Sabtu, 28 Agustus 2010

Simulasi di Tegal Panjang





Hari 1

Sebagai rangkaian persiapan dalam ekspedisi Alas Purwo, GL GH mengadakan simulasi. Simulasi diadakan di daerah sekitar Tegal Panjang. Tim yang berangkat yaitu Putra, Budi, Bainul, dan Fanka didampingi Andi. Johan kemungkinan menyusul. Simulasi ini diketuai Putra.

Kami berangkat dari sel jam 15:30 pada Rabu tanggal 14 Juli 2010. Dari ITB kami naik angkot Cisitu-Tegalega yang ke arah Tegalega. Kami turun di Tegalega. Dari Tegalega kami naik elf ke arah Pengalengan. Total biayanya sekitar Rp 20.000.

Mungkin karena hujan, aku tertidur hampir sepanjang perjalanan dari Tegalega-Pengalengan. Sekitar pukul 18:00 kami tiba di depan pintu gerbang kebun Malabar. Sebenarnya elf yang kami tumpangi ga nyampai ke situ, namun kami membayar lebih.

Begitu kami tiba kami langsung cari makan. Kebetulan ada warung buka di pasar kecil yang berada di deket pintu gerbang kebun. Warung itu jual ayam goreng dan sepertinya hampir habis. Untungnya cukup buat kami berlima. Setelah itu kami sempat kepikiran buat mendirikan tenda. Namun setelah bertanya ke satpam, kami boleh memakai pos yang sudah ga dipakai lagi.

Hari 2

Pagi-pagi sekali kami dibangunkan oleh satpam. Kulihat jam dan ternyata sudah pukul 5 pagi. Seperti kata satpam, tujuan kita ialah ke Cibutarua dan untuk ke sana kami harus numpang truk yang mengangkut teh.

Sebelum berangkat, kami makan di tempat yang berjarak 4 kios dari tempat makan kemarin malam. Di situ jual nasi dengan berbagai lauk. Jam masih pagi dan makanan masih terlihat hangat dan lezat. Kemudian kami segera berdiri di deket pos sambil menunggu truk yang lewat.

Banyak sebenarnya truk yang lewat tapi kebanyakan mereka membawa pekerja atau hasil kebun. Kami lama menunggu dan kami tak kunjung dapat transport. Aku jelas udah capek menunggu. Memang transport perjalanan kali ini kurang mendapat perhatian. Dan akhirnya dengan sedikit bantuan dari satpam kami akhirnya bisa berangkat menggunakan pickup.

Sekitar jam 10:30 kami sampai di Cibutarua. Kami jalan sebentar hingga akhirnya menemukan sebuah musholla kecil. Kami mengambil air dan segera melakukan ormed. Target kami ialah terus ke arah tenggara dari tempat kami berada hingga akhirnya sampai lembah sebelum kawah Domas.

Kami pun jalan melewati perkebunan teh di kanan-kiri kami. Posisi segera ditetapkan, Aku dan Putra berposisi sebagai navigator, Fanka merangkap tim jamur dan dokumentasi, Bainul seperti biasa menjadi porter.

Kami terus jalan sampai akhirnya jalan setapak habis dan kami pun menemukan jamur pertama kami. Aku melihat jalan setapak. Aku dan Putra mengecek jalan itu. Setelah beberapa jauh, aku dan Putra kembali dan memutuskan untuk membawa tim menyelusuri jalan itu.

Hari sudah sangat sore. Aku sudah sangat kelelahan dan persediaan airpun menipis. Untungnya kami menemukan selang-selang air di kanan kiri kami. Selang air kelihatan sudah dibolongi sama yang lainnya. Kami mengambil ambil air di situ.
Kami terus jalan dan pukul 17:30 kami tiba di deket kawah. Aku ga yakin apa betul itu target kami, namun setidaknya tempat itu sangat nyaman untuk mendirikan camp. Kami kemudian bertemu dengan temen-temen dari HIMPALA yang sedang mengadakan diklatsar. Kami nge-camp bergerombol bersama mereka.

Hari 3

Setelah bersiap-siap dan sarapan, pukul 9 pagi kami melanjutkan perjalanan. Target kami hari ini ialah Tegal Panjang sambil mengoleksi jamur di sepanjang perjalanan. Formasi tetap sama seperti kemarin. Di sepanjang jalan ini kami menemukan banyak sekali jamur hingga botol yang kami bawa tidak mencukupi.

Kami terus jalan ke utara dan kami semakin jarang menemukan jamur. Jamur yang kami temukan warnanya dan bentukanya bermacam-macam, ada yang bewarna merah, kuning dan ada pula yang hidup menempel pada pepohonan. Sekitar pukul 13:30 kami sampai di padang yang luas.

Awalnya kami tak yakin apakah kami sudah sampai di Tegal Panjang. Namun tanda-tanda menunjukkan seperti itu dan akhirnya kami bisa istirahat dengan tenang. Tegal Panjang merupakan padang rumput yang luas yang dikelilingi hutan-hutan. Ada bekas aliran sungai besar di tengah-tengahnya. Setelah puas berfoto-foto, kami mendirikan camp di tempat yang agak tinggi sehingga kami bisa menatap bentangan tegal panjang.

Hari mulai gelap. Tim DU kami, Fanka, mulai masak dan bintang pun satu per satu mewujudkan dirinya. Beberapa saat selepas magrib, Johan ditemani Cahyo dan Yoga menampakkan wajahnya.

Selepas makan makanan kami plus sate ayam yang dibawa tim susulan, kami duduk ngumpul-ngumpul di api unggun yang membesar. Evaluasi, briefing keesokan harinya, dan ngobrol sampai malam tak bisa diajak bersahabat lagi. Sebelum tidur aku sempat berpuisi sebentar di hadapan bintang-bintang malam itu.



Hari 4

Karena rasa penasaran, kami memutuskan untuk ke Tegal Mariuk. Yoga dan Cahyo tetap di camp Tegal Panjang. Aku, Putra, Johan, Fanka, Bainul, dan Andi berangkat ke Tegal Mariuk. Pukul 10 pagi kami meninggalkan camp Tegal Panjang.

Kami jalan ke arah timur laut dengan posisi awal, aku sebagai perintis; Putra sebagai navigator; Fanka tetap sebagai tim jamur; Johan dan Bainul sebagai porter. Beberapa saat kemudian Aku dan Johan bertukar posisi. Dan pada akhirnya Bainul sebagai perintis; aku sebagai navigator; Johan dan Putra sebagai porter. Pukul 13:00 kami tiba di Tegal Mariuk.

Tegal Mariuk itu seperti Tegal Panjang hanya lebih sempit. Kami istirahat siang di situ sebelum akhirnya hujan melanda. Kami memutuskan balik ke camp Tegal Panjang namun tidak lewat jalan yang tadi pagi. Kami lewati jalan setapak yang sudah ada sambil berhujan-hujan.

Sore jam 4 kami tiba lagi di Tegal Panjang. Cuacanya sudah cerah lagi. Namun beberapa saat menjelang magrib hujan turun lagi. Kecuali DU, semua orang bersembunyi di dalam tenda. Begitu kami makan, hujan rintik-rintik masih turun. Sampai kami selesai makan, hujan belum berhenti. Kami akhirnya memutuskan evaluasi dan briefing di dalam tenda dan dilanjutkan tidur. Hujan dan angin masih ribut di luar tenda.

Hari 5

Pagi masih dalam suasana berkabut. Kami bangun lalu bersiap-siap untuk balik ke Bandung. Sekitar pukul 9 pagi kami meninggalkan camp Tegal Panjang. Kami jalan ke arah barat agak selatan untuk tiba di Cibutarua. Kami tiba di situ pukul 12:00 dan menunggu truk yang lewat.

Karena harus menjemput adiknya, Putra harus segera pulang. Namun truk gratis tak kunjung lewat. Ketika Putra mulai berjalan untuk memanggil truk yang bayar, truk yang gratis pun lewat. Tanpa pikir panjang kami langsung naik walaupun kami harus menginjak-nginjak pisang yang memenuhi lantai bak truk.

Sekitar pukul 3 sore kami tiba lagi di Pengalengan. Kami sempet mencicipi susu Pengalengan sebelum akhirnya naik elf lagi ke Bandung. Pukul 17:30 kami tiba di Tegalega. Akhirnya beberapa saat menjelang isyak, kami tiba di sel dengan selamat.

(GM-001-XIX)

Latihan SAR & P2 @Sanggara





Catatan Perjalanan Latihan P2+SAR di Sanggara
Oleh Johan Santoso
Peserta: Bainul, Idham, Johan, Hasti
Pemateri: Andy, Affan, Gustaf
Hari I Jumat, 4 Juni 2010
Pada hari Kamis 3 Juni 2010 peserta perjalanan berkumpul di rumah Bainul (markas GH). Kami membicarakan perjalanan besok dan juga proposal XPDC Alas Purwo Ganesha 2010. Setelah mantap, kami pulang ke rumah masing-masing. Besoknya kami kumpul di SEL jam 8 untuk packing logistic. Sekitar jam 11 logistik selesai dipacking masuk ke carrier masing-masing. (Terima kasih buat Idham+Bainul sebagai porter). Jam 11.00 semua peserta kumpul dan barang sudah siap dibawa. Setelah briefing singkat pukul 11.30 kami berangkat dari SEL setelah dilepas beberapa anggota KMPA lainnya.
Karena peserta latihan kali ini hanya 7 orang kami memutuskan untuk berangkat dengan angkot ngeteng. Perjalanan dimulai menggunakan angkot Caheum Ledeng sampai terminal Ledeng dengan ongkos tiga ribu rupiah. Setelah itu dilanjutkan dengan angkot Ledeng-Lembang sampai pasar Lembang seharga tiga ribu rupiah lagi. Ditutup dengan angkot Lembang-Patrol seharga lima ribu rupiah.
Jam 2 siang kami sampai di Patrol. Sayangnya hujan turun. Kamipun berjalan ke Gunung Sanggara di bawah guyuran hujan deras. Dari Patrol kami berjalan terus sampai desa Pangheotan jam 4 sore. Di sana kami beristirahat di warung dan beberapa teman kami menunaikan ibadah shalat di Masjid. Di warung yang berdekatan dengan tambak ikan yang sering dijadikan tempat pemancingan, kami menambah logistic makanan kami. Tiga ekor ikan dan sekantung kerupuk dibeli oleh Gustaf dan Andy. Pukul 16.30 kami melanjutkan perjalanan menuju Gunung Sanggara. Melewati sebuah desa dan kebun-kebun akhirnya kami tiba di camp pukul 18.00.
Tim pun segera bergerak mendirikan camp, mencari kayu bakar, dan memasak. Sayangnya tenda yang kami bawa ternyata rusak. Alhasil tenda yang sudah susah payah kami bawa hanya dijadikan tempat meletakkan tas dan beberapa logistic lainnya, sedangkan kami tidur di Fly Sheet. Setelah tenda dan fly sheet berdiri kokoh serta api pun menyala, kami pun memasak dan duduk di sekitar api yang hangat bersama.
Menu malam itu sangatlah mewah. Tumis kangkung, tumis tahu, dan tentunya tiga ekor ikan bakar hasil eksperimen Gustaf dan Idham, tak lupa taburan kerupuk. Kami semua makan dengan lahap di atas beberapa lembar daun pisang. Otol
Selesai makan, acara dilanjutkan dengan evaluasi dan briefing untuk materi besok. Setelah ngobrol-ngobrol di sekitar api, kami semua masuk ke fly sheet untuk tidur dan beristirahat.

Hari II Sabtu, 5 Juni 2010
Sesuai briefing pada hari pertama, kami semua bangun pukul 05.30. Seperti biasa Hasti dengan suaranya yang seperti alarm membangunkan kami tanpa perasaan. Kami pun (terpaksa) bangun dan langsung pergi ke sungai untuk mencuci nesting dan mengambil air untuk keperluan Dapur Umum.
Selesai sarapan dan beres-beres logistic keperluan latihan SAR, kami semua berkumpul untuk briefing dan pemanasan. Hari itu kami (akhirnya) siap tepat waktu. Pukul 8 kurang kami sudah siap dengan pakaian lapangan dan sebuah tas keperluan logistic. Dua buah botol air minum berukuran @1,5 L, dua buah tali webbing, sebuah kotak P3K, biscuit makan siang, dan dua buah ponco siap dibawa oleh porter kami Idham.
Latihan SAR kali ini dikondisikan bahwa korban hilang di sekitar Gunung Sanggara. Kamipun diharusnkan untuk menyisir seluruh karpak tersebut. Kami memutuskan untuk menggunakan metode potong kompas. Sebelum memulai operasi SAR, kami melakukan orientasi medan untuk menentukan titik awal operasi. Setelah itu kami langsung berangkat ke titik tersebut dan memulai operasi SAR kami. Tim diketuai oleh Johan. Kami langsung bergerak menuju utara. Lembahan dan punggungan kami susuri untuk mencari korban. Tidak peduli ada halangan apapun di depan mata, dengan senjata sebilah golok tebas kami tetap melanjutkan perjalanan ke utara. Sekitar satu jam perjalanan, kami tiba di sebuah punggungan panjang kearah utara. Kami pun mendapat kabar dari base camp bahwa ditemukan tanda-tanda korban di punggungan tersebut. Kami pun bergerak dengan metode susur punggungan. Kami menyusuri punggunan tersebut dengan jarak masing-masing anggota tim sekitar 3 meter. Beberapa tanda kehidupan dari korban pun kami temukan seperti adanya stream line, bekas camp, dan jejak lainnya. Tak lama, kami mendengar suara dari korban (baca: Affan) di pinggir punggungan. Timpun bergegas menuju arah korban untuk menolongnya.
Kami pun segera memindahkan korban ke tempat yang aman. Setelah itu tim dibagi, Idham dan Hasti memberikan pertolongan pertama ke korban sedangkan Johan dan Bainul membuat tandu untuk mobilisasi korban. Korban dikondisikan menderita patah tulang paha dan memar di tangan. Setelah korban berhasil distabilkan, kami pun pergi ke base camp dengan panduan bainul dan Hasti yang mencari jalur evakuasi menuju base camp. Tapi kali ini korban diganti dengan beberapa balok kayu yang didapat selama perjalanan untuk digunakan sebagai kayu bakar. Sayangnya, kami sempat tersesat karena salah mengambil punggungan. Kami pun melakukan ormed. Akhirnya dengan susah payah pada pukul 14.30 siang kami tiba di base camp dengan selamat.
Di camp kami melakukan evaluasi terhadap materi yang baru saja di simulasikan. Evaluasi yang didapatkan ialah penanganan korban masih kurang baik. Setelah itu acara dilanjutkan dengan acara bebas. Beberapa dari kami tidur siang di fly sheet. Sisanya berusaha menghidupkan api dan memasak. Makanan kami sore itu adalah Nasi Hainam dan kerupuk buatan Andy. Setelah makan, beberapa dari kami pergi untuk mencuci nesting, mengambil air dan mencari kayu bakar karena api yang sudah dibuat mulai membesar sehingga kayu mulai habis.
Malam harinya kami memasak bersama di sekitar api unggun yang sangat besar yang sudah dibuat dari sore tadi. Tapi sayangnya sebelum makanan kami matang, hujan turun. Kami pun segera pindah ke fly sheet dan api ditutupi dengan daun pisang sisa makan tadi sore. Untungnya setelah kami selesai masak, hujan berhenti. Kami pun segera keluar dari fly sheet dan melanjutkan masak. Beberapa dari kami menghidupkan kembali api yang sudah mati. Tidak lama kemudian, makan malam siap. Kami pun makan bersama di atas daun pisang yang sudah diambil sejak sore. Setelah makan kami melanjutkan dengan evaluasi dan briefing untuk besok. Sesuai kesepakatan, sesuai dengan kaidah komunikasi radio, pada simulasi SAR kedua, kami mengganti nama tim kami dari SRU I menjadi tim Rider dan base camp menjadi Fiesta. Setelah itu kami berbincang-bincang sejenak lalu beristirahat di fly sheet di bawah guyuran hujan yang kembali turun.



Hari III Minggu, 6 Juni 2010
Seperti biasa kami bangun pukul 5.30. Kami berberes-beres, mengambil air, mencuci nesting, memasak, menyiapkan logistic SAR, dan membereskan logistic lainnya karena sore nanti kami akan pulang ke desa.
Sayangnya hari ini kami terlambat. Jam 9 kurang kami baru siap berangkat. Kami pun melakukan briefing singkat dan pemanasan. Perjalanan dilanjutkan dengan metode susur sungai karena tanda-tanda korban ditemukan di sekitar sungai yang mengarah ke utara. Komandan tim pertama adalah Bainul. Kami langsung bergerak menuju titik awal pencarian. Dari situ kami pun menyusuri sungai di bawah komando Bainul. Beberapa tanda sepert kaos kaki ditemukan selama pencarian. Setelah satu jam pencarian komando diambil alih oleh Idham. Pencarian berlangsung dengan lancar, sampai kami menemukan sebuah jeram besar. Kami pun memutuskan untuk menyusuri punggungan sampai jeram tersebut berakhir. Komando diserahkan ke Hasti. Kami melanjutkan susur sungai. Hujan turun dengan lebat. Tidak lama, kami menemukan sebuah jas hujan milik korban di sungai. Tidak jauh dari penemuan jas hujan tersebut, kami menemukan korban tergeletak di pinggir sungai. Kami pun langsung bergerak menemui korban dan memberikan pertolongan pertama. Johan dan Hasti bertanggung jawab memberikan pertolongan pertama. Sedangkan Idham Bainul melakukan pekerjaan lainnya dan mencari jalur evakuasi. Kali ini korban (baca: Andy) tidak sadarkan diri. Setelah berhasil disadarkan, ternyata korban mengalami hipotermia dan patah tulang tangan. Kami pun segera menstabilkan kondisi korban. Kami mengganti bajunya dengan baju Johan yang masih kering dan menyanggan tangannya dengan bidai. Kami pun melanjutkan pertolongan pertama. Namun korban kembali tak sadarkan diri dan detak jantungnya berhenti. Kamipun segera memberikan RJP kepadanya. Untungnya korban berhasil kami selamatkan. Kami pun memobilisasi korban dengan cara memapahnya.
Setelah itu kami langsung bergerak menuju base camp. Kami bergerak cepat karena medan yang sudah diketahui. Sayangnya kami (lagi-lagi) salah mengambil punggungan dan melewati jalur kemarin. Untungnya kemarin kami sudah membuka jalur yang enak sehingga kami bisa dengan leluasa melewati jalur tersebut. Kami tiba di camp pukul 14.30 dan isitirahat makan siang serta evaluasi di bawah fly sheet karena hujan mengguyur kami. Evaluasi tim hari itu ialah, tim yang kurang teliti mencari tanda-tanda serta pergerakan tim harus berasal dari komando ketua tim. Setelah itu kami langsung menyiapkan logistic karena kami akan segera menuju desa Patrol untuk pulang.
Pukul 3.30 sore kami berangkat dari camp ke desa. Kami mempercepat langkah kami untuk mengejar angkot. Sayangnya angkot yang kami kejar ternyata sudah tidak ada. Maka kami mampir di Desa Sukalayu untuk beristirahat di warung setempat. Pukul enam sore kami melanjutkan perjalanan ke desa Patrol. Sejam kemudian kami tiba di Patrol. Setelah beristirahat sejenak dang anti baju, kami memasak di depan warung yang sudah tutup. Kami pun makan malam di atas daun pisang yang kami ambil dari kebun warga. Setelah itu kami pun tidur di depan warung yang tutup tersebut setelah meminta izin ke empunya warung,
Hari IV Senin, 7 Juni 2010
Kami bangun di pagi hari pukul 6 pagi. Setelah menghangatkan diri di api yang dibuatkan oleh warga sekitar, kami berangkat menuju Lembang menggunakan angkot yang sudah stand by dari pukul 5 tadi.
Kami berhenti di pasar Lembang dan bergerak menuju warung nasi kuning untuk makan pagi. Setelah kenyang sarapan, kami melanjutkan perjalanan ke terminal Ledeng. Dari terminal ledeng, dilanjutkan dengan angkot Caheum Ledeng menuju SEL.
Tiba di SEL pukul 7 pagi, kami langsung melakukan evaluasi. Setelah itu kami membereskan logistic yang kami gunakan selama latihan. Sekitar pukul 10 kami selesai dan pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat.

GM-012-XIX
Subdivisi Gunung Hutan

Peserta latihan + Affan
Mencari jejak korban
Evakuasi korban

Pendakian Semeru





Hari 1

Berawal dari ekspedisi ke Alas Purwo yang kami batalkan, aku, Idham, Fanka, Hasti, Bainul,
dan Johan memutuskan untuk muncak ke Semeru. Segala persiapan menjadi serba dadakan. Senin
pagi tanggal 26 Juli 2010 kami semua segera memberesi masalah perwalian yang kemungkinan
kami ga bisa mengikutinya.
Sesuai jadwal, Senin sore kami berangkat. Kabar buruk datang detik-detik sebelum
keberangkatan, Bainul ga bisa mengikuti perjalanan kali ini. Pukul 17.15 aku, Idham, Fanka,
Hasti, Andi, dan Johan meninggalkan sel. Kami naik angkot Cisitu-Tegalega dan turun di Stasiun
Hall.
Pukul 18.30 kami naik kereta ke arah Stasiun Padalarang. Pukul 19.30 kami tiba di Stasiun
Padalarang. Pukul 20.15 kereta Kahuripan yang kami tumpangi memulai perjalanan panjang ke
stasiun Kediri. Stasiun Hall Bandung kami lewati begitu saja. Seperti biasa kereta ekonomi
seperti Kahuripan jarang berhenti di stasiun utama, paling-paling berhenti di stasiun-stasiun kecil.
Kereta Kahuripan berhenti di Stasiun Kiara Condong. Di sini pula si Cahyo naik bawa nasi
goreng. Makan malam tiba!
Kereta yang tadinya sepi tiba-tiba saja menjadi serame pasar. Penumpang berdesakan gak karuan.
Fanka, Cahyo, Hasti duduk satu kursi, Idham dan Johan duduk satu kursi pula. Mereka saling
berhadapan. Aku dan Andi membentuk kelompok sendiri di kursi di belakang mereka.
Perjalanan ke Kediri benar-benar panjang dan agak membosankan. Kami sepakat membeli TTS
buat mengisi kebosanan. Dan ternyata ada bapak-bapak yang jago benar ngisi TTS. Dia duduk
di depan Andi dan selalu bisa menjawab TTS. Kelihatannya dia memang sudah punya banyak
pengalaman. Konon dia bersama lima temannya yang berasal dari berbagai daerah pernah
bekerjasama hanya untuk mengisi TTS.
Hari 2
Pagi datang dan Kahuripan belum juga tiba di Kediri. Sawah-sawah tetep aja ada di samping rel
kereta. Aku dan Andi beli nasi dengan lauk ayam.
Sekitar jam 10:00 kereta berhenti cukup lama di Madiun. Padahal kalau menurut jadwal, kereta
harusnya tiba di Kediri jam 11:00. Kami duduk-duduk dulu di peron sambil minum es dawet
yang seger.
Dan ternyata seperti biasa juga kereta telat dan baru nyampe Kediri jam 14:00. Begitu nyampe
di Kediri kami langusng beli tiket kereta Doho tujuan Malang untuk keberangkatan 14:15.
Dan seperti biasanya kereta itu juga telat. Jam 15:30 kami baru berangkat. Sepanjang perjalanan
Andi dan Cahyo duduk berkelompok sendiri; Hasti duduk sendirian kursi agak depan; Aku,
Fanka, Idham, Johan main kartu di kursi agak belakang sampai akhirnya, "J#nc#k!!!"
Permainan berhenti. Kami mulai ngobrol dengan agak berbisik dan ada bapak-bapak agak tua
duduk di samping Idham. Bapak itu banyak bercerita tentang dirinya dan masa lalunya. Dia dulu pernah ke Timor Leste waktu keadaan memanas. Lalu dia juga banyak mentraktir kami makanan
yang di jual oleh pedagang-pedagang kereta.
Walaupun lokomotif sempat mengalami gangguan sehingga kereta harus terhenti hampir sejam,
kami akhirnya tiba dengan selamat di Malang jam 21:00. Kami langsung menuju ke sekretariat
IMPALA Universitas Brawijaya.
Setibanya di IMPALA, Cahyo tidak bisa ikut ke Semeru dan dia pergi ke rumah neneknya.
Sisanya menginap di sekretariat IMPALA. Sebelum tidur kami semua disarankan untuk cuci kaki.
Ritual cuci kaki ini bukan untuk alasan kesehatan, tapi jaga-jaga saja biar ga ditemui sesosok
wanita cantik yang telah lama ikut mendiami sekretariat IMPALA.



Hari 3
Rabu pagi tanggal 28 kami semua mempersiapkan diri. Logistik yang belum ada segera kami
lengkapi. Agak siangan kami semua membuat surat keterangan sehat di puskesmas yang ada di
sekitar Unbraw (aku lupa namanya). Yang jelas dari gerbang belakang Unbraw yang deket jalan
MT Haryono naik sekitar 300 m, sebelum pertigaan belok ke kanan.
Setelah persiapan beres, pukul 13:00 kami mulai perjalanan menuju puncak Semeru. Awalnya
kami naik angkot ADL yang ke arah Arjosari. Begitu tiba di Arjosari perjalanan dilanjutkan
menggunakan angkot AT dan kemudian turun di pasar Tumpang. Jalan menuju Tumpang agak
sedikit terhambat gara-gara ada Calon Bupati yang sedang kampanye.
Perjalanan harus dilanjutkan dengan menggunakan jip menuju Ranu Pane. Karena sopir jip tak
mau berangkat kecuali ada 15 orang. Terpaksa kami menunggu sambil menikmati parade Bupati
yang lagi kampanye. Sampai magrib ternyata kami masih diam di tempat. Idham, aku, Hasti
shalat magrib di masjid deket pasar Tumpang. Seusai shalat Idham tanya ke satpam masjid
tentang alternatif pergi ke ranu pane. Ternyata selain jip kita bisa naik truk. Tapi truk itu
berangkatnya pagi-pagi sekali sekitar sehabis subuh.
Kami akhirnya tahu juga bahwa ada orang yang sangat baik sekali namanya Pak Rusno. Kami
memutuskan untuk tidur di rumahnya. Rumahnya terletak di sebelah utara pasar Tumpang dan
agak masuk gang ke arah timur. Belakangan aku tahu dari tetanggaku bahwa rumah Pak Rusno
ternyata “pos” yang cukup populer jika mau pergi ke Semeru.
Hari 4
Sesuai informasi, kami berangkat dari Tumpang pagi-pagi sekali, naik truk yang mau ke Ranu
Pane. Dan ternyata pak Rusno adalah sopir truk yang ke Ranu Pane. Perjalanan ke Ranu Pane
benar-benar lama dan medannya terus nanjak dan nanjak terus. Suatu waktu truk rasanya hampir
tergelincir ke belakang. Kami juga diminta untuk berkumpul di bak paling belakang untuk
menjaga truk biar ga tergelincir. Namun semua itu ditebus oleh pemandangan sepanjang jalan
yang memang wah. Hijau pohon-pohon bener-bener menyejukkan mata.
Sekitar pukul 08.30 kami sampai di Ranu Pane. Kami yang dari subuh tadi belum makan
apapun kecuali gorengan langsung menuju warung yang ada di deket pos Ranu Pane. Tempegoreng plus sayur lodeh pun memuaskan kelaparan kami di tengah hawa yang dingin. Dan benar
apa kata seorang penjual gorengan yang kebetulan satu truk dengan kami, ternyata makan di
Ranu Pane ini teramat mahal. Nasi, tempe dan sayur lodeh berharga Rp 10.000. Wow!!
Setelah urusan perut beres, urusan administrasi segera kami selesaikan. Setiap orang diharuskan
memiliki surat keterangan sehat lalu membayar bea sekitar Rp 15.000. Di dinding sempat kubaca
nama-nama korban meninggal di gunung Semeru. Ternyata banyak juga ya.
Setelah melakukan pemanasan, pukul 10.00 kami memulai pendakian. Target kami hari ini ialah
sampai Kalimati, pos terakhir sebelum sampai puncak. Tapi ternyata itu cuma “isu”. Setelah
melewati jalanan berpaving selama 2 plus 1 jam jalanan tak berpaving; berhenti setiap 1 jam di
pos-pos kecil, ditemani pemandangan yang benar-benar memanjakan mata, kami akhirnya sampai
di Ranu Kumbolo, pos kedua setelah Ranu Pane.
Kami istirahat siang, duduk, masak sambil memandangi Ranu Kumbolo. Danau biru kehijauan,
dikelilingi perbukitan, dengan langit biru dan mentari yang bersinar cerah. Kami terbius.
Akhirnya Idham, sang ketua perjalanan, memutuskan untuk mendirikan camp di Ranu Kumbolo.
Rame sekali di Ranu Kumbolo. Banyak orang dari mana-mana. Kami mendirikan kamp dalam
shelter yang telah ada. Kami bertetangga dengan dua orang Jember, Rio dan Asa. Rio
mengingatkan kami pada Yasir yang gendut, tapi kegendutan Rio ternyata mengalahkan
kegendutan Yasir.
Di Ranu Kumbolo, ada yang namanya “tanjakan cinta”. Alkisah jika anda naik tanjakan itu;
anda memikirkan orang yang anda cintai; lalu anda naik terus tanpa sekalipun menoleh ke
belakang ataupun berhenti; maka dialah cinta sejati anda.
Hari 5
Malam kemarin yang dingin juga masih terus berlanjut hingga kesokan paginya. Yang mau
wudhu buat sholat subuh jadi berpikir dua kali. Tapi mau ga mau ya harus “nyemplung” ke
Ranu Kumbolo.
Setelah bersiap-siap, masak, sarapan plus foto-foto, kami siap berangkat. Target kami hari ini
jelas, sampai Kalimati. Sebenarnya sempet terpikir untuk mencapai Arcopodo, tapi di sana
ternyata ga ada sumber air. Dan jarum jam menunjuk pukul 09:00 ketika kami mulai jalan.
“Tanjakan cinta” kami naiki dengan pelan-pelan dan santai. Kulihat Fanka dan Hasti serius pisan
naiknya. Idham pun sudah tak terhitung berapa kali ia berhenti dan menoleh ke belakang.
Setelah tanjakan cinta, ada Oro-oro Rombo menanti. Padang ilalang membentang sepanjang
penglihatan kami. Dan tinggi ilalang melebihi tinggi badan kami. Setelah itu kami memasuki
hutan lagi.
Beberapa ratus meter sebelum tiba di Kalimati, kami berpapasan dengan para kakek-kakek
beserta para porter mereka. Kakek-kakek itu konon dulu punya klub adventrue, dan kini mereka
sedang bereuni ria. Kami sempet foto-foto bareng mereka berlatarbelakangkan puncak Semeru.
Setelah 4 jalan kami tiba di Kalimati. Suasananya kering. Ilalang tumbuh tak begitu tinggi, ada
bekas aliran lahar, ada banyak edelweiss, dan angin bertiup sangat kencang.
Setelah memilih lokasi yang pas buat nge-camp, para pria mendirikan camp sementara para gadis
ditemani mas mengambil air. Para pria selesai mendirikan tenda … dan ternyata Fanka, Hasti
dan mas … belum juga balik. Ternyata lokasi sumber air berjarak 2-3 kilometer dari camp. Aku
dan Idham sempet merasakan ketika kami mendapat giliran ambil air.
Sore kami mulai masak buat makan karena kami berencana tidur lebih awal dan bangun pukul
00:00 untuk mulai jalan ke puncak beserta rombongan yang lain. Makin menuju malan udara
makin dingin. Minuman yang baru mendidih pun jadi tak terasa panas lagi. Kami sempat
diingatkan untuk tidak minum minuman yang baru mendidih biar bibir kami ga pecah-pecah.
Kami semua spontan langsung memakai segala jenis pakaian yang kami bawa. Aku sendiri
memakai baju lapis 4, kaos-kemeja-jaket-anorak (diurutkan dari dalam). Dan begitu kami selesai
makan, kami langsung menutup tenda rapat dan menyelimuti tubuh dengan sleeping bag masingmasing.
Hari 6
Pukul 00:00 kami semua bangun, siap-siap mendaki. Namun ternyata Idham ga jadi ikut muncak.
Aku ga tahu apa karena kedinginan, sol sepatu yang lepas sejak dari Ranu Kumbolo, atau
menjaga camp. Yang jelas rasanya ga enak mendaki tanpa dipimpin ketua rombongan.
Sebenarnya kami agak telat karena ternyata rombongan kakek-kakek udah berangkat duluan.
Kami segera menyusul. Begitu memasuki hutan entah mengapa aku kesulitan bernafas. Apa aku
sakit, atau efek ketinggian yang membuat udara tipis, atau pepohonan yang terus memproduksi
karbon dioksida. Kami berhenti cukup lama di Arcopodo. Melepas lelah sambil menatap jutaan
bintang yang menghiasi angkasa malam. Indah dan baru kali ini aku melihat langit malam
seperti ini.
Setelah dirasa cukup perjalanan dilanjutkan kembali. Kami akhirnya sampai di Cemoro Tunggal,
batas vegetasi. Kami menatap hamparan pasir yang terus meninggi. Di sanalah puncak yang
kami tuju.
Kami mulai mendaki. Terlihat sudah ada beberapa orang di atas. Rombongan kakek-kakek tidak
lanjut. Dan kulihat masih banyak lagi yang ada di bawah.
Perjalanan ke puncak benar-benar tak mudah. Jika salah mengambil langkah, kaki tergelincir dan
pasir pun jatuh ke bawah. Sangat disarankan menghormati pendaki lain dengan tidak menjatuhkan
pasir atau kerikil ke bawah. Dan di tengah perjalanan ke puncak kudengar peribahasa baru,
“Deket di mata, jauh di kaki”
Kami berangkat pukul 00:00 karena kami ingin melihat sunrise dari puncak. Namun sayang
sekali ternyata metahari sudah terbit ketika kami beberapa meter lagi menuju puncak. Walaupun
begitu, tetap saja begitu kami sampai puncak, kami tetap senang, bangga, dan bersyukur. Dari
puncak tertinggi Jawa, kami melihat tanah Indonesia.
Dari puncak semua terasa wah. Ada batu penghormatan buat Idhan Lubis dan Soe Hok Gie.
Angin bertiup sangat kencang. Dan kami mencoba mengunyah coklat yang sepertinya sudah
berubah menjadi batu. Setelah puas merasa dan foto-foto, kami langsung turun.
Turun pun ga mudah kelihatannya. Namun setidaknya perjalanan turun ga secapek perjalanan
naik. Dan kata beberapa orang, turun seperti berselancar di atas pasir.
2 jam kemudian, kami sampai di camp yang dijaga Idham. Kami istirahat bentar dan kemudian
langusng packing dan balik lagi menuju Ranu Pane. Perjalanan balik benar-benar cepat. Pukul
11:00 kami meninggalkan Kalimati. Pukul 13:30 kami sampai di Ranu Kumbolo. Dan akhirnya
pukul 18:30 kami sampai di Ranu Pane.
Begitu tiba di Ranu Pane kami kira Pak Rusno sudah meninggalkan kami. Namun ia masih setia
dan menunggu sampai malam. Pukul 21:00 kami tiba di Tumpang. Lagi-lagi kami tidur di
rumah pak Rusno.
Hari 7
Keesokan paginya kami langsung berkemas. Awalnya kami berniat untuk beli sarapan, eh ga
taunya sudah dimasakkan sama istrinya pak Rusno. Jadinya kami langsung menyantap telor
dadar, mie goreng bikinan bu Rusno.
Sekitar pukul 08:00 ada sopir angkot yang menjemput kami. Pak Rusno sengaja memanggil dia.
Kami pun langsung sepakat untuk menggunakan jasa sopir angkot untuk kembali ke Malang.
Dan anehnya jalanan kota Malang justru sepi ketika hari Minggu.
Sesaat sebelum sampai di Unibraw, Idham dan Johan turun deket stasiun untuk pesen tiket buat
pulang ke Bandung nanti Sore. Yang pulang ke Bandung pada sore itu adalah Johan, Idham,
Hasti, dan Andi. Aku dan Fanka pulang pada hari-hari berikutnya.
Begitu sampai di IMPALA Unibraw, aku langsung pergi ke Mojokerto, menyambangi rumah.
Hari 8
Keesokan paginya aku balik lagi ke IMPALA Unibraw untuk mengambil carier yang
kutinggalkan dan sekaligus balik ke Bandung dari Malang. Dan ga taunya ada Fanka sama
Cahyo yang ke Surabaya, aku numpang mereka sampai Stasiun Gubeng. Aku balik ke Bandung
dari stasiun itu.
Perjalanan ke puncak Semeru meninggalkan kenangan dalam pikiranku. Ternyata alam Indonesia
memang benar-benar indah. Ternyata Indonesia ini memang pantas diperjuangkan. Ternyata ada
orang seperti pak Rusno yang rela membantu tanpa mengharap pamrih. Ternyata ada orang
seperti bapak di kereta yang malah menyuruh anak perempuannya untuk mengajar di tempat yang
sangat pelosok yang lebih membutuhkan daripada sekadar mengajar di kota. Jaya terus Indonesia,
semoga kau menjadi negeri yang hebat. (GM-001-XIX)
KMPA. Ganesha!!!



Catatan Perjalanan Navigasi Tertutup GL GH XIX
Waktu : 23 – 28 Mai 2010
Tempat : Gunung Sanggara, hingga sungai citereup

Peserta : Idam, Hasti, Johan, Fanka, Putra, dan Bainul “kadal”.
Pendamping : Andi, Hery, Cahyo, Gian
Hari 1
Awalnya, kami anggota subdiv GH, gw (idam), Hasti, Johan, Fanka, Putra, dan Bainul berencana mengadakan latihan navigasi tertutup selama 5 hari di daerah Gunung Sanggara. Ini merupakan latihan navigasi tertutup pertama kami setelah dilantik menjadi anggota muda KMPA Ganesha ITB. Latihan ini kami adakan untuk mempersiapkan mental dan fisik kami menghadapi XPDC yang rencananya akan dilaksanakan beberapa bulan mendatang.
Rencana awal kami pergi jam 11 siang tapi dikarenakan persiapan logistik dan makanan yang belum maksimal akhirnya kami baru berangkat jam 1 siang, saat berangkat kami cuma ber-6, cahyo gian heri putra karena berbagai hal rencananya menyusul. Kami ber-6 mencarter angkot dari gerbang belakang ITB sampai tugu bukit unggul lalu diteruskan jalan kaki sampai kamp panitia pas AA di sanggara. Di perjalanan, kami sempat nyasar dulu sampai ketemu jalan buntu lalu kami memutuskan balik menyari persimpangan jalan dan akhirnya sampai d kamp jam stengah tujuh, berbarengan dengan kedatangan kak Gian yang menyusul kami ke kamp, dan selang berapa waktu datang Cahyo. Malamnya diadakan evaluasi keberangkatan dan pembagian tim untuk navigsi besok dan dilanjutkan dengan makan makan dengan sate sosis dari kak Gian di api unggun, dan saat sedang sibuk makan terjadilah “tragedy kadal mencari cinta bainul”, yang demi kebaikan sang kadal sengaja tidak disebarluaskan.
Hari 2
Matri navigasi tertutup di mulai, dengan pembagian tim, navigator adalah Hasti Fanka, penebas Johan, dan porter Idam Putra Bainul. Sebelum memulai navigasi kami terlebih dahulu tracking ke puncak sanggara, Sebelum berangkat kak Gian izin balik ke Bandung karena ada keperluan lain. Secara umum tidak ada masalah berarti yang muncul saat pendakiaan ini. Di puncak sanggara kami istirahat setengah jam dan tak lupa foto foto terlebih dahulu. Dari puncak sanggara baru kami melakukan navigasi mengikuti plot yang kami buat kami mulai navigasi jam setengah 12 sampai jam 5. Selama navigasi jalur yang di lewati lumayan sulit, saat navigasi kita juga kena hujan deras, dan akhirnya kita bertemu jalan buntu. Karena hari sudah mulai sore maka kami memutuskan menghentikan navigasi dan mencari tempat untuk mendirikan kamp. Saat malamnya diadakan evaluasi, dan diketahui penyebab sulitnya medan adalah jalur yang diambil saat naviagasi adalah melipiri puncak sanggara dan tidak mengkuti punggungan yang ada, dan saat evaluasi kami baru mengerti mengenai filosofi punggungan. Total hari ini kami hanya berjalan 500 meter dari jalur plot.
Hari 3
Navigator hari ini Idam Bainul, dengan penebas Putra, dan porter Johan Fanka Hasti. Navigasi di mulai jam setengah Sembilan hingga jam setengah lima, hari ini tim sukses menuruni punggungan dan menemukan sungai yang ada di plot, lalu perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri sungai, masalah timbul saat menemui air terjun vertical setinggi 5 meter, saat itu muncul beberapa opsi untuk menuruninya, yaitu melipiri punggungan di kiri sungai, melipir di tepi air terjun atau menggunakan “hepotesis ponco” dari sang navigator. Akhirnya kami memutuskan melipiri di tepi air terjun, dan setelah hampir satu jam yang penuh lumpur dan peluh kami semua berhasil menuruni air terjun dan setelah berapa saat menyusuri sungai kami akhirnya menemukan pertigaan sungai yang ada di peta dan diputuskan mendirikan kamp di dekat pertigaan sungai tersebut. Hari ini kami berdasarkan plot yang telah di buat kami berjalan sejauh 1 kilometer



Hari 4
Hari ini pembagian tim adalah navigator Johan, Putra, dengan penebas Bainul dan porter Fanka Hasti Idam. Jalur yang dilewati adalah menaiki punggungan hingga puncak Gunung Ipis dan menuruni punggungan lalu kembali menyusuri sungai Citereup, saat menyusuri sungai ini terlihat di kanan kiri sungai banyak bekas longsoran, secara umum jalur yang dilewatili lumayan lancar. Saat menyusuri sungai tiba tiba kami dilanda hujan lebat, maka kami memutuskan lansung naik ke punggungan terdekat untuk menghindari air bah. Saat mendaki punggungan anggota tim terlihat panik dengan lebatnya hujan dan licinnya medan, akhirnya dipimpin Andi dan Hery kami menaiki punggungan dan mendirikan kamp. Malamnya saat evaluasi dibahas mengenai kondisi tim saat hujan lebat dan juga logistik makanan yang menipis dan keterbatasan air. Akhirnya kami memutuskan untuk mengubah jalur plot yang telah dibuat agar dapat lebih cepat mencapai desa terdekat.
Hari 5
Target hari ini adalah desa terdekat, dan tim navigator adalah Bainul Putra dengan penebas Idam dan porter Johan Fanka Hasti. Sebelum mulai jalan kami melakukan ormed terlebih dahulu untuk menentukan posisi punggungan saat itu. Lalu kami memutuskan untuk menaiki puncakan diarah utara dan kemudian menuruni punggungan kearah timur laut, jalur awal yang kami lalui adalah menaiki punggungan dan kemudian menuruni lembahan curam lalu melipir dari lembahan ke punggungan di sampingnnya dan kemudian menaiki punggungan lagi, DAN AKHIRNYAAAA…….. kami kembali kepunggungan awal tempat kami kamp. Jadi selama seharian kami memutari pungungan dan kembali ke punggungan awal. Selama perjalanan kami juga membatasi penggunaan air karena keterbatasan persediaan. Menurut porter dan penebas, jalur hari ini adalah lajur terberat selama navdar tertutup ini, beratnya medan juga meminta korban celana salah seorang anggota kami yang harus robek dibagian yang tak diinginkan. Saat evaluasi diketahhui kesalahan ini terjadi karena navigator mengambil jalur terlalu ke barat dan kurangnya komunkasi antar navigator lalu evaluasi dilanjutkan dengan membahas mengenai persiapan logistik pribadi dan makanan dari PJ masing masing dan akhirnya ditutup dengan acara meng-kubis salah seorang sesepuh GH.
Hari 6
EVAKUASI... Kami akhirnya diputuskan untuk dievakuasi oleh para pendamping karena logistik makanan yang ada telah sangat mengkhawatirkan, makanan yang tersisa hanya mie instan, biskuit kering dan air 3 botol. Pagi harinya kami hanya makan biscuit yang ada untuk menghemat penggunaan air selama memasak. Sebelum berangkat kami semua melakukan ormed untuk menentukan letak punggungan kami. Lalu kami berjalan menuruni punggungan dengan dipimpin oleh Heri dan Andi. Namun kami semua tetap diharuskan traking jalur yang dilewati untuk menentukan plot di peta. Siangnya kami telah sampai di sungai Citereup dan memutuskan untuk beristirahat. Saat istirahat beberapa anggota tim memutuskan mencari tempat untuk berenang, dan tak lupa foto foto saat berenang, beberapa orang terlihat berpose dengan penampilan yang menggugah selera ( foto terlampir ). Lalu perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri sungai citereup hingga menemui pedesaan. Jalur yang dilewati selama menyusuri sungai tergolong berat, kami harus berpindah pindah melipiri punggungan kanan dan kiri sugai dan ditambah dengan aliran sungai yang deras dan banyaknya jeram yang menggangu pergerakan. Selama penyusuran kami juga sering di selip oleh penduduk desa, yang berjalan jauh lebih cepat dari kami walaupun membawa beban yang jauh lebih berat (sebagian memanggul kayu gelondongan sepanjang 3 meter lebih dan karung kopi), lalu setelah sampai di tepi desa kami melanjutkan dengan navigasi punten hingga menemukan jalan raya dan langsung beristirahat di warung terdekat. Setelah cukup beristirahat, jam lima sore kami mulai balik ke kota Bandung dengan bis umum. Dan akhirnya jam setengah delapan malam kami tiba di kampus tercinta dengan tangan penuh luka, kaki bengkak dan perasaan puas.

Latihan Navdar @Cicenang




Catatan Perjalanan Latihan NavDar Terbuka @ Cicenang

Persiapan Perjalanan
Untuk menerapkan ilmu manajemen perjalanan, mula-mula ketua Ekspedisi [ GM-014-XIX ] mengarahkan tim ekspedisi GH untuk berkumpul guna menentukan susunan kepanitiaan perjalanan. Melalui sebuah diskusi singkat pada malam hari pukul 23.30 WIB tanggal 16 April 2010 telah ditentukan susunan kepanitiaan sebagai berikut :
1. Ketua Perjalanan : M.Bainul [GM-020-XIX]
2. PJ Logistik : Abdul Somat Budiaji [GM-001-XIX]
3. PJ Transportasi : Johan Santoso [GM-012-XIX]
4. PJ Konsumsi : Angelina Yofanka [GM-005-XIX]
Sementara jumlah peserta GL yang dipastikan hadir dalam latihan tersebut diantaranya (total 9 orang) didampingi seorang pembimbing (Andy Nugroho) :
Gladi Lanjut Gunung Hutan :
1. Abdul Somat Budiaji [GM-001-XIX]
2. Angelina Yofanka [GM-005-XIX]
3. Haryanda Eka Putra [GM-014-XIX]
4. Johan Santoso [GM-012-XIX]
5. M. Bainul [GM-020-XIX]
Gladi Lanjut non-Gunung Hutan :
1. Annisa Nurul H. [GM-006-XIX]
2. M. Adinata [GM-019-XIX]
3. Yoga Saktyanto [GM-024-XIX]
4. Yohanes Yudha [GM-025-XIX]

Pra-Perjalanan
Di pertemuan awal, ketua perjalanan telah menetapkan beberapa teknis sederhana mengenai waktu dan persiapan keberangkatan menuju Cicenang. Menurut laporan masing-masing PJ, persiapan sudah cukup matang. Logistik lengkap, konsumsi mencukupi, dan transportasi memadai. Sementara dari segi waktu, ditetapkan bahwa pelepasan keberangkatan akan dimulai pada pukul 17.00 WIB pada tanggal 17 April 2010 di SEL. Sayangnya, waktu keberangkatan terpaksa diundur dari rencana awal karena butuh waktu lebih untuk pembagian logistik dan packing serta adanya keterlambatan kedatangan beberapa peserta perjalanan ke SEL. Pada akhirnya, tim perjalanan dilepas oleh beberapa massa KMPA yang ada tepat pada pukul 19.00 WIB. Angkot yang tadinya nongkrong di gerbang utara Kampus ITB selama lebih kurang 2 jam akhirnya bergerak juga.



Perjalanan
Selama di dalam angkutan, peserta perjalanan tidak terlalu banyak berbicara, lebih menikmati perjalanan dengan tidur atau mendengarkan dengkuran peserta lain. Ckckck.
Perlahan namun pasti angkot bergerak ke utara Bandung melalui rute jalan umum Bandung-Lembang. Sekitar 50 menit kemudian akhirnya peserta perjalanan tiba di tempat yang telah ditentukan oleh panitia.
Perjalanan menuju BaseCamp ditempuh selama sekitar 15 menit dari titik turun angkot. Dari segi lokasi, letak BaseCamp cukup strategis karena lokasinya yang sangat dekat dengan sumber air dan tertutup dari terjangan angin. Pukul 20.30 WIB peserta mulai mendirikan tenda, memasak, dan membuat api unggun. Peserta mulai makan sekitar pukul 22.30 WIB.
Sekitar pukul 23.00 WIB, para pembimbing lainnya (selain Andy) mulai berdatangan ke lokasi BaseCamp dengan mengendarai sepeda motor. Akhirnya malam ini pun kami habiskan dengan sedikit evaluasi dan briefing, lalu dilanjutkan dengan ngobrol dan diskusi hingga hari menjelang pagi.
Peserta mulai bangun dan bersiap masak pada pukul 06.00 WIB, mundur dari rencana sebelumnya yakni pukul 05.00 WIB. Pukul 09.00 WIB peserta telah makan, packing dan siap untuk berangkat.
Briefing NavDar dimulai. Dipimpin oleh Andy Nugroho, peserta diarahkan untuk mencapai suatu titik, tepatnya di puncak Gunung Malang (1021 m) yang berjarak sekitar 4-5 petak di peta dari titik BaseCamp. Peserta yang berjumlah 9 orang dibagi menjadi 4 kelompok, diantaranya :
1. Annisa Nurul Hidayah
Haryanda Eka Putra
Yohanes Yudha
Pembimbing : Yanu dan Alam S.P

2. M.Bainul
Yoga S.
Pembimbing : Andy Nugroho

3. Angelina Yofanka
Johan Santoso
Pembimbing : Irfan ‘Jarwo’ dan Gustaf

4. Abdul Somat Budiaji
M. Adinata
Pembimbing : Aldi dan Yudi ‘ Bondon’
Masing-masing kelompok diharapkan untuk menempuh jalur yang berbeda satu sama lainnya. Masing-masing tim juga diberi kesempatan untuk melintasi jalan raya Bandung-Subang hanya sebanyak 1x.

Perjalanan Tim
Tahap pertama perjalanan ini adalah penentuan titik awal tim. Di tahap ini, tim kami cukup banyak menemukan kendala seperti belum ditetapkannya ketua tim dan kurangnya komunikasi antar anggota tim. Akibatnya proses penentuan titik awal hampir memakan waktu sekitar 1 jam.
Setelah memastikan titik awal, tim kami akhirnya memutuskan untuk bergerak ke titik tujuan dengan teknik potong kompas menuju arah timur laut. Alasan kami pilih teknik ini diantaranya :
- Permukaan kontur yang akan kami lalui dengan teknik potong kompas cukup landai sehingga memudahkan pergerakan tim
- Titik-titik patokan untuk penerapan teknik ini cukup banyak dan mudah diamati sehingga tim tidak perlu bersusah-susah untuk mencari-cari titik acuan yang abstrak
- Jika ditarik garis lurus, titik tujuan akhir mendekati arah timur laut dari titik awal.
Teknik potong kompas ini kami aplikasikan hampir setengah perjalanan total. Dan terbukti, tim kami tidak banyak menemukan kendala berarti selama teknik ini digunakan mengingat pula lokasi yang notabene-nya adalah perkebunan teh. Titik terakhir tim menggunakan teknik ini adalah jalan raya Bandung-Subang.
Sesampainya di jalan raya Bandung-Subang, tim memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu di warung terdekat. Mengisi perut dengan semangkuk mie instan dan air putih cukup membuat kami bertenaga kembali. Setelah makan dan beristirahat sekitar 45 menit, tim melakukan briefing terlebih dahulu untuk menemukan rencana rute yang akan ditempuh dengan bimbingan Yanu dan Alam S.P.
Istirahat selesai. Tim bersiap untuk kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini tim kami kembali dimudahkan dengan diperbolehkannya memanfaatkan jalan aspal yang telah ada namun tetap OrMed setiap saat. Setelah melalui track ‘bonus’ sekitar 800 m, akhirnya tim kami dihadapkan pada jalan berbatu menuju perkampungan penduduk. Dengan tetap mengikuti plot jalur yang telah direncanakan, tim kami terpaksa harus melalui sawah-sawah penduduk dengan melewati pematang-pematang sawahnya. 20 menit berlalu dan akhirnya tim kami tiba di tempat terbuka dimana terdapat jalur track off-road wisatawan. Setelah OrMed dan posisi Gunung Malang yang ada di depan mata telah dipastikan, semangat tim seketika on fire seolah akan menemukan harta karun. Sesuai plot awal, tim akan mendaki Gunung Malang melalui jalur timur dengan tantangan harus menyeberangi sebuah sungai.
Selama perjalanan ke arah timur, tim kami sempat dihadapkan pada track-track yang cukup menguras tenaga. Selain itu, terdapat beberapa lokasi yang terlihat masih tertutup sehingga tim harus mampu memanfaatkan instingnya masing-masing untuk menentukan jalur tempuh selanjutnya hingga tercapai suatu tempat yang cukup terbuka. Hampir 1 jam tim berjalan, akhirnya tim berhadapan dengan tantangan yang dimaksud. Tak disangka, sungai yang rencananya akan kami seberangi cukup lebar, yakni sekitar 12 m, dan deras pula. Tim kami mulai merundingkan kembali plot jalur yang akan ditempuh dan dengan cepat diputuskan untuk menyusuri tepian sungai menuju arah barat. Meskipun lelah sudah mulai menjangkiti fisik masing-masing anggota tim termasuk pembimbing, setidaknya kami sedikit terhibur dengan ditemukannya air terjun. Di lokasi ini kami beristirahat sekitar 10 menit, merasakan percikan-percikan kecil air terjun itu sambil memikirkan kembali rute jalur yang akan ditempuh.
Tim kembali bergerak. Setelah menempuh jarak sekitar 20 menit, akhirnya tim kembali ke jalur yang benar. Tim kembali menemukan track off-road yang dilewati sebelumnya dan akhirnya memutuskan untuk terus melanjutkan perjalanan ke arah barat. Sepanjang perjalanan kami menemukan banyak cottage/penginapan khusus serta sungai untuk wahana rafting. Sempat ragu untuk langsung menyeberangi sungai namun pembimbing kami meminta untuk segera mengambil langkah cepat. Tim kami pun segera memutuskan untuk menyeberang, meskipun sebelumnya kami berprinsip bahwa tim hanya akan menyeberang sungai jikalau memang benar-benar tidak ditemukan media penyeberangan dan alokasi waktu sedikit. Selama penyeberangan, keraguan kami membuat kami sedikit malu karena kedalaman sungai yang dimaksud ternyata hanya setinggi lutut orang dewasa. Tak beberapa lama, tim kami menemukan sebuah pondok kecil untuk berteduh. Istirahat lagi cuii..Lima menit kemudian tim pun kembali bergerak. Lega. Yaa, itulah yang tim kami rasakan ketika jalur pendakian resmi sudah terlihat di depan mata. Selama pendakian, ciri khusus yang dimiliki gunung ini adalah hutan pinusnya. Hutan seperti ini sebenarnya cukup rawan kebakaran jika di musim kemarau. Selain itu, antara satu pohon dengan pohon lainnya pun cukup berjarak (renggang). Jalur yang jelas amat memudahkan tim kami selama pendakian. Jalur yang kami lewati ini ternyata mengitari punggungan hingga ke utara. Meski pembimbing sempat memisahkan diri dari tim –entah karena capek atau yakin timnya akan sampai ke puncak tanpa bantuan mereka- akhirnya tim dan pembimbing kembali bertemu di kontur terakhir sebelum puncak. Hanya butuh waktu sekitar 15 menit bagi tim kami untuk mencapai titik puncak dari pintu masuk awal. Sesampainya di titik puncak, kami dikejutkan dengan adanya kepulan asap 30 m di depan kami. Ternyata ada makhluk-makhluk yang telah mendahului kami kira-kira 40 menit sebelumnya yakni tim yang beranggotakan M.Bainul dan Yoga. Tepat pukul 13.45 WIB tanggal 18 April 2010 tim kami tiba di puncak. HAHAHA!!!

Pasca-Perjalanan
Setelah seluruh tim tiba di titik puncak, tim dan para pembimbing segera mengevaluasi perjalanan masing-masing. Banyak masukan yang kami peroleh saat itu. Terutama dalam hal manajemen tim, koordinasi, teknik navigasi, dan manajemen waktu. Perjalanan kami tutup dengan sesi foto bareng. Pukul 16.00 WIB seluruh peserta turun, keluar melalui spot wisata ‘Ciater Spa Resort’dan kembali ke tempat dimana angkot telah menanti kedatangan kami.

Cikandang Sekali Lagi



Catatan Perjalanan “ Cikandang Sekali lagi “
Waktu perjalanan : 3-5 Agustus 2010
Peserta pengarungan : Yodia, Emil, Yana, Yasir, Jekim, Rahman, Freden, Fya, dan 3 orang Astacala
Tim darat : Andy, Yudha

3 Agustus 2010
Tim berangkat Pk.15.00. Mengalami keterlambatan kurang lebih 1 jam karena beberapa peserta harus mengurus keperluan daftar ulang kuliah. Akhirnya diputuskan Yana dan Emil menyusul dengan motor, sisanya berangkat dengan angkot caheum ledeng ke terminal caheum. Dari terminal Caheum naik bus langsung ke Garut. Perjalanan memakan waktun kira-kira 2 jam lebih karena sempat ada kemacetan. Sampai di Garut kami langsung naik angkot menuju ke sekre Gerhana di Universitas Garut. Emil dan Yana sudah sampai terlebih dahulu di Gerhana. Rencana awal kami istirahat di Gerhana dan berangkat malam ke start Cikandang. Tetapi rencana berubah menjadi berangkat di pagi hari dengan pertimbangan biaya sewa mobil akan bertambah jika berangkat malam hari. Beberapa logistik sudah disiapkan malam harinya agar pada pagi hari bisa berangkat tepat waktu. Malam harinya beberapa peserta langsung istirahat dan beberapa peserta pergi ke pemandian air panas.
4 Agustus 2010
Rencana berangkat Pk.04.00 berjalan dengan lancar. Semua bangun tepat waktu. Sarapan dibeli di jalan dan dimakan di start Cikandang. Start pengarungan mengalami sedikit keterlambatan karena koordinator lapangannya mual. Jumlah perahu yang berangkat 3 buah. Perahu pertama adalah perahu Gerhana yang berperan sebagai pembuka jalur dengan skipper Jon. Perahu kedua adalah tim rescue yang berisi freden, fya, dan Astacala dengan skipper Pak Yana. Tim ketiga adalah tim pemetaan dengan skipper Yodia, lalu tim darat langsung menuju finish. Start pengarungan agak mengalami masalah karena keadaan start sungai yang sangat berbatu-batu. Ketika memasuki awal Sungai Cikandang Skipper tim pemetaan mengalami syok berat karena harus dihadapkan dengan undercut pertamanya. Perahu sempat nyangkut di batu dan air masuk ke dalam perahu sehingga ada logistik makanan yang hanyut dan kertas pemetaan basah kuyup dan lapuk. Terjadi salah paham ketika memasuki undercut. Pak Yana memerintahkan tim untuk turun. Tim mengira turun dari perahu, namun ternyataaa maksud Pak Yana adalah turun beserta perahu-perahunya. Akhirnya perahu tim pemetaan diambil alih oleh anak Gerhana hingga melewati undercut. Kertas untuk mencatat peta telah hancur lebur beserta clipboardnya. Akhirnya pemetaan dilaksanakan dengan metode yang sedikit lebih canggih yaitu dengan markin dan trekking GPS, dan karakteristik jeram direkam dengan video kamera. Setiap ada jeram tim pemetaan berhenti sebelum dan sesudah jeram untuk melakukan kegiatan pemetaannya.
Pukul 12.00 seharusnya sudah di Desa Bokor untuk makan siang, namun mengalami keterlambatan karena lambatnya perngarungan akibat pemetaan. Namun kami sampai di Desa bokor Pk.13.30 dengan diiringi hujan dan awan yang gelap. Di Desa Bokor kami makan siang dengan enaknya dan dengan lahapnya. Makan siang hanya sekitar 1 jam dan pengarungan langsung dilanjutkan kembali melihat hujan yang sudah reda. Posisi peserta mengalami perubahan. Yodia menjadi Skipper Perahu rescue dan Pak Yana di perahu pemetaan. Namun di awal-awal pengarungan kami diguyur hujan kembali. Muncul kekhawatiran akan banjir bandang. Ritme pengarungan kami percepat. Beberapa peserta sempat mencoba river board, dan body rafting ketika mendekati finish. Akhirnya kami sampai di finish lebih cepat setengah jam dari waktu yang ditentukan. Perahu dan logistik diangkut ke mobil. Beberapa ganti baju di finish. Kami langsung menuju rumah Kang Dewek di dekat pantai untuk mandi dan beristirahat. DI rumah kang Gewek kami menyempatkan diri untuk ikut memetik kelapa muda dan melahapnya bersama-sama. Pk. 06.00 kami berangkat ke Pantai Sayang Heulang. Beberapa utusan membeli ikan untuk dibakar di pinggir pantai. Yang lainnya menyiapkan tenda dan alat-alat masak. Malam hari kami makan ikan tuna bakar yang sangat sedap dengan sambal kecap super pedas. Ketika bersantai memandang langit malam, tiba-tiba turun hujan dengan anginnya yang kencang. Kami langsung mencari tempat untuk berteduh. Karena tenda kami bocor kami mengungsi ke pendopo dekat warung. Kami istirahat di pendopo tersebut



5 Agustus 2010
Kami bangun Pk.07.00, berberes dan langsung pulang ke Garut. Makan siang di jalan menuju Garut. Perjalanan sedikit berkabut namun tetap lancar. Sampai di Gerhana kami membersihkan logistik dan Pk.15.00 kami pulang ke Bandung. Sampai di Bandung sekitar Pk.06.00.

Kamis, 08 Juli 2010

Buletin Internal KMPA 'G' ITB

buletin internal download

Pengarungan Perdana GL subdivisi ORAD


Pengarungan Perdana GL subdivisi ORAD

Sabtu 10 April 2010
(Pk.18.00)
Semua peserta berkumpul di sel dalam keadaan sudah makan dan siap berangkat. Rencananya Pk.19.00 pasukan berangkat ke Garut. Akan tetapi beberapa peserta datang terlambat. Saya sendiri datang jam setengah 7 lewat dengan alasan “pergi ke gereja dulu”. Ketika saya sampai di sel, sebagian besar peserta sudah berkumpul. Yang belum terlihat adalah Kanya, ketua KMPA kita (Brian congor), dan kedua teman tambangnya. Jam 7 lewat hamper setengah 8 Kanya tiba di sel. Brian & friends masih belum kelihatan congornya. Ketika saya menelepon Brian, beliau berkata “sori beyb, aku baru bias datang jam 9”. Setelah proses tawar menawar, akhirnya si pria setuju untuk datang Pk.20.00. Kita yang sudah ada di sel memutuskan untuk mencari makanan. Setelah proses menunggu yang sangaaaat lama, dan ketika semua orang mulai gelisah dan gemas ingin mencubit si congor, akhirnya jam 9 entah lewat berapa menit, si congor mulai mengaum di sel. Masalah muncul seiring dengan kedatangan si congor. Ternyata kita masih kurang sarana transportasi karena Korlap belum minta izin untuk memakai mobil teman Brian dan beberapa peserta memutuskan untuk berangkat esok paginya tanpa memberitahu saya. Akhirnya kita memutuskan untuk memberangkatkan 3 armada motor yang dipimpin oleh Emil, Bocil, dan Adin, beserta sekutunya Yodia, Usie, dan Yudha. Sedangkan Pak Dani menyusul mengendarai motor teman Brian dan membonceng Kanya dan ikut serta pula sebuah mobil yang diisi oleh 2 teman tambang ( Namanya Bimo dan Anwar), Brian, Intan, dan Manda (tamu dari Unpad). Jadi pada Pk.22.00 armada pertama meluncur ke Garut, diikuti armada kedua sekitar 1 jam setelahnya.
(Pk.23 sekian)
Armada pertama sampai di Base Camp Gerhana. Karena waktu sudah sangat larut dan semuanya lelah, akhirnya kita menginap di Base Camp Gerhana. Pada Pk.00.sekian armada kedua tiba. Semuanya berkumpul dan langsung evaluasi perjalanan hari ini dan briefing pengarungan esok hari. Sekitar jam 1 dini hari, kami akhirnya bisa tidur!

Minggu 11 April 2010
(Pk.06.00)
Peserta sudah bangun dan Brian Emil sudah pergi mencari makanan. Pk.07.00 pasukan hari minggu tiba di base camp Gerhana. Ada yang langsung tidur (Yanu) ada juga yang langsung makan.Pk.08.00 semua orang sudah siap berangkat. Tapi saya kurang memperhitungkan waktu untuk memompa perahu, menghitung dayung, pelampung,dan helm, dan acara angkut mengangkut logistic tersebut.Kita sampai di lokasi start Pk.09.. lewat sdikit. Namun mobil Pak Yana yang mengangkut pelampung dkk belum datang karena harus mengurus makan siang. Terlambat kurang lebih 1 jam, akhirnya kita mulai mengarung (tentunya diawali dengan briefing dan pemanasan terlebih dahulu).
Air lumayan tinggi, arus juga deras dan banyak batu-batu di sungai. Selama pengarungan tidak terlihat addies. Pengarungan berjalan sangat menyenangkan. Dari 3 perahu,2 diantaranya flip, dan personil di perahu yang ke 3 hanya terlempar, namun tidak flip. Perahu Dani yang pertama kali flip. Baru beberapa menit dari start poin, perahu flip di jeram pertama. Perahu flip di tebing samping sungai. Di jeram pertama terdapat stopper yang mengakibatkan kapal flip (dan katanya di bawah stopper ada undercut!). Semua personil terjun ke air. Kanya, Johan,dan Affan berhasil diselamatkan perahu lain, sedangkan saya, Pak Alam, Dani, dan Adin harus ke tepian sungai dan mencari jalan dari darat. Upaya untuk ke daratan juga dibantu oleh warga sekitar yang kebetulan melihat. Dalam kesempatan flip kali ini, helm saya raib tanpa jejak (dan tanpa alasan pula), dan jidat saya benjol ditendang dayung seseorang personil perahu Dani. Oleh karena itu, jagalah helm anda baik-baik!
Pengarungan berjalan dari Pk.10.00-Pk.15.00. Pengarungan berhenti di bawah jembatan( yang banyak pembuangan limbahnya). Perahu diangkut ke atas dan semua peserta menunggu di sebuah sekolah dasar di dekat sungai. Kami menunggu makan siang yang sedang dijemput Emil dan Brian. Kami menunggu lumayan lama sambil menggigil dan bercengkrama. Setelah makanan datang, kami semua yang kelaparan langsung melahap makanan. Setelah itu langsung mengangkut perahu dan logistic ke dalam mobil Pak Yana. Sebagian peserta di mobil Pak. Yana, dan sisanya naik angkot. Di tengah jalan mobil Pak Yana bermasalah dengan ban kiri belakang. Akibatnya hampir semua penumpang harus turun dan berjalan kaki ke base camp Gerhana.
Di Base Camp Gerhana semua peserta membersihkan perahu dan alat pendukungnya sambil inventarisasi barang juga. Setelah beres-beres, peserta ganti baju dan istirahat sejenak, lalu dilanjutkan dengan evaluasi. Setelah evaluasi dan berbagi cerita, semua peserta mulai pamitan ke Pak Yana dan akang-akang Gerhana yang ada disitu. Pk.18.00 lewat beberapa menit semua peserta pulang. Perjalanan pulang menghabiskan waktu sekiter 2-3 jam.

Jumat, 02 Juli 2010

Sungai Citarum subdivisi ORAD



Catatan perjalanan
Pengarungan Citarum 10 juni 2010
Ketua Perjalanan : Yodia
Peserta : Yodia, Adin, Emil, Dani, Jekim, Onta, dan Bocil

Rencana awal keberangkatan adalah :
Berkumpul di SEL pada hari minggu Pk.06.00 untuk sarapan dan mempersiapkan logistic dan lain-lain. Akan tetapi dengan kendala beberapa keterlambatan dengan alasan baru bangun menyebabkan keberangkatan mundur dari Pk.07.00 menjadi Pk.08.00
Pk 08.00 4 buah motor berangkat ke Sungai Citarum.
Pk.09.00 Kami sampai di Base Camp Kapinis. Kami langsung mencari Kang Wawan untuk menyewa perahu dan perlengkapannya. Setelah sedikit berbincang-bincang dengan Kang Jenggo dan melakukan pemanasan, pada sekitar Pk.10.00 kami turun ke sungai dengan rencana portaging ke lokasi start yang berlokasi di dalam kawasan Indonesia Power.
Keadaan lokasi start : Sungai dikelilingi tebing-tebing yang sangat indah. Arus lumayan deras. Air di Sungai Citarum berwarna biru keabu-abuan. Tidak terlalu keruh. Tapi bau sangat menyengat seperti bau telur busuk, mengingat bahwa sungai Citarum adalah sungai yang paling kotor sedunia!
Pengarungan pun dimulai dengan skipper : Emil dengan jumlah perahu satu buah saja.
Pengarungan dilakukan hingga Base Camp Kapinis di bawah jembatan merah. Setelah itu kami berlatih upstream beberapa kali. Sekitar Pk.12.00 kami istirahat sejenak sambil makan snack.
Pk.13.00 kami kembali mengarung minus Onta yang harus kembali karena ada urusan di Bandung. Pengarungan kali ini digunakan untuk latihan skipper, dayung, dan N-system untuk rescue.
Latihan Skipper lumayan lancar. Adin dan Yodia mulai berlatih untuk mengarahkan perahu, walaupun masih agak canggung dan belum terbiasa, tapi overall latihan berjalan lancar. Latihan N-system dilakukan di lokasi sungai yang flat. N-system ditambatkan di pohon di pinggir sungai. Lalu rescue rope dibawa oleh saya, yang ditunjuk menjadi strong swimmer pada saat itu ke, ke perahu yang akan direscue. N-system sedikit terhambat karena kurangnya latihan tali-menali dan belum 100% mengerti N-system. Tapi pada akhirnya kami mampu membuat N-system untuk rescue perahu. Latihan dayung dilakukan dengan metode 250 dayungan. Disini terlihat stamina saya tidak terlalu fit dan mulai kelelahan di tengah- tengah latihan. Selanjutnya pengarungan dilakukan dengan latihan skipper dan latihan dayung mengingat keadaan sungai yang flat tak berarus hingga finish.
Lokasi finish terletak di sisi kanan sungai setelah jembatan. Kami membawa Perahu ke sisi jalan raya lalu men-charter angkot seharga Rp.30.000,- untuk membawa kami ke base camp Kapinis. Setelah sampai di base camp kami mengembalikan perahu dan peralatan sewaan. Semuanya lengkap tidak ada yang hilang. Logistik yang kami bawapun lengkap. Setelah ganti pakaian dan makan indomie double kami berbincang-bincang dengan Kang Wawan yang dengan semangatnya membagi cerita-cerita selama membawa anak-anak Kapinis lomba rafting di luar negeri. Setelah perbincangan menarik yang lumayan membuat pinggang pegel, kami memutuskan untuk kembali ke Bandung pada sekitar Pk.06.00
Perjalanan pulang lancar, hanya gerimis sedikit sejenak. Kira-kira Pk.07.00 kami sampai di SEL. Logistik dicuci dan dijemur dan pada Pk. 09.00 kami melakukan evaluasi di Es buah fadhillah di Tubagus.

Hasil Evaluasi :
- Kurangnya koordinasi lapangan karena tidak ada teklap
- Keterlambatan berakibat mundurnya rencana pengarungan
- Kondisi fisik yang perlu ditingkatkan
- Tidak adanya dokumentasi
- Untuk pengarungan selanjutnya jangan lupa membawa dry bag
- Tidak ada briefing sebelum pengarungan
- Tidak adanya pembagian tugas yang jelas

Vertikal Rescue Subdivisi Rock Climbing




Hari/jam : Sabtu, 15 Mei, pukul 01.00 s.d. Minggu, 16 Mei, pukul 19.00
Route : ITB – Danau Ciburuy – Citatah – ITB
Personel : freden, Sani, Azka, Bambang, Dian, Brian, John, temennya Bambang, Bli Bayu.
(menyusul) Tetu, Ade, Inda, Winda.
Materi : - VR (di kampus)
- Artifisial (leader, cleaner, buat pict)
- Jumarer
- Sejarah
Vertical rescue
UAS kalkulus berakhir bagi anak-anak TPB. Tiba-tiba saja sms masuk ke h berupa ajakan ke citatah. Setelah ke sel ternyata ke citatahnya malam. Dan latihan pertama yang kita lalui dulu adalah VR alias vertical rescue dulu yang diadakan di antara dua labtek biru dekat sekretariat himpunan di sekitar situ. Yang mengikuti latian ada mas Freden, Tetu, Ade, Inda, Winda, dan brian. Kemudian ada Mas Sigit sama Bambang yang yang datang dengan nasi goreng. Latihan VR dilakukan beberapa kali. Pertama ada Dian dengan Inda bergantian. Rupanya mereka sudah mahir mempraktikannya. Kemudian dilanjutkan dengan Azka yang berpasangan dengan Ade. Berdua bergantian menjadi lkorban dan rescuer masing-masing satu kali. Lumayan cepet juga. Finally, Winda dan Tetu menutup latihan pada malam hari itu. Di sela-sela latihan itu juga kami sempat ngobrolin tentang bagaimana keberangkatan kita ke Citatah.
Serangan fajar
Pukul 23.30 kami mempersiapkan alat-alat yang akan dibawa. Ada tali, tambatan (pyton, exentrict, friend, bong dll), Harnes, seling, etc. Bambang berangkat duluan sama temennya anak unpad yang saya lupa namanya, Sani dengan Dian naik motor. Sementara Saya dengan Freden masih berkutat di sel mencari motor nganggur. Sani dan Bambang sudah cukup lama mendahului kami. masalah kami pun akhirnya terpecahkan setelah merelakan motornya yang sebelumnya tak bisa kami pinjam karena takut dimarahi Ayahanndanya. Motor kami pun melaju kencang menuju Kecamatan Padalarang. Sementara teman yang lain sudah menunggu di depan Danau Ciburuy.Setelah makan batagor, sesuai rencana, kami berenam tidur di tepi danau, di gubuk yang biasa orang gunakan untuk berwisat. Brian yang menyusul dengan John naik sepeda sampai di danau saat yang lai sudah mulai tertidur. Alhamdulillah saya dan beberapa yang lain sempat melaksanakan sholat subuh karena tempat kami tidur dekat dengan mushola.
Coming citatah
Setelah makan di kantin depan danau Ciburuy,tebing langsung dituju pukul 08.30. tanpa basa-basi lagi pemanjatan langsung dimulai.Bambang menjadi leader, sementara Dian menjadi cleaner sedangkan saya yang belum pernah mencoba Artifisial climbing sama sekali belajar memasang tambatan dengan diajari Bapak ketua KMPA, Brian. Mencoba memasang Phyton dan Blade dengan menggunakan martil, serta memasang exentrict dan friend dengan menyelipkannya ke dalam rekahan tebing.
Setelah cukup dengan latihan-latihan memasang tambatan, saya menuju tempat Dian berlatih. Dia sedang menjadi leader diBilay oleh bambang. Hebat, ternyata jalur yang Ia buat lurus, sehingga titak menimbulkan friksi yang besar pada kernmantel. Kemudian saya menggantikan Bambang menjadi Bellayer yang kemudian mengclear jalur yang dibuat oleh Dian. Sementara di tali statis yang kami pasang di sebelah kanan, ada Mas Jon yang memanjat dengan jumar.
Cimney
Sampailah saya di goa paling rendah yang biasa kami jadikan pitc pertama. Sebenarnya saya berniat untuk menjadi leader, namun Sani mengajak menuju cimney. Istilah itu sempat membuat saya bertanya-tanya. Saya yang belum pernah sekalipun menjadi bellayer tak menyanggupi untuk membilllay Dian yang akan memanjat cimney. Akhirnya Freden yang naik tuk menggantikan saya. Baru saya tau ternyata Cimney merupakan dua dinding yang letaknya berdekatan. Sehingga pemanjat dapan memanfaatkan cimney untuk memanjat dengan kedua kakinya bertumpu pada dua dinding tersebut. Katanya sih kayak Jacky Chan gitu. Dian yang memulai memanjat pertama. Freden bilang kalau dari tahun ke tahun yang menkhlukan cimney pertama kali dalam satu angkatan adalah seorang pria, jadi bisa dibilang Dian mencetak sejarah baru buat angkatan GM XIX. Sejak pertama kali naik, sepertinya tak mudah bagi Dian untuk menakhlukan tantangan yang menurut saya baru itu. Cuma ada dua hanger di situ, dan jaraknay cukup jauh. Dari bawah, saya, Sani serta Freden yang saat itu menjadi bilayer terus memberi semangat dan petunjuk agar Dian terus semangat sampai puncak ujung cimney.dan benar saja, untung bukan saya yang jadi bilayer. Dian sempat terjatuh. Untung Ia sudah sempat menambatkan talinya pada hanger pertama. Akhirnya dengan susah payah Dian bisa mencapai ujungnya.
Akhirnya tiga orang yang tadi di bawah pun menyusul ke atas. Ternyata tak sesulit yang saya bayangkan. Dari atas kami lihat mobil Winda yang sudah terparkir di dekat pabrik dekat tebing. Menandakan kloter dua telah datang. Ada beberapa pelajaran yang saya dapatkan dari pemanjatan cimney tadi. Pertama saat Dian memanjat dia sering hampir untuk menyerah, turun saja. Dia sering bilang,”Ngga bisa”. Tapi dengan dorongan semangat dari yang ada di bawahnya akhirnya Ia sampai juga. Nah dari situ saya mendapat pelajaran bahwa saat sedang memanjat, medan memang terasa menjadi sangat sulit. Tapi kalau kita yakin, atau kalau nggay ya ada yang meyakinkan kita, pasti bisa. Ngga ada yang ngga bisa kecuali makan kepala sendiri. Pelajaran yang kedua saya dapat dari Sani ketika kami sempat ngobrolin tentang pentingnya bilayer saat Dian sempat terjatuh. Bahwa pemanjat dan bilayer adalah pasangan yang paling sejati di dunia ini. Gimana tidak ia memegang nyawa pasangannya itu. Setelah cukup lama foto-foto di cimney, kami berempat turun lagi dengan menggunakan dua tali agar tali bisa kami bisa bawa pulang lagi. Saya turun duluan karena merasa punya kepentingan yang sudah saya tunda-tunda. Sholat .


Evaluasi
Pemanjatan hari itu ditutup dengan guyuran hujan. Semua yang ada di tempat itu langsung menuju tenda. Kemudian membereskan alat-alat untuk dipakai besok pagi. Sepertinya yang datang menyusul pun telah bergabung.Ada tetu, Inda, Winda, sama Mas Sigit. Sambil menunggu sempat kami ngobrol dan mendapat banyak pelajaran tentang sejarah. Karena kebetulan kami bareng sama temennya Bambang yang kuliah di jurusan Sejarah Universitas Padjajaran. Banyak yang kami obrolin di situ. Dari mulai sejarah zaman kerajaan sampai zaman orde baru tuntas kami bahas. Setelah kira-kira semua siap untuk evaluasi, saya diminya untuk mengevaluasi kegiatan pada hari ini karena saya dianggap paling terlibat dalam kegiatan hari ini. Cukup banyak yang kami evaluasi. Termasuk pelajaran yang saya dapat hari ini, kejadian-kejadian di cimney, dan bagaimana membuat pitc yang sepertinya tadi kurang sip karena keterbatasan hanger.
Setelah evaluasi selesai, dilanjutkan dengan brifing teknis untuk keesokan harinya. Dalam brifing tersebut disepakati. Kami memulai kegiatan jam tujuh pagi. Kemudian saya menjadi leader yang pertama. Dibilay oleh Inda. Kemudian Winda dengan Ade. Karena kami merasa perut kami cukup lapar Freden berinisiatif untuk berangkat membeli makanan dengan manarik iuran seikhlasnya. Saya menemani Freden mencari warung makan dan akhirnya menemukan warung padang yang harganya tak terlalu mahal.
Setelah menutup berbagai macam obrolan dan makanan, langsung saja kami tidur. Sebelum tidur Bambang pamitan sama temennya mau pulang duluan. Bli Bayu datang saat kami tidur. Dengan atau tanpa sleeping bag pun di citatah ternyata tidak terlalu dingin.
Hari kedua
Sesuai rencana, jam tujuh kami siap untuk beraktivitas. Tapi karena makanan sudah datang saya terpaksa melepas alat-alat yang sudah terpasang di badan untuk sejenak mengisi perut dulu. Kemudian selesai makan pemanjatan siap dilakukan. Tapi ternyata tak semudah itu. Alat-alat yang sudah siap saya bawa ternyata masih banyak yang perlu dibenahi. Ada yang terlalu banyak lah, kurang lah, atau letaknya salah kanan kirinya.
Saya memulai pemanjatan dengan lancar ditemani Inda sebagai bilayer. Sayangnya masih makan waktu terlalu banyak. Saat membuat pitc ada Sani serta Bli yang membimbing. Sementara Dian mengambil gambar dengan memanjat melalui tali statis memanfaatkan jumar. Sedangkan yang lain spot-spotan di tebing sebelah timur. Kemudian setelah selasai memanjat saya turun dengan repelling. Saya harus sholat duhur. Semantara Sani dan Dian pamitan duluan ada kepentingan mengenai tugas kuliah. Setelah saya selesai sholat sama Ade, sekarang gilirannya Ade sama Winda. Namun sayang sekali, saat mereka baru mau mulai menyiapkan alat-alat, hujan deras mengguyur Kecamatan Padalarang. Terpaksa mereka menunda pemanjatan. Semua yang ada langsung menuju tenda sambil membereskan alat-alat. Sementara Brian masih sibuk atas goa merapikan tali di bawah guyuran hujan. Setelah brian selesai dan ikut bergabung di tenda. Banyak hal yang kami obrolin. Dari yang isinya berbobot sampai yang omong kosong belaka kami obrolin. Termasuk tebak-tebakan yang dipaksakan sama Brian. Dari situ terasa hangatnya kebersamaan walaupun kondisi tempat kami duduk benar-benar tidak nyaman. Tak ketinggalan juga ma Sigit dengan banyolannya yang khas tak hentinya membuat gigi selalu meringis.
Pulang
Mas Sigit sebagai yang paling tua mengusulkan, kalau sampai jam lima sore belum reda juga mau ngga mau kita pulang. Dan benar hampir jam lima, air dari langit itu masih juga turun. Kami pun membereskantenda di bawah gerimis. Beberapa barang Yang berat dimasukkan mobil Winda. Kami pulang, ada yang naik mobil ada yang naik motor. Hujan tak terlalu lebat saat itu. Barisan motor sempat mampir makan dulu di warung makan depan danau Ciburuy.
Barisan motor kira-kira sampai di kampus jam 19.00. seementara yang naik mobil ternyata sampai duluan. Bagus, jadi alat-alat sepertinya sudah dibereskan.
Perjalanan yang cukup menyenangkan. Penuh akan berbagai hal yang menginspirasi

gm-007-xix