pertengahan Juni 2010 menuju Tebing Uluwatu Bali. Kami GL-XIX Rock Climbing merencanakan latihan pemanjatan artificial di Tebing Citatah 125 m. Saya, Inda, Winda, dan Dian sudah merencanakan latihan ke sana Jumat, 21 Mei 2010 setelah pulang kuliah. Tapi karena satu dan lain hal, perjalanan hari itu diundur menjadi keesokan harinya pada Sabtu, 22 Mei 2010. Memang kesibukan masing-masing anggota GL selama ini adalah halangan bagi kami untuk latihan bersama-sama termasuk pada hari itu.
Keesokan harinya, Sabtu, 22 Mei 2010, kami merencanakan berangkat ke Citatah siang pukul 10-11an, namun karena kami harus belanja keperluan dan segala logistic makanan, kami harus ngaret sekitar 2-3 jam dari yang direncanakan. Akhirnya berbekal diri, kesenangan, dan kesiapan kami siap berangkat. Namun ada satu masalah sebelum berangkat. Mungkin sepele karena tidak ada yang mau mengangkat satu carier, Mas Sigit marah dan jalan kaki duluan, dan merembet ke Sani yang tidak memperdulikan kami. Disana selain kami berempat ada Sigit, Sani, dan Freden yang mendampingi kami. Akhirnya dengan ditinggal oleh Sigit dan Sani, kami pun berdoa dan jalan kaki ke pertigaan Grande Dago menyusul 2 kakak kami tersebut. Di sana kami menunggu bus Damri Leuwi Panjang-Dipati Ukur untuk kami tumpangi ke Leuwi Panjang. Setelah menikmati es krim durian, bus pun datang dan kami menumpang bus tersebut.
Dengan ongkos dua ribu hingga Leuwi Panjang, kami turun di terminal Leuwi Panjang dan berganti bus yang langsung menuju Padalarang. Saya lupa berapa ongkosnya, yang saya ingat hanyalah hampir semua dari kami tertidur dan tiba-tiba kami dibangunkan oleh Sigit dan Sani ketika sampai di Citatah.
Turun dari bus, awan sudah menunjukan senja di depan kami. Kami pun langsung melangkah ke atas, ke basecamp yang biasa menjadi tempat kami beristirahat. Sampai di basecamp kami langsung beberes tempat kami, membakar sarang semut merah yang mengganggu kami, dan mencari dahan-dahan untuk kami pakai sebagai api unggun malam harinya. Dan kemudian karena kami tidak bisa memulai pemanjataan saat itu, kami hanya menghabiskan waktu dengan ngobrol-ngobrol dan membantu teman kami, Budi yang mengurusi perlengkapan manjatnya.

Malam hari, karena saya ada urusan di kampus saya harus pergi kembali ke kampus, dan berjanji untuk kembali ke Citatah keesokan harinya bersama Inda. Inda berencana pulang dulu keesokan harinya karena harus survey acara KMK ke Ciater. Jam 10 malam saya kembali ke Bandung menggunakan bus yang sama seperti keberangkatan. Malam hari saya sampai di kos, dan membereskan tugas akhir Teknik Presentasi dan Komunikasi (Tekpres) Planologi, tugas yang sangat penting untuk saya kerjakan. Dan malam itu saya tidak tidur untuk menyelesaikannya.
Minggu, 23 Mei 2010, saya ke kampus untuk mengurusi acara SATU dari fakultas saya SAPPK. Kami mengundang anak-anak panti asuhan, ini adalah bentuk bakti sosial kami kepada masyarakat. Saya di acara tersebut berperan sebagai stage manager. Di tempat lain, Winda dan Inda juga kembali ke Bandung. Acara SATU baru selesai sore menjelang malam hari, dan saya belum menyelesaikan tugas Tekpres walaupun sudah tidur malam sebelumnya. Sebelumnya saya tidak ingin ikut menggabungkan tugas Tekpres itu, karena ini adalah tugas kelompok jadi perlu disatukan. Namun karena saya adalah ketua kelompoknya, jadi saya merasa saya harus ikut, akhirnya saya menghubungi Inda untuk bilang kalau saya tidak bisa kembali hari itu ke Citatah. Ternyata Inda juga baru balik dari Ciater dan berencana baru Senin akan kembali ke Citatah karena di kecapaian. Akhirnya kami berdua merencanakan kemabali ke Citatah hari Senin malam. Dan saya kembali berkutat dengan tugas Tekpres, tidak tidur menyelesaikan tugas. Saya dan teman sekelompok Tekpres non-stop mengerjakan tugas dari jam 8 malam hari Minggu hingga jam 2 siang hari Senin. Setelah itu langsung mengumpulkan tugas kami ke kampus jam 3 siang. Setelah itu, saya baru tidur di CC Barat setelah 2 hari tidak tidur hingga malam harinya.
Malam harinya, saya baru terbangun dan terkejutkan noleh telpon dari Inda yang meminta saya segera ke sel. Akhirnya saya ke sel langsung segera ditelpon. Ternyata di sana ada Inda dan Winda, dan Inda menceritakan kepada kami bahwa ia kesal dengan Mas Sigit yang katanya marah kepadanya. Segera kami bertiga langsung sms Freden yang masih ada di Citatah bahwa kami akan berangkat malam itu juga ke Citatah. Kami mencoba menghubungi Jesica untuk mengajak ia ikut ke Citatah bersama kami, dan belanja makanan untuk kami santap hingga keesokan harinya. Namun Jesica tidak bisa dihubungi. Langsung pukul 19.30 kami berangkat ke Citatah naik mobil Winda. Selama satu jam kira-kira kami sampai di Citatah, dan di sepanjang perjalanan kami bertiga berbincang tentang masalah di GL XIX RC.
Sesampai di Citatah dan sesampai di basecamp, kami menunggu Freden. Freden datang dan menyuruh kami ke bawah tebing untuk ngobrol-ngobrol. Kami berempat berbincang sebelum akhirnya Bli Bayu pun dating bergabung dengan kami. Tampak dari wajahnya bahwa Freden kesal kepada kami, dia kesal kepada saya dan Inda yang ingkar janji bahwa akan datang hari sebelumnya. Setelah kami berbicara panjang lebar, bahwa kami tidak datang karena alasan yang kuat, akhirnya dia bisa mengerti. Kami juga membicarakan secara terbuka masalah-masalah di GL angkatan kami. Dia meminta kami untuk tetap semangat untuk latihan RC.
Saat itu saya sangat capai karena belum tidur selama 2 malam. Akhirnya kami membuat jadwal kegiatan untuk keesokan harinya, yaitu bangun jam setengah 6 pagi langsung olahraga, Freden mengajari saya teknik pemasangan alat di tebing sampai pukul 10 pagi, dan dilanjutkan dengan pemanjatan. Namun mala mini saya diharuskan tidur agar segar keesokan harinya.
Selasa, 25 Mei 2010, pukul 05.30 pagi, kami bangun dengan terpaksa karena masih ngantuk. Kami langsung olahraga pagi keliling desa. Setelah olahraga, Inda dan Winda membuat sarapan untuk kami, sedangkan saya diajari secara privat oleh Freden tentang pemasangan alat. Saya diajari privat hari itu karena selama ini saya tidak ikut latihan-latihan RC karena kesibukan lain. Setelah belajar pemasangan alat, yang sempat ada insiden saya dan Freden jatuh 2 meter dan berguling-guling di tanah, kami melanjutkan dengan pemasangan alat dengan artificial secara horizontal. Setelah selesai hingga pukul 10 pagi kami makan siang. Ternyata Freden masih memberi saya PR untuk melakukan artificial hingga goa 25 meter secara vertikal. Saat itu badan saya sangat lemas mungkin karena kecapaian hari-hari sebelumnya, namun saya paksakan saja. Lalu saya naik vertikal dengan susah payah setinggi 25 meter hingga goa. Treamor saya kambuh dengan parah, saya sempat bilang ke Freden kalau saya sangat tidak yakin bisa ngetop hari itu karena kondisi fisik saya yang lemah. Namun saya terus disemangati oleh Freden, dan mengurungkan niat saya itu. Sesampai di goa ternyata saya masih harus memanjat seperti ninja di Cimenei, awalnya saya ragu apalagi setelah Freden bilang Dian pernah jatuh di sana. Tapi setelah nekat mencobanya, dan bisa, saya tidak percaya saya bisa naik hingga di step kedua setelah Cimenei, dan dari sana kami berdua rapling hingga ke bawah.
Sesampai di bawah kami dibriefing oleh Freden dan ormed jalur ke puncak. Sebelumnya saya sudah bilang ke Inda dan Winda kalau saya tidak yakin bisa ngetop saat itu, apalagi saya sudah lemas, mengantuk , dan treamor saya sedang parah-parahnya. Saya menanyakan apakah bisa diundur hingga keesokan harinya. Mereka mengerti kondisi saya, namun karena saya merasa tidak enak kalau tidak ngetop saat itu apalagi mereka sedang semangat-semangatnya, kami terus lanjut dengan posisi saya sebagai jumarer yang hanya membawa logistic saat memanjat.



Pemanjatan dimulai pukul setengah tiga sore, dengan estimasi waktu 21/2 samapai 3 jam hingga puncak. Dibuka dengan doa oleh Winda dan mohon doa dari Bli Bayu, kami memulai pemanjatan setelah goa 25 meter. Diawali dengan pemanjatan ninja oleh Winda sebagai leader di Cimenei, lalu saya sebagai jumarer dengan teknik SRT, dan terakhir Inda sebagai cleaner. Sesampai di atas kami diberikan pemandangan indah Padalarang dari atas yang sayangnya ditutupi oleh pabrik-pabrik kapur. Namun tak lama kami di sana, kami harus melanjutkan pemanjatan hingga ke puncak. Selama pemanjatan kami sebagai tim lebih santai dan tidak terburu-buru, karena kondisi saya yang kelelahan dan capai sekali. Bahkan saking kecapaiannya saya sempat tertidur ketika menunggu Winda sang leader yang sempat ormed di atas.
Ketika di bawah, kami dibriefing oleh Freden, dan diberikan teknis pemanjatan, yaitu: hingga pitch terakhir leader adalah Winda, cleaner Inda, dan saya sebagai jumarer. Namun setelah pitch terakhir setinggi 20 meter hingga puncak, leader adalah saya, dan Winda atau Inda diberikan kebebasan. Namun karena selama pemanjatan saya dan teman-teman melihat kondisi saya yang tidak begitu baik, saya meminta kepada mereka agar leader terakhir jangan saya. Dan mereka menyanggupi walau saya merasa tidak enak. Sekitar pukul 17.00 sore kami tiba di pitch terakhir, dimana dari sana kami bisa memanggil Bli Bayu dan Freden yang terlihat sangat jauh di bawah dekat mobil Winda.
Di pitch terakhir, 20 meter dari puncak kami sudah bisa melihat puncak dari sana, dan tebing yang sudah menantang kami di depan. Setelah itu, Winda dan Inda meyakinkan saya bahwa saya pasti bisa melead mereka berdua. Sebenarnya saya sudah mengatakan kalau saya tidak sanggup, namun karena semangat dari mereka berdua sungguh meyakinkan saya yang lemah ini. Dan diputuskan saya akan menjadi leader, dengan cleaner Winda, dan Inda sebagai jumarer. Ketika kami duduk bersama bertiga untuk berganti perlengkapan, kami sempat mengobrol banyak. Kami merasa senang dapat memanjat puncak Citatah 125 m bertiga, karena selama ini kami tidak pernah pergi bertiga, dan kami merasa sangat senang dan tersemangatkan apabila kami bertiga berkumpul dan latihan bersama. Apalagi ini adalah latihan pertama kami dapat bertiga bersama, setelah 2 bulan tidak latihan karena kesibukan masing-masing. Jadi kami sangat senang waktu itu.
Pukul 17.30 kami memulai pemanjatan di pitch terakhir hingga puncak. Semula tidak ada hambatan yang berarti dan saya masih merasa kuat untuk melanjutkan pemanjatan 20 meter terakhir. Apalagi Freden, Bli Bayu, Enda, istri Mang Enda, dan Budi sudah terlihat memanggil-manggil kmai dari atas.
Setelah 3/5 tambatan (saya lupa) kondisi masih terang dan jalur masih mudah dilewati. Namun setelah itu, tiba-tiba suasana Citatah menjadi gelap mendadak karena menjelang magrib. Jalur sudah gelap, saya tidak bisa melihaty jalur yang ada, bahkan Freden membantu penerangan dengan senter yang dia bawa. Memang satu safety procedure ini terlupakan oleh kami sebab estimasi waktu kami selesai pukul jam 17.00. Seharusnya saat itu saya berhenti sejenak, namun entah mengapa safety procedure kembali saya lupakan. Saya memasang tambatan paku phyton agar lebih kuat. Setelah gelap itu, saya sempat memasang dua phyton di tebing dan saya merasa yakin akan kuat menahan kami. Lalu saya kesulitan di satu titik dimana tidak ada pegangan yang dapat saya raih. Saya cukup lama di sana, sekitar 5-10 menit mencari jalur yang cukup mudah untuk kami lewati. Saya sempat bertanya kepada Freden, “Bang lewat mana nih? Susah banget?” “Sudah pot, lanjut aja ke atas! Ayo cepat!” begitu kata Bang Freden. Namun apa daya, saya mencari dan tidak ketemu pegangan apapun. Di saat itu saya sungguh merasa capai dan ngantuk sekali, bahkan treamor saya kembali kambuh dengan parahnya. Akhirnya, “Bang, istirahat dulu ya?” kata saya dan diiyakan oleh Bang Freden. Akhirnya saya memberi kode kepada Winda belayer saya. Dan saya melepaskan pegangan untuk nantinya tertambat di phyton saya.
Setelah itu saya mengalami blank selama kurang lebih 5-10 detik. Rupanya saya jatuh saat itu, phyton saya copot dua. Katanya saya selama 3 detik jatuh dan 2 kali menabrak dinding dengan keras. Saat itu saya mengalami blank, namun setelah itu saya sadar kembali. Saya merasa kalau saya dipull oleh Winda hingga kaki saya menyentuh tanah. Namun entah mengapa, saya merasa tidak kuat dan langsung jatuh. Saya tidak merasa sakit apa-apa, bahkan saya sadar 100%. Saya melihat Winda dan Inda yang terdiam, mereka menyenter-nyenter ke arah saya dengan muka takut mereka, saya ingat senior-senior saya turun mengevakuasi saya, diajak ngobrol oleh mereka dan saya berusaha dengan susah payah menjawab mereka, bahkan pengalaman terburuk saya, saya alami saat itu. Saya sadar ketika saya kejang-kejang. Badan saya gerak-gerak sendiri, namun saya tidak dapat menghentikannya. Bahkan sampai Enda yang waktu itu ada di sebelah saya berkata astagfirullah saya ingat, namun saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya sadar hingga saya diangkat dievakuasi ke atas, namun sayangnya setelah itu saya tidak sadarkan diri. Saya baru sadar ketika saya terbangun di ruang ICU rumah sakit dengan anak-anak KMPA ramai di sebelah saya, ada dokter berbaju tentara, dan kedua orang tua saya.
Rupanya saya dievakuasi ke rumah sakit Cahya Kawaluyan Padalarang. Saya mengalami pendarahan kepala sehingga kepala saya berisi sepertiga darah, dan mesti dioperasi saat itu juga, katanya kalo telat satu jam mungkin saya akan meninggal. Selain itu paha saya juga robek dan tulang selangka saya patah hingga sekarang.
Namun pelajaran yang saya ambil, saya akan terus bersama KMPA dan tidak akan pergi, seperti yang teman-teman saya tanyakan pada saya, “Pot, kok lo masih mau ikut KMPA?” Namun justru saya semakin merasa bersalah, tidak enak, dan berhutang budi oleh keluarga saya KMPA. Bila tidak ada mereka yang menyelamatkan dan membantu saya, pasti saya tidak dapat bersama mereka lagi sekarang.
Selain itu tidak lupa, jangan melupakan safety procedure yang ada! Kalo merasa tidak yakin lebih baik jangan anda lakukan karena akan membahayakan diri anda dan teman-teman yang bersama anda. Dari pengalaman ini saya dapat belajar banyak, dan juga teman-teman saya. Sayangnya saya tidak dapat berkontribusi banyak di perjalanan evaluasi akhir bersama teman-teman GL XIX RC saya ke Gunung Kelud. Saya sungguh kecewa, dan saya bertekad cepat sembuh dan jalan-jalan bersama mereka lagi. Untuk perjalanan akhir ini, saya tetap bertekad membantu sepenuh hati, karena saya adalah tanggung jawab mereka, dan mereka adalah tanggung jawab saya. Teman-teman adalah obat untuk segalanya.
Citatah 125 m, Padalarang, 25 Mei 2010

Bandung, 31 Agustus 2010
Gabriel Efod Virant Pangkerego
GM-013-XIX

Rock Climbing di Kelud





Sebagai anggota muda KMPA 'G' ITB, kami diwajibkan untuk membuat perjalanan akhir untuk divisi kami masing - masing. Saya dan teman - teman dari divisi Rock Climbing memutuskan untuk melakukan perjalanan ke tebing Sumbing, Gunung Kelud. Saya pun ditunjuk untuk menjadi ketua perjalanan dan koordinator lapangan untuk perjalanan ini. Setelah rangkaian latihan, perisapan logistik, dan presentasi di depan massa KMPA yang rumit, akhirnya tim Kelud saya diijinkan berangkat ke Kelud.

Tim kelud terdiri dari saya (first commander), Inda (second commander), dian, azka, mas sigit, tetu, bayu, dan affan.

Kami berangkat tanggal 12 juli 2010 dari ITB pukul 17.15 . Kami naik angkot Sadang Serang Caringin ke stasiun hall Bandung. Dari stasiun hall bandung kami naik kereta patas menuju stasiun padalarang (pk.17.45). Untuk menuju Kediri kami menggunakan kereta ekonomi Kahuripan. Stasiun keberangkatan pertama Kereta Kahuripan adalah stasiun padalarang. Jadi supaya mendapat kursi lebih baik dari stasiun pertamanya. Namanya juga kereta ekonomi.

Pukul 18.15 kami sampai di padalarang. Kereta kahuripan berangkat pukul 20.00, maka kami punya waktu hampir 2 jam untuk leha - leha di stasiun. Kami berjalan menuju kereta kahuripan yang berada di jalur tiga kalau tidak salah. Ternyata ada kereta pengangkut barang di jalur dua. Karena malas memutar, saya naik ke atas kereta di jalur dua dengan maksud untuk menyeberang. Sampai di atas kereta tiba - tiba carrier 22 kilo saya terjepit di badan kereta dan railing tangga yang saya lalui. Saya pun tidak dapat bergerak di atas kereta. Tiba - tiba sang kereta mulai bergerak dan saya sangat panik. Saya pun segera melepaskan carrier saya yang masih terjepit di badan kereta. Setelah itu saya berhasil melepaskan sang carrier yang terjepit dan segera melemparkannya dari atas kereta tanpa pikir panjang. Padahal di dalam tas saya ada kamera dslr saya, tapi saya sudah sangat panik karena kereta sudah jalan. Carrier saya yang terjatuh segera diselamatkan teman saya sebelum terlindas kereta. Saya pun segera melompat ala James Bond dari kereta yang bergerak. Sudah seperti di film - film laga saja. Akhirnya saya dan carrier saya selamat dan tidak ikut si kereta menuju entah kemana. Saya pun menjadi lelucon tim selama karena kebodohan saya.

Kereta Kahuripan berangkat dari stasiun padalarang pk 20.00. Saya makan malam di kereta dengan menu nasi ayam goreng dengan harga 5000 rupiah saja. Kereta kahuripan segera penuh setelah melewati stasiun kiara condong. Orang - orang berdiri berhimpitan. Panas, pengap, bau keringat, dan bau pesing menjadi teman tidur yang sangat tidak menyenangkan. Ditambah lagi dengan bantalan kursi yang makin lama makin tipis karena terlalu lama diduduki. Alhasil saya pun jadi tidak nyenyak.

Lewat dari Yogyakarta kereta menjadi sepi, saya pun berjalan - jalan menyusuri gerbong kereta dan duduk di pintu samping kereta, menikmati angin dan pemandangan sawah. Setelah puas menonoton pemandangan dari pintu kereta, saya pun mencari kursi yang kosong, lalu tidur dengan nyenyak.

Kami sampai di kediri pukul 14.00. kami langsung dijemput oleh mas Ari dan Mas Zen dari FPTI (forum Pemanjat Tebing Indonesia) naik mobil charteran (Grand Max yang super besar). Kami belanja sayuran dulu di pasar Kediri. Saya dan beberapa teman tidak ikut belanja ke dalam pasar. Saya pun beli es degan yang segar dan dingin untuk melonggarkan tenggorokkan yang rasanya sudah merenges. Secepat kilat mata saya melihat tukang bakso yang menggoda iman (baksonya, bukan yang jualnya). Saya pun langsung membeli sepuluh buah bakso sekaligus. Sudah kelaparan sepertinya.

Setelah kelar membeli sayuran, kami melanjutkan perjalanan ke Gunung Kelud. Rute yang kami pilih adalah Kediri lalu ke Wates lalu ke Ngancar lalu ke Kelud. Sebelum ke Wates kami menyempatkan diri untuk bertemu Pak Mumun, anggota FPTI yang lain dan tentu saja kami menyempatkan diri membeli tahu Kediri yang terkenal. Perjalanan di kaki gunung kelud kurang bersahabat. Kabut yang luar biasa dan jalan yang berkelok membuat saya agak takut. Lihat kiri, lihat kanan cuman putih saja warnanya. Udara segar sudah terasa sejak dari kaki gunung kelud.

Akhirnya kami tiba di parkiran wisata Gunung Kelud. Saya pun berkenalan dengan Pak Tomo salah satu penjaga Gunung Kelud. Fyi, pertama kali melihat Pak Tomo saya sempat takut, soalnya Pak Tomo tinggi besar dan berkumis tebal (read:sexy). Hahaha. Ternyata Pak Tomo sangat ramah dan baik. Kami pun menuju lokasi base camp dekat tebing Sumbing. Base camp tidak begitu jauh dari parkiran. Kami melewati terowongan sepanjang kurang lebih 50 meter yang sangat gelap dan menyeramkan. Aura mistis pun ditambah dengan adanya tempat bertapa di dalam terowongan ini yang dipenuhi oleh kelelawar. Yah bolehlah buat yang lagi galau buat merenung sama kotoran kalong. Haha.

Pertama kali melihat tebing sumbing, saya sangat kagum sekaligus jiper. Tebing setinggi 200 meter ini berdiri kokoh di hadapan saya, menunjukkan kegagahannya dengan bentukan yang sangat unik. Saya tidak bisa berhenti terpana melihat tebing sumbing. Adrenalin saya terpacu begitu kuat, tidak sabar rasanya mencicipi batu - batu andesit ini bersentuhan dengan telapak tangan saya.



Kami segera mendirikan camp karena sudah mulai berkabut. Orientasi medan pun saya batalkan karena kabut cukup tebal dan hujan mulai turun. Mas Ari pun menyampaikan beberapa petuah - petuah etika bersikap di gunung kelud ini, seperti jangan buang air di daerah antara base camp dan tebing, melainkan ke daerah di belakang base camp, dan saat buang air jangan menghadap ke tebing. Mitosnya tempat antara camp dan tebing merupakan 'dapur'-nya jin dan makhluk gaib lainnya. Pukul 20.30 kami makan malam ayam ungkep dan tumis kangkung. Luar biasa nikmat apalagi ditemani kopi pahit khas Mas Sigit dan lagu lapangan (read: shaggy dog). Malam pertama di kelud kami disambut dengan angin kencang yang membuat malam menjadi sangat dingin.

Pagi di Gunung Kelud membuat saya tidak ingin keluar dari sleeping bag. Tapi demi kelancaran teklap saya pun sedikit demi sedikit sleeping bag dan keluar dari tenda. Hawa dingin pagi kelud segera menyeruak masuk ke dalam pernapasan saya. Saya dan beberapa anggota tim pun melakukan ormed ke tebing sumbing untuk mencari kira - kira bagian mana yang bisa dijadikan jalur sport. Jarak camp ke tebing tidak begitu jauh. Medan yang ditempuh adalah kumpulan tumbuhan pendek khas daerah dingin. Golok pun mulai beraksi menunjukkan taringnya menebas ranting - ranting yang menghalangi.

Setelah makan pagi, tim panjat (saya dan inda) segera menyiapkan alat untuk artifisial di bagian tebing yang kami pilih. Inda sebagai leader pertama mengalami kesulitan karena medan yang berat. Pemanjatan artifisial dilanjutkan setelah makan siang dengan saya sebagai leader kedua. Setelah mencapai ketinggian yang diinginkan saya pun memasang tambatan untuk tali statis. Karena semua tambatan adalah pengaman sisip maka saya memasang 5 tambatan. Dua untuk tambatan utama tali statis dan tiga lagi sebagai back up. Safety prosedur tetap nomor satu untuk saya. Saya pun memulai pengeboran pertama. Karena hari sudah sore maka pengeboran dihentikan pukul 17.15. Inda sebagai partner sejati pembuat jalur saya sakit flu hari ini. Mungkin karena kondisi tubuh yang kelelahan memang rentan terhadap penyakit ini. Malam kedua di gunung kelud ini sangat indah. Langit bertaburan bintang dan bulan yang malu - malu menampakkan dirinya. Saya pun rebahan di api unggun menatap langit. Beberapa kali saya melihat bintang jatuh dan mengucapkan beberapa permintaan. Walaupun sepertinya permintaan yang saya sebutkan sama semua. Yahhh jadi curcol kan.

Hari ketiga di gunung kelud berlangsung seperti teklap. Cuaca seperti mengerti briefing yang saya berikan tadi malam. Pengeboran pun selesai pukul 17.00. Pengeboran dilakukan oleh saya dan Inda. Empat hanger telah terpasang kuat pada masing - masing lubang yang telah dibuat seperti mengundang para pemanjat untuk menembus jalur ini. Malam ketiga kali ini tidak kalah indahnya dengan malam sebelumnya. Taburan bintang seolah tidak berhenti menghibur saya yang kelelahan setelah seharian tergantung di harness mengebor tebing yang begitu kokoh. Perih di telapak tangan, pegal di sekujur badan, dan otot leher yang ketarik seolah hilang oleh hiburan alam damai yang begitu indah. Saya merasa sangat tenang. Melihat langit, merasakan tiap udara yang masuk ke paru - paru saya. Saya merasa seperti anak kecil.


Pagi di hari keempat di gunung Kelud tidak seperti biasanya. Hari ini saya bangun lebih pagi (pk 05.00). Saya mengambil kamera saya dan berjalan menuju gardu pandang yang berada di selatan base camp. Jalan menuju gardu pandang sangat menyakitkan. Sekitar 600 anak tangga harus dilalui untuk mencapai gardu pandang. Sampai gemetaran kaki saya. Hahaha. Tapi semua itu terbayar dengan keindahan alam yang disajikan dari ketinggian ini. Jejeran tebing - tebing gunung kelud (tebing sumbing dan tebing gajah mungkur, serta satu tebing yang belum terjamah) mengelilingi kubah lava yang berisi sang anak gunung. Matahari pagi pun menyusup perlahan diantara tebing dan asap kawah. Pemandangan yang belum pernah saya saksikan sebelumnya. Kamera saya pun tidak berhenti mengedipkan diafragma lensanya, mengijinkan cahaya pagi masuk dan memberikan citra yang begitu megah.

Setelah turun dari gardu pandang, saya pun mempersiapkan diri dan peralatan untuk menjadi pemanjat pertama yang memanjat di jalur yang saya buat. Setelah berhasil menembus jalur untuk pertama kali saya pun mendapat hak untuk memberi nama jalur itu. Saya melihat jalur tersebut, dan saya menemukan keunikan pada jalur tersebut. Jalur tersebut menyerupai seekor kuda dan batuan pada jalur tersebut berwarna merah. Setelah mengkonsultasikannya pada tim saya, maka diputuskan nama jalur tersebut adalah Red Stallion. Saya suka nama ini.

Setelah selesai beres - beres camp kami pun menuju parkiran menunggu shuttle bus yang akan mengantar kami ke stasiun. Kami pun mandi di toilet parkiran dengan air yang sangat dingin. Jam 12.00 kami pun naik ke shuttle bus yang telah menunggu. Shuttle bus yang super ngebut ini membuat saya terguling- guling di dalam mobil. Sampai di stasiun pukul 14.00, kami pun nongkrong dan menegak kopi hangat di salah satu tempat makan di stasiun. Kerata Kahuripan arah Bandung berangkat pukul 15.00. yahh, saya pun kembali duduk berjam - jam di dalam kereta yang panas. Tapi saya sangat senang, red stallion menjadi hadiah jalur sport baru buat KMPA.

Tegal Panjang



Tegal panjang, the secret sabanna
July 20, 2010 by windabanyuradja

Pikiran saya masih agak kacau dengan kejadian kecelakaan yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Begitu pula dengan beberapa teman saya. Jadi untuk menghilangkan kepenatan kami memutuskan untuk jalan – jalan ke tegal panjang. Memang tegal panjang ini belum begitu terkenal di antara pecinta alam – pecinta alam maupun wisatawan. Akses tempat ini pun masih sulit.
Saya berangkat hari jumat, 4 juni 2010. Kami memulai perjalanan pukul 09.00, dari itb kami naik angkot jurusan dago-kalapa sampai ke terminal kalapa. Tiba di kalapa pukul 09.45. Lalu kami pun mulai menunggu bus yang arah pangalengan. Silakan tanya saja kepada orang sekitar dimana tempat paling yahuud untuk nunggu bus ini. Karena nunggunya ga di terminal. Karena menunggu bus pangalengan ini cukup lama, jadi kami beli es cendol dulu serta berteduh di depan rumah kosong, karena waktu itu hari hujan. Akhirnya bus pun datang kira – kira pukul 10.30.
Kami tiba di pangalengan pukul 16.00. Kami pun carter angkot ke arah desa cibatarua. Kami harus carter karena sudah tidak ada angkot jam segitu ke arah cibatarua. Yasudah kami pun naik mobil carteran. Ternyata jalan ke desa Cibatarua ini ajegilebinbuset juga yah. Jalan tersebut rusak parah, dan shockbreaker angkot yang ‘yah gmana lagi’, membuat pantat saya terasa lecet – lecet. Saat di dalam angkot, Mas Sigit (senior saya) menyetel lagu shaggy dog. Sungguh mengena tiap lirik lagu jalan-jalan dari shaggy dog. Dan sejujurnya, sambil membuat catatan perjalanan ini saya memutar lagu itu kembali. Hahaha.
Tiba di cibatarua jam 18.30, senior saya pun menemui Kang Maman untuk menginap di rumah beliau. Ternyata beliau belum pulang. Kita pun diterima oleh istrinya. Kita pun masak di dapur rumah Kang Maman. Malamnya Kang Maman pulang dan kita pun beramah tamah.
Besok pagi kami berangkat pukul 10.00 menuju tegal panjang. Dari cibatarua kami melewati desa papandayan. Lalu dari desa papandayan kami melewati perkebunan teh. Seluas mata memandang saya hanya melihat tanaman teh yang hijau dan menyegarkan mata. Setelah itu kami melewati ladang penduduk. Masyarakat daerah ini sangat ramah. Setelah melewati ladang, kami mulai memasukki daerah hutan yang cukup lebat kira – kira pukul 11.00. Untuk mencapai tegal panjang kami harus masuk ke dalam hutan dan melewati tiga punggungan dan tiga sungai kecil. Setelah 1 jam berjalan ternyata kami salah jalan alias nyasar. Cobaan dari sang mahaalam pun datang, hujan deras mengguyur kami di tengah hutan. Kami pun memutuskan untuk menuju sungai dan memasang flysheet sebagai tenda darurat untuk berteduh. Beberapa anggota tim ada yang memasak makan siang, dan beberapa anggota lain pergi mencari jalan. Jujur saya cukup panik karena jarum jam saya telah menunjukkan jam 14.00. sedangkan kami belum baru melewati satu punggungan. Anggota tim yang mencari jalan kembali dan menyampaikan kabar yang tidak begitu baik. Mereka tidak menemukan jalur pendakian. Daerah ini memang jarang didaki dan belum terkenal. Sehingga dengan cepat tanaman – tanaman hutan akan memakan jalur pendakian. Setelah hujan reda kami pun memutuskan untuk kembali ke ladang penduduk untuk bermalam di sana. Namun dalam perjalanan pulang kami bertemu dua pemburu yang kebetulan ingin berburu di tegal panjang. Maklum, tegal panjang masih sangat alami, kita dapat menemukan berbagai jenis satwa seperti monyet, burung, babi hutan, rusa, sampai kucing hutan atau macan kumbang. Kami pun berangkat bersama pemburu tersebut ke tegal panjang.





Perlu dicatat, sungai pertama yang dilewati mengalir dari kiri ke kanan, arusnya cukup deras, dan lebar sungai kira- kira 2,5 meter. Tepat setelah sungai pertama terdapat tanjakan lurus kira – kira sejauh 15 meter. Sungai kedua adalah sungai rawa berlumpur. Dan sungai ketiga adalah sungai yang tidak begitu besar. Tegal panjang berada di punggungan setelah sungai ketiga.
Matahari sudah tenggelam dan tidak lagi ada cahaya di dalam hutan. Kami pun mengeluarkan senter masing – masing. Ingat pergerakkan malam sangat tidak dianjurkan. Setelah perjalanan yang melelahkan di tengah kerumunan tumbuhan berduri di dalam hutan, tibalah kami di tegal panjang. Sabanna luas yang dikelilingi punggungan dan gunung. Rumput – rumput setinggi paha melambai – lambai ditiup angin lembahan memantulkan cahaya bulan yang berjaya. Padang rumput yang begitu luas diikuti oleh bentukan alam berupa cekungan sedalam 6 meter yang meliuk – liuk seperti ular raksasa.
Kami segera mendirikan tenda dan mencari kayu bakar untuk mengeringkan badan yang basah karena hujan dan keringat. Tegal panjang sangat dingin karena angin bebas berkeliaran menusuk masuk ke camp.
Pagi perdana di tegal panjang tidak akan saya sia – siakan. Saya bangun jam 05.30. Kehangat sleeping bag segera berganti dengan dingin embun rumput yang membuat ujung- ujung kaki saya mati rasa. Saya segera mengambil kamera dan memotret sunrise tegal panjang.
Kabut – kabut menyelimuti barisan punggungan yang mengelilingi tegal panjang. Matahari pun muncul seolah – olah menunjukkan kejantanannya pada para pendaki yang merindukan kehangatannya. Setelah makan pagi, saya pun jalan – jalan ke tengah padang rumput yang seolah tak bertepi. Celana saya basah karena embun ilalang yang menyapu setiap langkah kaki saya. Di tegal panjang ini terdapat kubah air sedalam 5 meter yang tidak pernah kering. Air dari kubah air ini sangat dingin.
Rumput di tegal panjang kali ini sudah setinggi paha karena saya datang pada bulan – bulan penghujan. Sebagai informasi, rumput di tegal panjang secara berkala akan dibakar warga untuk mencegah kebakaran hutan. Biasanya warga membakar rumput tersebut di awal musim kemarau. Jadi waktu yang paling tepat untuk mengunjungi tegal panjang adalah akhir musim kemarau, karena rumput – rumput baru tumbuh setinggi betis.
Tegal panjang memang tempat yang tepat untuk bermalas-malasan. Saya dan teman – teman KMPA bermain kartu, bermain monopoli, dan main bola gebok. Malam hari kedua cuaca sangat bersahabat. Langit malam begitu cerah tanpa awan. Bintang dan bulan berlomba menerangi malam hari ini.
Pagi hari ini seperti hari sebelumnya, cerah dan berkabut. Setelah puas berfoto – foto. Kamu pun berangkat pulang menuju desa cibatarua lewat jalan pergi sebelumnya. Sebenarnya dari tegal panjang kita dapat pulang melewati pondok selada, Gunung Papandayan. Tapi KTP saya kemarin ditahan oleh Pak RT Cibatarua. Dari cibatarua kita dapat naik truk pengangkut daun teh untuk sampai ke Sedep. Dari sedep kita dapat naik pick up menuju Pangalengan. Dari pangalengan kita naik angkutan umum langsung ke Bandung tepatnya ke Tega lega. Dari Tegalega kita bisa naik angkot Cisitu menuju ITB.
Begitulah perjalanan saya kali ini. Tegal Panjang, i will come back someday.