Selasa, 31 Agustus 2010

Goa Cikaracak, Padalarang

Catatan Perjalanan ke Goa Cikaracak, Padalarang
20-21 Maret 2010

Oleh: Usie Fauzia A. (GM-022-XIX)


Perjalanan ini dilakukan karena sebenarnya kami benar-benar ngebet ingin caving dan rencana awal ke Gombong tidak jadi karena dua orang teman kami, Muhsin dan Aji, ada ujian, maka muncullah ide untuk caving di Padalarang. Rencana ini benar-benar mendadak, bahkan pada malam tanggal 19 Maret belum ada kepastian pergi ke Padalarang. Akhirnya saya inisiatif menanyakan anak-anak caving GL XIX untuk melakukan perjalanan ini dan ternyata kepastian yang ikut caving kali ini baru muncul jam dua siang hari-H (tanggal 20 Maret tepatnya hari Sabtu). Sekitar jam setengah lima sore saya baru sampai di sel (janji kumpul sebenarnya jam tiga sore). Jam enam sore saya, Yoga, Yudha, Bimo, Muhsin, dan Aji berkumpul di sel untuk membicarakan teknis lapangan dan logistik (waw baru dibicarain sekarang…?) dan akhirnya perjalanan caving sekarang kami akan memetakan Goa Cikaracak.
Sekitar jam delapan malam kami (saya, Yoga, Yudha, dan Muhsin) berangkat dari sel menuju Padalarang, tapi sebelumnya mampir ke swalayan dulu untuk beli makanan. Haha pelajaran pertama buat kami, GL baru khususnya, jangan buat teklap pas hari-H. Gara-gara mendadak kami cukup kerepotan dengan duit untuk beli bahan makanan (padahal bahan makanan kaya beras, garam, dan teman-temannya bisa didapat gratis dari rumah saya) dan tiba-tiba Yudha sadar bahwa kami lupa bawa tenda (sebenarnya tenda sudah disiapkan sama Bimo tapi lupa dimasukin ke kerir haha..). Parah, dengan modal nekat dan keyakinan bahwa malam ini tidak hujan, kami benar-benar berangkat ke Padalarang dengan menggunakan motor.
Jam 10-an kami sampai di basecamp, masih termasuk karst citatah, kebon dengan batu-batu kapur raksasa. Disanalah kami bakar-bakaran ayam (untung cuma berempat haha) dan tidur beralaskan ponco beratapkan langit karena kami lupa bawa tenda. Hari Minggu tanggal 21 Maret 2010, kami bangun pukul 06.00. Setelah solat dan ritual pagi Muhsin, kami mulai masak dengan menu nasi goreng dan martabak mi (untung cuma berempat jadi jatahnya banyak). Langsung go chao ke rumah si ibu(saya ga tau namanya map) buat siapian alat-alat dan pake coverall. Yah karena persiapan yang tidak matang, coverall yang ukurannya kecil tidak terbawa jadi saya pakai yang ukurannya kebesaran untuk badan saya. Berangkatlah kita ke Goa Cikaracak, yah bersakit-sakit dahulu lah untuk mencapai ke sana harus jalan kaki yang lumayan jauh apalagi sepatu boot saya kebesaran dan itu tidak nyaman bagi saya (dilemma berbadan kecil). Untuk mencapai ke mulut goa, kami harus turun kebon karena lokasi goa nya di bawah dan di sela-sela kebon.
Sebelum masuk, kami diberi materi oleh Saudara Muhsin, ternyata pemetaan yang akan kami lakukan sekarang tidak semudah pemetaan yang pernah dilakukan di Goa Lalay pada jaman Diksar GM dulu. Kami diajarkan memetakan aula juga. Untuk pemetaan kali ini, saya berperan sebagai descriptor, Yoga dan Yudha sebagai shooter dan stasioner (mereka sering tukeran peran). Sulit juga yah jadi descriptor, berhubung saya suka bengong dan bingung, saya sering ketinggalan data karena Yoga dan Yudha cepat sekali memetakannya. Kami tergolong lama memetakan goa nya, belum seluruh bagian goa kami petakan. Kami hanya memetakan sampai aula pertama karena ternyata butuh adaptasi untuk memetakan goa hingga lancar, juga butuh kerjasama dan konsentrasi juga buat saya, berhubung suasana goa bikin saya ngantuk dan gampang bengong.
Tidak terlalu sulit untuk memasuki goa ini, hanya beberapa turunan dan langit-langit goa nya yang lumayan rendah jadi kami harus berjalan jongkok hingga bertemu ornament besar kemudian turun ke aula, keadaan goa nya tidak basah, hanya tanah yang berlumpur membuat kami sulit berjalan dan boot saya sering copot karena sulit diangkat dan kaki saya yang terlalu kecil. Karena pemetaan dia aula lama sekali, saya pun menikmati mengambil foto ornament-ornamen goa saya masih belum menemukan flowstone yang menarik, hanya terdapat ornament-ornamen yang bentuknya menyerupai hewan-hewan. Setelah selesai memetakan aula, kami pun makan siang di sana dan karena sudah jam dua siang kami pun menyudahi pemetaan sampai di sini saja. Waw ternyata lama juga kami di dalam goa dan seperti biasa cahaya matahari tidak pernah jadi begitu dirindukan kecuali oleh kami, para penelusur goa. Yeah day light…!
Setelah keluar dari goa, kami bergegas kembali ke rumah si ibu karena cuaca mendung dan gerimis. Sekitar jam tiga sore kami pergi ke daerah dekat Sungai Citarum, tapi ternyata waduknya jebol dan kami tidak jadi main ke sana, akhirnya kami memang harus balik ke kampus dan sekitar jam setengah tujuh malam kami sampai di kampus dan langsung menunaikan kewajiban kami yaitu cuci-cuci alat yang penuh dengan lumpur.
Perjalanan yang menyenangkan bagi saya apalagi dengan teman-teman caver yang aneh-aneh sifatnya membuat saya ingin caving lagi diberbagai goa yang pasti diluar ekspektasi saya. SEMANGAT…!

Latihan Gabungan Susur Goa





Catatan Pejalanan Latihan Gabungan Susur Goa
Tasikmalaya, 30 April – 2 Mei 2010
Oleh: Usie Fauzia A. (GM-022-XIX)

Latihan gabungan caving kali ini diselenggarakan oleh Tasikmalaya Caving Community (TCC). Pada awalnya cavers GL XIX yang bisa ikut hanya saya dan Yudha, sedangkan Nurul, Yoga, Bimo, dan Aji ada prioritas lain. Nekat memang apalagi bos-bos caving (Muhsin dan Os) tidak bisa ikut juga. Ya sudahlah the show must go on…saya tetap melakukan persiapan, tanya sana-sini tentang latgab tahun lalu, tanya prosedurnya ke panitia karena ternyata tanggal 30 April kami ada UTS jadi kami baru bisa pergi Jumat malam sehabis UTS. Saya terus membujuk teman-teman saya untuk ikut latgab, ternyata Yoga berhasil terhasut oleh saya haha…alhasil dia ikut latgab dan izin dari kadwil di fakultasnya.

Karena kesibukan masing-masing apalagi UTS Fisika membayang-bayangi kami, saya menginstruksikan kepada Yoga dan Yudha untuk menecek alat-alat yang harus dibawa seperti SRT Set dan alat explore goa. Hanya dicek sadja dan kami mulai beres-beres logistik jumat sore sehabis UTS dan rapat, yaah sekitar jam 7 kami baru mulai masukin alat-alat ke kerir. Ternyata Onye alias Rahman ikut latgab dan Pak Muhsin pun ikut juga. Mereka terharu melihat kesungguhan kami (hoek…). Rencana awal kami pergi ke Tasik dengan kereta, ternyata anak Bramatala (mapala Widyatama) ngajak bareng, oh mereka senasib dengan kami harus ujian dulu, kami pun mulai menodong motor anak-anak sel. Motor Ka Aldi, Johan, dan Andi berhasil kami todong. Jam setengah sembilan (telat 30 mnt dari rencana awal) kami berangkat ke Widyatama. Dari Bramatala ada Cacing, Fajar, dan Rizal. Dengan empat motor, kami pun berangkat ke Tasik.

Jam 12 malam kami sampai di Tasik kota dengan selamat walau di perjalanan sopir dan penumpangnya terkantuk-kantuk, apalagi Yoga hampir mencium truk (nyaris). Karena kami tidak tahu sekre TCC, kami berhenti di swalayan Jalan Mitra Batik untuk menunggu panitia. Entah karena capek atau shock hampir mencium truk, Yoga pun tepar. Lumayan lama kami nunggu karena walau panitia telah datang kami tetap harus nunggu satu motor lagi yaitu motor Fajar dan Rizal yang nyasar di warung. Jadi totalnya kami baru sampai di sekre TCC jam 01.00 WIB. Berbincang-bincang sebentar dan kami langsung istirahat di tempat (tidur di ruang itu juga karena males bergerak ke ruang yang disediakan untuk tidur). Kami harus bangun jam lima subuh agar ke lapangan tepat waktu, tapi manusia hanya bisa berencana, anak-anak pada bangun jam 6 pagi. Terima kasih kepada Muhsin, karena kebiasaan menunaikan tugas sucinya dan bau kentutnya dia, saya terbangun jam setengah 6 (hoek…). Setelah solat, saya bantu panitia membangunkan teman-teman jam 6 pagi. Tanpa cuci muka dan sebagainya, setelah bangun mereka langsung manasin motor dan angkut kerir masing-masing. Bersama panitia kami berangkat ke tempat latgab yaitu di Desa Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya. Lumayan jauh, sekitar 2 jam dari Tasik Kota dengan menggunakan motor. Jalan dari jalan raya menuju pedesaan juga sangat ‘off road’ sekali dan lumayan jauh.




Sekitar pukul setengah sembilan pagi kami tiba di rumah penduduk yang dijadikan base camp. Hmm…seperti bukan kawasan karst yang sering terlihat pada umumnya…tidak ada conical hills, jadi sepanjang perjalanan saya menebak-nebak dimana lokasinya karena si conical hills belum muncul juga, ooo ternyata daerah ini termasuk karst tertutup (kata Pa Mucin), tapi terlihat kok banyak batu gamping di sana-sini. Saatnya ganti kostum dan mempersiapkan logistik yang diperlukan seperti srt set dan makanan. Dari base camp ke lokasi goa ternyata sangat jauh sekali (lebay tapi memang benar sih) ditambah dengan jalan yang menanjak dan kostum kita yang panas banget…seperti biasa saya barisan depan karena saya sadar kalau saya di belakang takutnya ketinggalan he…ternyata bukan saya saja yang ngos-ngosan, yang lainnya juga ngos-ngosan (ya iya lah). Sampai di lokasi goa, kami langsung berebut air minum, wow ternyata ramai sekali, ada apa ini? Ooo…pada ngantri mau mencoba srt di goa vertical ini. Sambil menunggu, salah satu panitia ada yang manjat, bukan rock climbing, tapi coconut climbing, ya berburu kelapa muda karena semuanya kehausan dan kebetulan yang empunya ladang kelapa sudah mengizinkan kelapanya di babat oleh panitia (dan juga peserta).

Sebelum kami turun goa, kami ikut latihan srt dulu di pohon karena kami belum mengenal srt intermediate atau deviasi. Anak Bramatala langsung turun goa. Wow ternyata yang latihan srt banyak juga. Kami pun harus mengantri untuk bisa srt di pohon. Tidak hanya mapala yang ikut latgab ini, banyak anak-anak sispala juga yang ikut dan nampaknya mereka belajar dari dasar, dari pengenalan alat sampai srt. Itu yang membuat kami lama menunggu. Saking lamanya kami suruh Onye untuk manjat pohon kelapa dan mengambil beberapa untuk dimakan. Masih kelamaan juga, Yoga dan Mucin sempat tertidur. Akhirnya giliran saya srt, karena sudah sangat lama saya tidak srt-an, memasang alat pun jadi tidak selancar dulu apalagi saat bagian memasang tali dan mengunci autostop (pesan sponsor: rajinlah latihan biar ga gampang lupa). Saya mencoba dua lintasan: polos dan intermediate. Saat di lintasan intermediate, ada panitia yang menginstruksikan sehingga lancar-lancar saja dan jadinya tidak terlalu lama menggantung. Selesai saya maencoba, saatnya giliran Yudha, Yoga, Onye, dan Mucin. Karena sudah jam 12 siang, kami pun inisiatif untuk masak sambil menunggu giliran mereka. Masak seadanya karena bumbu dapur di rumah saya habis huhu, kami pun masak nasi goreng dengan telur yang ga ada rasanya (garam di rumah juga habis). Naas tapi tetap habis karena laper.



Selesai latihan, kami pun pergi ke goa vertikal yang tadi kami datangi pertama kali, oh ternyata masih ngantri, yaah…kami menunggu lagi, tiduran lagi, dan si Yoga pun membaca Brady, buku kimia yang saking tebalnya bisa dijadikan bantal. Kalu diperhatikan, goa vertical ini hanya berupa retakan tanah saja karena tidak ada lanjutan secara horizontal pada dasar gua, dalamnya pun kurang dari 20 meter. Karena bosan menunggu, kami pun mengekor Mucin yang pergi ke lokasi goa lain yang dijadikan tempat ke dua untuk latihan srt. Goa yang ke dua ini pun tipenya sama dengan goa yang pertama karena pada dasarnya ini hanya retakan besar di tanah, mulut goa ini lebih besar dari mulut goa yang pertama. Yaah…kami tetap harus mengantri walau peserta di sini lebih sedikit daripada peserta di goa pertama karena di sini isinya panitia semua…para cavers yang dari mukanya (-__-;) saja sudah ketahuan jago dan peserta-peserta yang sudah expert (lebay). Waa saya jadi merasa paling junior di sini mengingat ini adalah srt pertama saya langsung di lapangan. Di sini kami bertemu lagi dengan anak-anak Bramatala yang entah habis dari mana. Pada saat mau turun, entah karena grogi atau bukan saya jadi lupa apa dulu yang dilakukan buat turun, mengingat selama ini kalau latihan srt di kampus kami naik dulu baru turun, sekarang turun dulu, daripada ketahuan bingung, saya minta bantuan panitia yang bernama Ka Bambang (bukan Bengbeng KMPA). Oo ternyata autostop nya dikunci dulu, lalu pasang jumar, dan buka autostop turun deh. Belum apa-apa saya sudah menjumpai line intermediate, untung masih fresh jadi ga ada masalah. Saya turun sedalam 20 meter. Benar-benar hanya retakan tanah karena tidak ada ornament atau kenampakan goa yang lain. Batuannya basah dan di dasar 20 meter masih ada tanaman, saya tidak perlu menyalakan headlamp karena masih cukup cahaya bagi saya. Setelah sampai dasar, saya naik lagi karena tak ada yang menarik. Lancar-lancar saja hingga saya keluar dari mulut goa. Wuih lumayan deh tapi ga capek-capek banget. Saatnya giliran Yoga, Yudha, Onye, Cacing, dan Fajar.

Hingga saat magrib, tinggal Yudha dan Cacing yang belum kebagian turun. Lumayan memakan waktu yang lama juga. Naas bagi Yudha, pada saat dia turun, panitia menawarkan makan bancakan bersama. Entah karena saya yang kelaparan atau yang lain lagi malas makan, saya menjadi last girl standing, jadi malu karena ketahuan makannya banyak (akhirnya saya bisa mengerti perasaan Nurul, cewek di GL XIX yang makannya banyak banget -___-). Kembali ke topik srt, sampai setelah selesai makan srt pun dilanjutkan kembali bagi yang belum turun. Karena menunggu sampai semuanya kebagian turun, saya pun tertidur hingga waktunya beres-beres karena materi hari ini sudah selesai. Itu artinya saya harus berjalan sangat jauh sekali untuk sampai ke base camp. Long march pun dimulai dengan menuruni bukit, banyak menelan korban juga alias kepeleset karena turunan dan gelap. Sampai juga di base camp, walau sudah malam, udara tetap panas. Sambil menunggu rapat evaluasi dimulai, lagi-lagi saya tertidur di teras rumah. Evalusi pun dimulai di dalam rumah, saya disuruh masuk mengikuti evaluasi. Pada intinya materi hari ini berjalan molor dan tidak sesuai target (target awal vertical rescue juga selesai hari ini) karena ternyata peserta banyak yang belum mengenal alat-alat srt sehingga harus diajarkan dari dasar. Keputusan lain dari rapat ini adalah besok akan ada materi vertical rescue dan pemetaan Goa Bojong. Tim dibagi dua sehingga mudah-mudahan tidak mengantri dan materi akan dimulai jam tujuh pagi. Tidur………………..!!

Minggu, 2 Mei 2010, saya bangun jam enam pagi. Oh masih banyak yang belum bangun. Pada latgab ini, yang perempuan tidur di dalam rumah dan yang laki-laki tidur di tenda. Saya jadi ingat teman-teman saya yang mendirikan flysheet merah di depan rumah warga, pasti mereka belum bangun. Waw ajaib…! Saya melihat mereka sudah bangun, bahkan Yudha dan Onye sedang masak.Saya rasa tidak perlu lah kita membahas makanan. Seselesainya makan, kami masih bersantai-santai karena walau sudah jam tujuh pagi, belum ada tanda-tanda materi akan dimulai bahkan banyak peserta yang masih masak atau mandi. Waktu luang itu kami gunakan untuk beres-beres di dalam flysheet merah sambil berbincang-bincang (-__-) dan menikmati teh panas. Sekitar jam setengah sembilan toa pun berbunyi tanda materi akan segera dimulai. Jadi materi dibagi dua menjadi vertical rescue dan pemetaan Goa Bojong, kalau keburu peserta bisa bertukar materi. Kami memutuskan untuk ikut materi vertical rescue dulu. Waw sedikit ternyata yang ikut materi vertical rescue. Saat materi berlangsung, saya merasa bingung karena caranya tidak dijelaskan, hanya dipraktekan. Kemudian peserta saling sharing metoda-metoda vertical rescue dan pak Mucin memeragakan metoda counter balance dengan Onye sebagai korban. Kemudian ada Ka Nizar dan Ka Jaya (Palawa Unpad) memeragakan rescue yang tekniknya mengangkat korban ke atas. Yoga pun ikut mencoba dengan Onye sebagai korban. Oh tiba-tiba Cacing (Bramatala) datang dan mengajak explore Goa Bojong. Saya dan Yudha pun menhianati Yoga dan Onye yang tengah tergantung di pohon.

Saya dan Yuda bersiap-siap dengan memakai coverall yang lagi dijemur, setelah siap, saya, Yudha, Cacing mulai berjalan menuju Goa Bojong. Tidak jauh dari base camp kita, terdapat sungai yang mengalir keluar dari mulut goa. Goa Bojong menjadi semacam terowongan raksasa bagi sungai ini, dari awal mulut goa hingga ujung mulut goa lagi seluruhnya berair karena memang jalur sungai. Kami pun menyusuri goa melawan arus sungai. Waa belum apa-apa tinggi airnya sudah seperut saya, ditambah lagi lumpur yang membuat saya susah berjalan. Saya pun menitipkan kamera pada Yudha yang lebih tinggi dari saya. Goanya cukup lebar dan tinggi, tampaknya Cacing kegirangan, dia berenang, ah airnya tidak sejernih sungai bawah tanah di goa Gombong, airnya lumayan coklat. Tak jauh kami berjalan nampak suara-suara yang sepertinya peserta latgab. Benar saja mereka ada yang sedang berenang dan ada yang duduk di ornament goa, ah buruk sekali, kedatangan saya disambut meriah dengan teriakan, ”Foto…foto…!!”. Oh mereka menyambut kamera yang saya pegang, bukan menyambut saya (-______-). Setelah sesi foto, kami melanjutkan explore goa, ternyata materi pemetaan goa nya selesai sampai di tempat foto-foto tadi. Kami pun melewati lorong berair yang menurut saya lumayan, tapi belum terlihat ornament yang menarik nih.

Akhirnya sampai di lorong kecil yang sempit karena banyak stalaktit ditambah dengan air yang makin meninggi, untung panitia sudah memasang tali di sisi kanan dinding goa, waw ternyata memang tinggi airnya melebihi tinggi badan saya. Sial saya tidak bisa mendokumentasikannya, padahal banyak ornament yang lumayan, apalagi setelah keluar lorong kecil itu banyak kanopi yang memercikan air…ahh saya tidak foto kanopi-kanopi itu. Entah karena waktunya terburu-buru atau hal lain, panitia menyusuri goa dengan cepat, saya tidak sempat hunting ornament-ornamen untuk di dokumtasikan…ahh sayang sekali. Akhirnya tu kamera saya serahkan ke Yudha karena saya yakin tidak akan sempat foto-foto ornament goa dan lorong yang berair. Hopeless. Saya pun mengikuti panitia, terus menyusuri goa yang airnya makin tinggi dan sangat berlumpur. Kadang kami harus lewat samping atas untuk menghindari air yang sangat dalam, tapi tetap saja saya harus melewati lorong berair yang tinggi airnya lebih tinggi dari saya sehingga saya harus berpegangan pada Yudha.

Dalam Goa Bojong ini, ornament yang dapat dilihat bermacam-macam, ada pilar yang sangat besar, kanopi, stalaktit, teras, dam alami, hingga stalakmit yang masih muda (masih putih). Walau bermacam-macam, ornament-ornamen ini warnanya tidak bagus, umumnya tidak putih (kecuali stalakmit). Kondisi di dalam goa pun banyak sampah, mungkin sampah rumah tangga masyarakat yang terbawa aliran sungai dan nyangkut di dalam goa. Pada saat melewati celah kecil karena terhalangi dinding goa yang besar, saya mulai merasakan bau-bau guano (yaks..) dan akhirnya saya pun melihat cahaya matahari…mulut goa pun terlihat…sesampainya di mulut goa, kami pun istirahat sebentar di bebatuan sungai. Saya, Yudha, dan teman lainnya memutuskan lewat jalan darat untuk mencapai base camp, sedangkan Cacing dan salah satu panitia memutuskan backtrack ke dalam goa karena ternyata Fajar dan Rizal (Bramatala) menunggu di dalam, atau karena Cacing ketagihan?

Ahhh…ternyata jalan darat melelahkan sekali, naik turun bukit ditambah dengan lewat pesawahan. Sesampainya di basecamp saya langsung mencari kamar mandi, ternyata semua kamar mandi umum dipakai, terpaksa saya memakai kamar mandi umum di dekat musola yang jaraknya lumayan jauh dari base camp. Selesai mandi dan sekembalinya di base camp, ternyata semua peserta sudah datang dan sibuk packing karena materi latgab telah selesai. Ternyata flysheet merah kami telah dibereskan begitu pun dengan logistic, sudah ter-pack dengan rapi, kecuali boot dan coverall saya. Setelah kami dan anak-anak Bramatala siap, sekitar jam empat kami meningalkan base camp menuju sekre TCC. Rupanya terlambat dua jam dari rencana panitia, panitia merencanakan materi selesai dan peserta bisa pulang jam dua siang, karena ada masalah peralatan yang saling tertukar dan administrasi, kami pun terpaksa menunggu sampai jam empat.

Saat menuju Tasik kota, pada waktu magrib, motor yang ditunggangi Cacing dan Yudha mengalami pecah ban. Saya, Mucin, Onye, Yoga pun turut berhenti dan ikut ke tempat tambal ban. Kebetulan sekali ada warung baso, sekaligus saja menunggu motor sambil makan malam. Jam tujuh malam kami mulai berangkat lagi menuju sekre TCC. Sekitar jam delapan malam kami tiba di sekre TCC, tanpa basa-basi kami langsung pamitan dengan semua peserta dan panitia yang sedang berkumpul disana. Jam setengah sembilan kami (KMPA dan Bramatala) beranjak dari sekre TCC menuju Bandung. Waa…hajar saja lah…karena besok kami harus kuliah. Perjalanan pulang selama kurang lebih tiga setengah jam bersama angin malam dan truk-truk barang berhasil membuat saya tepar, masuk angin, dan demam. Pesan moral: selalu pakai jaket kalau melakukan perjalanan dengan motor. Haha., tapi saya tidak pernah kapok, perjalanan latgab yang menyenangkan walaupun selalu ada kekurangan dan ketidakpuasan. Harapan saya sih, dalam kegiatan caving, etika caving harus dapat disepakati dan dijalankan oleh semua cavers, seperti tidak memegang atau menginjak ornament-ornamen muda yang masih tumbuh, tidak menduduki kanopi, dan tidak meninggalkan sampah di dalam goa karena kita (cavers) harus ikut bertanggung jawab menjaga ekosistem goa yang sensitif. Hoho…!! KMPA….GANESHA….!!

Perjalanan Pintu Angin





CATATAN PERJALANAN PINTU ANGIN
JULI 2010

Oleh Johan Santoso
GM-012-XIX

Jadi ceritanya kami GL GH XIX ingin mengadakan latihan navigasi darat tertutup. Tapi karena satu dan lain hal akhirnya hanya saya dan Bainul yang bisa mengikuti latihan ini. H-1 keberangkatan kami kumpul di sel untuk merencanakan latihan besok. Rencananya kami akan latihan di daerah Cikole dan finish di desa Cibeusi. Jalur sudah kami susun dan gambaran penampang pun sudah kami gambar di millimeter block.
Hari H pukul 08.00 kami berkumpul di SEL untuk melengkapi logistic kelompok. Kami belanja makan dan barang-barang kelompok lainnya. Rencananya kami berangkat pukul 12.00.
Sekitar pukul 13.00 kami selesai packing. Kami pun siap berangkat. Tapi ada usulan dari beberapa pembina untuk mengganti latihan ini menjadi galatuping agar lebih banyak anggota GL yang bisa mengikuti kegiatan ini. Kami pun berdiskusi dengan teman-teman yang lain. Akhirnya kami sepakat untuk mengadakan galatuping ke Pintu Angin selama semalam dengan peserta Johan, Bainul, Fanka, Hasti, Cahyo, Andy, Fya, Affan, Alam, Jarwo, Yanu, dan Maman.
Beberapa anggota kelompok berangkat menuju pintu angin menggunakan angkot. Kami berangkat dari SEL pukul 5 sore. Kami menggunakan angkot caheum ledeng yang berhenti di terminal ledeng. Lalu dilanjutkan dengan angkot yang menuju terminal Parongpong. Dari terminal Parongpong kami melewati villa Istana Bunga untuk menuju ke pintu angin. Dari Istana Bunga kami memotong punggungan sehingga kami langsung tiba di jalan setapak menuju pos pintu angin.
Tiba di sana hari sudah gelap. Kami melapor ke pos pemeriksaan dan disambut oleh seorang petugas (sebut saja Bonges). Kami diminta membayar uang administrasi sebesar Rp 5000. Tapi akhirnya kita tawar menjadi Rp 3000. Kami langsung menuju tempat camp yang biasa kami gunakan. Tapi sayangnya sudah ada kelompok lain yang menggunakan tempat itu. Akhirnya kami berjalan lagi sehingga menemukan tempat camp yang strategis di samping jalan setapak.



Kami langsung membuat camp, api, dan memasak makan malam. Setelah makan malam selesai kami santap, acara dilanjutkan dengan obrolan santai. Anggota tim lainnya baru tiba sekitar jam 11 malam. Acara tetap dilanjutkan dengan obrolan santai.
Malam itu kami habiskan dengan membicarakan kelanjutan ekspedisi GL GH, pentingnya komunikasi dalam tim, hal-hal ringan lainnya, dan tentunya minum kopi. Kami pun mengobrol panjang lebar mengenai pengalaman di subdivisi kami, baik suka maupun duka.
Matahari pun terbit. Kami mulai merasa ngantuk. Sebaliknya Maman justru semakin bergairah untuk mendaki ke puncak Gunung Burangrang. Kami pun masuk tenda dan tidur. Sedangkan Maman pergi mendaki sendirian ditemani dengan kamera kesayangannya. Sekitar pukul 7 pagi kamni dibangunkan oleh anggota Kopassus yang tidak senang dengan keberadaan camp kami. Kami pun disuruh membongkar camp. Setelah segelas kopi, anggota itu pun melunak. Kami justru mengobrol tentang pecinta alam dan pengalamannya perang di Aceh dan Papua.
Tidak lama kemudian ia pamit untuk melanjutkan patrol. Kami juga membereskan camp untuk siap-siap pulang ke Bandung. Setelah makan pagi, kami jalan menuju Pintu Komando. Sekitar 2 jam kemudian kami tiba. Kami naik angkot menuju terminal Parongpong. Dari situ kami naik angkot ke terminal Ledeng dan dilanjutkan dengan angkot caheum ledeng sampai di ITB.

Sabtu, 28 Agustus 2010

Latihan Survival di Ciherang




Latihan Survival Ciherang
Yang ikut:
dari GL ada 6 orang yaitu: Budi, Putra, Bainul, Idham, dan Johan
pembimbing ada 5 orang yaitu: Andi, Fya, Afan, Yudi, dan Gustav
Perjalanan latihan survival di Ciherang dimulai hari Jum'at tanggal 11 Juni 2010. Sesuai
kesepakatan, yang ikut latihan survival Cicenang ngumpul di sel jam 7 pagi. Namun dasar
kebiasaan, peserta tetap saja telat. Akhirnya setelah menunggu selama beberapa saat kami semua
berangkat menuju lokasi latihan survival jam 10.30
Kami berangkat menuju lokasi menggunakan carteran yang langsung menuju Tadjur, nama salah
satu desa di daerah Purwakarta. Tapi menurut Yudi dan Gustav, ada baiknya kita pergi
menggunakan kendaraan umum. Jika menggunakan kendaraan umum, dari sel menuju Ciroyom. Di
Ciroyom naik bus yang ke arah Purwakarta lalu turun di pertigaan Wanayasa. Setelah itu naik ojek
menuju ke desa Pasanggrahan kemudian langsung menuju desa Tadjur.
Kami sampai di Tadjur sekitar pukul 11.30. Kami lalu shalat jum'at di masjid yang ada di desa itu.
Lalu dilanjutkan dengan menikmati berbagai makanan sebelum mulai latihan survival. Kami semua
menikmati mie yang kami beli di warung dekat masjid. Sebagian menikmati baso yang kata Gustav
harganya cuma 2000.
Hari 1
Sekitar pukul 1 siang latihan survival dimulai. Kami mulai melakukan ormed untuk menuju sungai
Ciherang. Namun karena sedikit kesulitan, kami bertanya langsung kepada penduduk sekitar. Begitu
tahu rute menuju sungai Ciherang, kami langsung jalan.
Kami memutuskan untuk berjalan menyusuri sungai. Beberapa kali kami harus berbasah-basahan
karena nyebur ke sungai. Ketika hari sudah terlalu, kami memutuskan untuk camp. Budi yang
mengusulkan tempat camp tapi tempat itu ditolak. Gustav kemudian memimpin kami menuju
tempat camp yang sebenarnya. Kami langsung membuat bivak alam dan mulai mengumpulkan
makanan seperti jantung pisang dan batang pisang. Andi menemukan kodok. Lumayanlah
setidaknya ada daging buat makanan survival.
Ketika evaluasi kami tahu kalau tempat tadi tidak cocok buat camp survival. Selain itu tempat itu
juga terlalu jauh dari sumber air. Evaluasi lainnya ialah kami kurang dalam hal komunikasi
sehingga bivak cukup lama jadinya. Selain itu bivak kami juga masih jelek karena masih ada lubang
di atapnya. Dan yang paling penting kami belum membuat plot jalur mana yang akan kami lewati
dan titik tujuan.
Kami kemudian makan batang pisang dan jantung pisang yang direbus. Cukup lezatlah ketika masamasa
survival. Daging kodok tadi cuma dimakan sama Andi, Yudi, Gustav dan Johan. Yang lainnya
enggan mencoba dengan alasan haram. Ngobrol berlanjut masalah makanan haram. Sambil itu kami
mulai memplot jalur.
Hari 2
Hari kedua survival kami bangun pagi sekitar pukul 05.30. Arbi yang paling bisa bangun pagi
berhasil melakukan tugasnya walaupun dengan susah payah membangunkan yang lain. Setelah itu
semua kerja sesuai pembagian tugasnya. Ada yang masak, ada yang ambil air.
Sekitar pukul 08.30 kami semua baru selesai menikmati batang pisang rebus. Selanjutnya kami
melakukan pemanasan dan “tawuran” untuk menghancurkan camp survival. Setelah itu baru
perjalanan dilanjutkan kembali.
Sesuai plot jalur kami menyusuri sungai. Awalnya kami menebas-nebas pohon karena tak ada jalan
sehingga perjalanan agak lambat. Ketika Idham menemukan jalan setapak perjalananpun menjadi
cepat dan tetap mengikuti sungai. Di tengah perjalanan hujan turun cukup lebat. Sekitar pukul 12.30
kami tiba di sebuah aula yang kata Andi tempat dia acara akhir. Andi memutuskan untu membuat
camp tak jauh dari tempat itu.
Semua langsung mulai kerja mendirikan bivak. Dan dalam dua jam bivak jadi tapi bivak milik GL
atapnya roboh karena kelebihan beban. Para GL akhirnya tetap lanjut memperbaiki bivak. Malam
harinya diisi dengan kedinginan karena hujan siang tadi dan api ga bisa nyala.
Malam hari dilanjutkan dengan makan batang pisang rebus, jantung pisang rebus dan godaan untuk
mengakhiri survival. Godaan semakin tak tertahankan stelah melihat biskuit togo. Obrolan
kemudian berlanjut tentang evaluasi dan persiapan buat hari berikutnya dan juga masalah survival
dan trap hewan. Lalu ada obrolan tentang alien gara-gara Budi melihat fenomena aneh di langit.
Juru bicaranya Yudi yang jurusan Astronomi. Dan akhirnya kami semua memutuskan untuk
menutup survival pagi pada hari 3.



Hari 3
Tiba-tiba semua bisa bangun pagi sekitar pukul 05.30 tepat waktu. Karena hari ini penutupan
survival, semua mulai masak. Selama masak kami ngobrolin dajjal dengan jubirnysa Gustav.
Awalnya kami masak nasi kemudian baru masak mie. Di atas daun pisang nasi ditumpahkan
dibumbuhi mie dan kering tempe. Kami yang sudah ga sabaar langsung menghabisi makanan tadi
sampai bersih tak tersisa.
Kemudian kami melakukan penghancuran bivak survival. Kali ini Idham menjadi tokoh utama.
Sehabis itu kami melakukan pemanasan dan perjalanan kembali dilanjutkan. Idham memimpin di
depan dan Putra sebagai navigatornya. Setelah melakukan ormed, kami memutuskan untuk naik
suatu punggunangan sesuai plot ke arah tenggara. Ternyata itu merupakan punggungan yang salah.
Kami kemudian melakukan ormed lagi dan memutuskan untuk memotong ke arah timur laut. Jalan
yang kami lewati cukup terjal dan melelahkan karena harus nebas sana-sini.
Akhirnya setelah istirahat makan siang energi terisi penuh dan kami menemukan jalan setapak.
Kabar bagusnya jalan ini berada di punggungan yang kami plot. Kami susuri jalan ini sehingga
kami sampai di puncakan antara Gunung Burangrang dan Gunung Masigit. Di puncakan ini kami
sudah bisa melihat kebun dan jalan raya. Akhirnya tanda-tanda peradaban muncul juga.
Kami langsung tancap gas menuruni puncakan menuju pelana sebelah Gunung Masigit. Begitu
sampai kami belok kiri menuju jalan yang di ddaerah latihan koppasus (komando). Kami ikuti jalan
hingga sampai di jalan raya. Dari situ kami naik angkot carteran warna kuning menuju Bandung.
Kami tidak langsung ke kampus, kami mapir dulu ke De Kost, tempat makan seafood. Dengan
carrier di punggung dan pakaian kotor, kami tampil beda. Kami langsung memesan makanan
dengan mempertimbangkan budget yang tersedia. Ada yang pesan Gurame bakar, cumi-cumi dan
ayam. Kami saling berbagi lauk karena ada sebagian yang lauknya belum datang-datang bahkan
ketika nasi sudah habis dan perut sudah penuh. Begitu selesai makan kami langsung pergi menuju
kampus tercinta dan tiba sekitar pukul 20.30 malam. Akhirnya perjalanan latihan survival usai dan
siap menonton piala dunia.

Simulasi di Tegal Panjang





Hari 1

Sebagai rangkaian persiapan dalam ekspedisi Alas Purwo, GL GH mengadakan simulasi. Simulasi diadakan di daerah sekitar Tegal Panjang. Tim yang berangkat yaitu Putra, Budi, Bainul, dan Fanka didampingi Andi. Johan kemungkinan menyusul. Simulasi ini diketuai Putra.

Kami berangkat dari sel jam 15:30 pada Rabu tanggal 14 Juli 2010. Dari ITB kami naik angkot Cisitu-Tegalega yang ke arah Tegalega. Kami turun di Tegalega. Dari Tegalega kami naik elf ke arah Pengalengan. Total biayanya sekitar Rp 20.000.

Mungkin karena hujan, aku tertidur hampir sepanjang perjalanan dari Tegalega-Pengalengan. Sekitar pukul 18:00 kami tiba di depan pintu gerbang kebun Malabar. Sebenarnya elf yang kami tumpangi ga nyampai ke situ, namun kami membayar lebih.

Begitu kami tiba kami langsung cari makan. Kebetulan ada warung buka di pasar kecil yang berada di deket pintu gerbang kebun. Warung itu jual ayam goreng dan sepertinya hampir habis. Untungnya cukup buat kami berlima. Setelah itu kami sempat kepikiran buat mendirikan tenda. Namun setelah bertanya ke satpam, kami boleh memakai pos yang sudah ga dipakai lagi.

Hari 2

Pagi-pagi sekali kami dibangunkan oleh satpam. Kulihat jam dan ternyata sudah pukul 5 pagi. Seperti kata satpam, tujuan kita ialah ke Cibutarua dan untuk ke sana kami harus numpang truk yang mengangkut teh.

Sebelum berangkat, kami makan di tempat yang berjarak 4 kios dari tempat makan kemarin malam. Di situ jual nasi dengan berbagai lauk. Jam masih pagi dan makanan masih terlihat hangat dan lezat. Kemudian kami segera berdiri di deket pos sambil menunggu truk yang lewat.

Banyak sebenarnya truk yang lewat tapi kebanyakan mereka membawa pekerja atau hasil kebun. Kami lama menunggu dan kami tak kunjung dapat transport. Aku jelas udah capek menunggu. Memang transport perjalanan kali ini kurang mendapat perhatian. Dan akhirnya dengan sedikit bantuan dari satpam kami akhirnya bisa berangkat menggunakan pickup.

Sekitar jam 10:30 kami sampai di Cibutarua. Kami jalan sebentar hingga akhirnya menemukan sebuah musholla kecil. Kami mengambil air dan segera melakukan ormed. Target kami ialah terus ke arah tenggara dari tempat kami berada hingga akhirnya sampai lembah sebelum kawah Domas.

Kami pun jalan melewati perkebunan teh di kanan-kiri kami. Posisi segera ditetapkan, Aku dan Putra berposisi sebagai navigator, Fanka merangkap tim jamur dan dokumentasi, Bainul seperti biasa menjadi porter.

Kami terus jalan sampai akhirnya jalan setapak habis dan kami pun menemukan jamur pertama kami. Aku melihat jalan setapak. Aku dan Putra mengecek jalan itu. Setelah beberapa jauh, aku dan Putra kembali dan memutuskan untuk membawa tim menyelusuri jalan itu.

Hari sudah sangat sore. Aku sudah sangat kelelahan dan persediaan airpun menipis. Untungnya kami menemukan selang-selang air di kanan kiri kami. Selang air kelihatan sudah dibolongi sama yang lainnya. Kami mengambil ambil air di situ.
Kami terus jalan dan pukul 17:30 kami tiba di deket kawah. Aku ga yakin apa betul itu target kami, namun setidaknya tempat itu sangat nyaman untuk mendirikan camp. Kami kemudian bertemu dengan temen-temen dari HIMPALA yang sedang mengadakan diklatsar. Kami nge-camp bergerombol bersama mereka.

Hari 3

Setelah bersiap-siap dan sarapan, pukul 9 pagi kami melanjutkan perjalanan. Target kami hari ini ialah Tegal Panjang sambil mengoleksi jamur di sepanjang perjalanan. Formasi tetap sama seperti kemarin. Di sepanjang jalan ini kami menemukan banyak sekali jamur hingga botol yang kami bawa tidak mencukupi.

Kami terus jalan ke utara dan kami semakin jarang menemukan jamur. Jamur yang kami temukan warnanya dan bentukanya bermacam-macam, ada yang bewarna merah, kuning dan ada pula yang hidup menempel pada pepohonan. Sekitar pukul 13:30 kami sampai di padang yang luas.

Awalnya kami tak yakin apakah kami sudah sampai di Tegal Panjang. Namun tanda-tanda menunjukkan seperti itu dan akhirnya kami bisa istirahat dengan tenang. Tegal Panjang merupakan padang rumput yang luas yang dikelilingi hutan-hutan. Ada bekas aliran sungai besar di tengah-tengahnya. Setelah puas berfoto-foto, kami mendirikan camp di tempat yang agak tinggi sehingga kami bisa menatap bentangan tegal panjang.

Hari mulai gelap. Tim DU kami, Fanka, mulai masak dan bintang pun satu per satu mewujudkan dirinya. Beberapa saat selepas magrib, Johan ditemani Cahyo dan Yoga menampakkan wajahnya.

Selepas makan makanan kami plus sate ayam yang dibawa tim susulan, kami duduk ngumpul-ngumpul di api unggun yang membesar. Evaluasi, briefing keesokan harinya, dan ngobrol sampai malam tak bisa diajak bersahabat lagi. Sebelum tidur aku sempat berpuisi sebentar di hadapan bintang-bintang malam itu.



Hari 4

Karena rasa penasaran, kami memutuskan untuk ke Tegal Mariuk. Yoga dan Cahyo tetap di camp Tegal Panjang. Aku, Putra, Johan, Fanka, Bainul, dan Andi berangkat ke Tegal Mariuk. Pukul 10 pagi kami meninggalkan camp Tegal Panjang.

Kami jalan ke arah timur laut dengan posisi awal, aku sebagai perintis; Putra sebagai navigator; Fanka tetap sebagai tim jamur; Johan dan Bainul sebagai porter. Beberapa saat kemudian Aku dan Johan bertukar posisi. Dan pada akhirnya Bainul sebagai perintis; aku sebagai navigator; Johan dan Putra sebagai porter. Pukul 13:00 kami tiba di Tegal Mariuk.

Tegal Mariuk itu seperti Tegal Panjang hanya lebih sempit. Kami istirahat siang di situ sebelum akhirnya hujan melanda. Kami memutuskan balik ke camp Tegal Panjang namun tidak lewat jalan yang tadi pagi. Kami lewati jalan setapak yang sudah ada sambil berhujan-hujan.

Sore jam 4 kami tiba lagi di Tegal Panjang. Cuacanya sudah cerah lagi. Namun beberapa saat menjelang magrib hujan turun lagi. Kecuali DU, semua orang bersembunyi di dalam tenda. Begitu kami makan, hujan rintik-rintik masih turun. Sampai kami selesai makan, hujan belum berhenti. Kami akhirnya memutuskan evaluasi dan briefing di dalam tenda dan dilanjutkan tidur. Hujan dan angin masih ribut di luar tenda.

Hari 5

Pagi masih dalam suasana berkabut. Kami bangun lalu bersiap-siap untuk balik ke Bandung. Sekitar pukul 9 pagi kami meninggalkan camp Tegal Panjang. Kami jalan ke arah barat agak selatan untuk tiba di Cibutarua. Kami tiba di situ pukul 12:00 dan menunggu truk yang lewat.

Karena harus menjemput adiknya, Putra harus segera pulang. Namun truk gratis tak kunjung lewat. Ketika Putra mulai berjalan untuk memanggil truk yang bayar, truk yang gratis pun lewat. Tanpa pikir panjang kami langsung naik walaupun kami harus menginjak-nginjak pisang yang memenuhi lantai bak truk.

Sekitar pukul 3 sore kami tiba lagi di Pengalengan. Kami sempet mencicipi susu Pengalengan sebelum akhirnya naik elf lagi ke Bandung. Pukul 17:30 kami tiba di Tegalega. Akhirnya beberapa saat menjelang isyak, kami tiba di sel dengan selamat.

(GM-001-XIX)

Latihan SAR & P2 @Sanggara





Catatan Perjalanan Latihan P2+SAR di Sanggara
Oleh Johan Santoso
Peserta: Bainul, Idham, Johan, Hasti
Pemateri: Andy, Affan, Gustaf
Hari I Jumat, 4 Juni 2010
Pada hari Kamis 3 Juni 2010 peserta perjalanan berkumpul di rumah Bainul (markas GH). Kami membicarakan perjalanan besok dan juga proposal XPDC Alas Purwo Ganesha 2010. Setelah mantap, kami pulang ke rumah masing-masing. Besoknya kami kumpul di SEL jam 8 untuk packing logistic. Sekitar jam 11 logistik selesai dipacking masuk ke carrier masing-masing. (Terima kasih buat Idham+Bainul sebagai porter). Jam 11.00 semua peserta kumpul dan barang sudah siap dibawa. Setelah briefing singkat pukul 11.30 kami berangkat dari SEL setelah dilepas beberapa anggota KMPA lainnya.
Karena peserta latihan kali ini hanya 7 orang kami memutuskan untuk berangkat dengan angkot ngeteng. Perjalanan dimulai menggunakan angkot Caheum Ledeng sampai terminal Ledeng dengan ongkos tiga ribu rupiah. Setelah itu dilanjutkan dengan angkot Ledeng-Lembang sampai pasar Lembang seharga tiga ribu rupiah lagi. Ditutup dengan angkot Lembang-Patrol seharga lima ribu rupiah.
Jam 2 siang kami sampai di Patrol. Sayangnya hujan turun. Kamipun berjalan ke Gunung Sanggara di bawah guyuran hujan deras. Dari Patrol kami berjalan terus sampai desa Pangheotan jam 4 sore. Di sana kami beristirahat di warung dan beberapa teman kami menunaikan ibadah shalat di Masjid. Di warung yang berdekatan dengan tambak ikan yang sering dijadikan tempat pemancingan, kami menambah logistic makanan kami. Tiga ekor ikan dan sekantung kerupuk dibeli oleh Gustaf dan Andy. Pukul 16.30 kami melanjutkan perjalanan menuju Gunung Sanggara. Melewati sebuah desa dan kebun-kebun akhirnya kami tiba di camp pukul 18.00.
Tim pun segera bergerak mendirikan camp, mencari kayu bakar, dan memasak. Sayangnya tenda yang kami bawa ternyata rusak. Alhasil tenda yang sudah susah payah kami bawa hanya dijadikan tempat meletakkan tas dan beberapa logistic lainnya, sedangkan kami tidur di Fly Sheet. Setelah tenda dan fly sheet berdiri kokoh serta api pun menyala, kami pun memasak dan duduk di sekitar api yang hangat bersama.
Menu malam itu sangatlah mewah. Tumis kangkung, tumis tahu, dan tentunya tiga ekor ikan bakar hasil eksperimen Gustaf dan Idham, tak lupa taburan kerupuk. Kami semua makan dengan lahap di atas beberapa lembar daun pisang. Otol
Selesai makan, acara dilanjutkan dengan evaluasi dan briefing untuk materi besok. Setelah ngobrol-ngobrol di sekitar api, kami semua masuk ke fly sheet untuk tidur dan beristirahat.

Hari II Sabtu, 5 Juni 2010
Sesuai briefing pada hari pertama, kami semua bangun pukul 05.30. Seperti biasa Hasti dengan suaranya yang seperti alarm membangunkan kami tanpa perasaan. Kami pun (terpaksa) bangun dan langsung pergi ke sungai untuk mencuci nesting dan mengambil air untuk keperluan Dapur Umum.
Selesai sarapan dan beres-beres logistic keperluan latihan SAR, kami semua berkumpul untuk briefing dan pemanasan. Hari itu kami (akhirnya) siap tepat waktu. Pukul 8 kurang kami sudah siap dengan pakaian lapangan dan sebuah tas keperluan logistic. Dua buah botol air minum berukuran @1,5 L, dua buah tali webbing, sebuah kotak P3K, biscuit makan siang, dan dua buah ponco siap dibawa oleh porter kami Idham.
Latihan SAR kali ini dikondisikan bahwa korban hilang di sekitar Gunung Sanggara. Kamipun diharusnkan untuk menyisir seluruh karpak tersebut. Kami memutuskan untuk menggunakan metode potong kompas. Sebelum memulai operasi SAR, kami melakukan orientasi medan untuk menentukan titik awal operasi. Setelah itu kami langsung berangkat ke titik tersebut dan memulai operasi SAR kami. Tim diketuai oleh Johan. Kami langsung bergerak menuju utara. Lembahan dan punggungan kami susuri untuk mencari korban. Tidak peduli ada halangan apapun di depan mata, dengan senjata sebilah golok tebas kami tetap melanjutkan perjalanan ke utara. Sekitar satu jam perjalanan, kami tiba di sebuah punggungan panjang kearah utara. Kami pun mendapat kabar dari base camp bahwa ditemukan tanda-tanda korban di punggungan tersebut. Kami pun bergerak dengan metode susur punggungan. Kami menyusuri punggunan tersebut dengan jarak masing-masing anggota tim sekitar 3 meter. Beberapa tanda kehidupan dari korban pun kami temukan seperti adanya stream line, bekas camp, dan jejak lainnya. Tak lama, kami mendengar suara dari korban (baca: Affan) di pinggir punggungan. Timpun bergegas menuju arah korban untuk menolongnya.
Kami pun segera memindahkan korban ke tempat yang aman. Setelah itu tim dibagi, Idham dan Hasti memberikan pertolongan pertama ke korban sedangkan Johan dan Bainul membuat tandu untuk mobilisasi korban. Korban dikondisikan menderita patah tulang paha dan memar di tangan. Setelah korban berhasil distabilkan, kami pun pergi ke base camp dengan panduan bainul dan Hasti yang mencari jalur evakuasi menuju base camp. Tapi kali ini korban diganti dengan beberapa balok kayu yang didapat selama perjalanan untuk digunakan sebagai kayu bakar. Sayangnya, kami sempat tersesat karena salah mengambil punggungan. Kami pun melakukan ormed. Akhirnya dengan susah payah pada pukul 14.30 siang kami tiba di base camp dengan selamat.
Di camp kami melakukan evaluasi terhadap materi yang baru saja di simulasikan. Evaluasi yang didapatkan ialah penanganan korban masih kurang baik. Setelah itu acara dilanjutkan dengan acara bebas. Beberapa dari kami tidur siang di fly sheet. Sisanya berusaha menghidupkan api dan memasak. Makanan kami sore itu adalah Nasi Hainam dan kerupuk buatan Andy. Setelah makan, beberapa dari kami pergi untuk mencuci nesting, mengambil air dan mencari kayu bakar karena api yang sudah dibuat mulai membesar sehingga kayu mulai habis.
Malam harinya kami memasak bersama di sekitar api unggun yang sangat besar yang sudah dibuat dari sore tadi. Tapi sayangnya sebelum makanan kami matang, hujan turun. Kami pun segera pindah ke fly sheet dan api ditutupi dengan daun pisang sisa makan tadi sore. Untungnya setelah kami selesai masak, hujan berhenti. Kami pun segera keluar dari fly sheet dan melanjutkan masak. Beberapa dari kami menghidupkan kembali api yang sudah mati. Tidak lama kemudian, makan malam siap. Kami pun makan bersama di atas daun pisang yang sudah diambil sejak sore. Setelah makan kami melanjutkan dengan evaluasi dan briefing untuk besok. Sesuai kesepakatan, sesuai dengan kaidah komunikasi radio, pada simulasi SAR kedua, kami mengganti nama tim kami dari SRU I menjadi tim Rider dan base camp menjadi Fiesta. Setelah itu kami berbincang-bincang sejenak lalu beristirahat di fly sheet di bawah guyuran hujan yang kembali turun.



Hari III Minggu, 6 Juni 2010
Seperti biasa kami bangun pukul 5.30. Kami berberes-beres, mengambil air, mencuci nesting, memasak, menyiapkan logistic SAR, dan membereskan logistic lainnya karena sore nanti kami akan pulang ke desa.
Sayangnya hari ini kami terlambat. Jam 9 kurang kami baru siap berangkat. Kami pun melakukan briefing singkat dan pemanasan. Perjalanan dilanjutkan dengan metode susur sungai karena tanda-tanda korban ditemukan di sekitar sungai yang mengarah ke utara. Komandan tim pertama adalah Bainul. Kami langsung bergerak menuju titik awal pencarian. Dari situ kami pun menyusuri sungai di bawah komando Bainul. Beberapa tanda sepert kaos kaki ditemukan selama pencarian. Setelah satu jam pencarian komando diambil alih oleh Idham. Pencarian berlangsung dengan lancar, sampai kami menemukan sebuah jeram besar. Kami pun memutuskan untuk menyusuri punggungan sampai jeram tersebut berakhir. Komando diserahkan ke Hasti. Kami melanjutkan susur sungai. Hujan turun dengan lebat. Tidak lama, kami menemukan sebuah jas hujan milik korban di sungai. Tidak jauh dari penemuan jas hujan tersebut, kami menemukan korban tergeletak di pinggir sungai. Kami pun langsung bergerak menemui korban dan memberikan pertolongan pertama. Johan dan Hasti bertanggung jawab memberikan pertolongan pertama. Sedangkan Idham Bainul melakukan pekerjaan lainnya dan mencari jalur evakuasi. Kali ini korban (baca: Andy) tidak sadarkan diri. Setelah berhasil disadarkan, ternyata korban mengalami hipotermia dan patah tulang tangan. Kami pun segera menstabilkan kondisi korban. Kami mengganti bajunya dengan baju Johan yang masih kering dan menyanggan tangannya dengan bidai. Kami pun melanjutkan pertolongan pertama. Namun korban kembali tak sadarkan diri dan detak jantungnya berhenti. Kamipun segera memberikan RJP kepadanya. Untungnya korban berhasil kami selamatkan. Kami pun memobilisasi korban dengan cara memapahnya.
Setelah itu kami langsung bergerak menuju base camp. Kami bergerak cepat karena medan yang sudah diketahui. Sayangnya kami (lagi-lagi) salah mengambil punggungan dan melewati jalur kemarin. Untungnya kemarin kami sudah membuka jalur yang enak sehingga kami bisa dengan leluasa melewati jalur tersebut. Kami tiba di camp pukul 14.30 dan isitirahat makan siang serta evaluasi di bawah fly sheet karena hujan mengguyur kami. Evaluasi tim hari itu ialah, tim yang kurang teliti mencari tanda-tanda serta pergerakan tim harus berasal dari komando ketua tim. Setelah itu kami langsung menyiapkan logistic karena kami akan segera menuju desa Patrol untuk pulang.
Pukul 3.30 sore kami berangkat dari camp ke desa. Kami mempercepat langkah kami untuk mengejar angkot. Sayangnya angkot yang kami kejar ternyata sudah tidak ada. Maka kami mampir di Desa Sukalayu untuk beristirahat di warung setempat. Pukul enam sore kami melanjutkan perjalanan ke desa Patrol. Sejam kemudian kami tiba di Patrol. Setelah beristirahat sejenak dang anti baju, kami memasak di depan warung yang sudah tutup. Kami pun makan malam di atas daun pisang yang kami ambil dari kebun warga. Setelah itu kami pun tidur di depan warung yang tutup tersebut setelah meminta izin ke empunya warung,
Hari IV Senin, 7 Juni 2010
Kami bangun di pagi hari pukul 6 pagi. Setelah menghangatkan diri di api yang dibuatkan oleh warga sekitar, kami berangkat menuju Lembang menggunakan angkot yang sudah stand by dari pukul 5 tadi.
Kami berhenti di pasar Lembang dan bergerak menuju warung nasi kuning untuk makan pagi. Setelah kenyang sarapan, kami melanjutkan perjalanan ke terminal Ledeng. Dari terminal ledeng, dilanjutkan dengan angkot Caheum Ledeng menuju SEL.
Tiba di SEL pukul 7 pagi, kami langsung melakukan evaluasi. Setelah itu kami membereskan logistic yang kami gunakan selama latihan. Sekitar pukul 10 kami selesai dan pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat.

GM-012-XIX
Subdivisi Gunung Hutan

Peserta latihan + Affan
Mencari jejak korban
Evakuasi korban

Pendakian Semeru





Hari 1

Berawal dari ekspedisi ke Alas Purwo yang kami batalkan, aku, Idham, Fanka, Hasti, Bainul,
dan Johan memutuskan untuk muncak ke Semeru. Segala persiapan menjadi serba dadakan. Senin
pagi tanggal 26 Juli 2010 kami semua segera memberesi masalah perwalian yang kemungkinan
kami ga bisa mengikutinya.
Sesuai jadwal, Senin sore kami berangkat. Kabar buruk datang detik-detik sebelum
keberangkatan, Bainul ga bisa mengikuti perjalanan kali ini. Pukul 17.15 aku, Idham, Fanka,
Hasti, Andi, dan Johan meninggalkan sel. Kami naik angkot Cisitu-Tegalega dan turun di Stasiun
Hall.
Pukul 18.30 kami naik kereta ke arah Stasiun Padalarang. Pukul 19.30 kami tiba di Stasiun
Padalarang. Pukul 20.15 kereta Kahuripan yang kami tumpangi memulai perjalanan panjang ke
stasiun Kediri. Stasiun Hall Bandung kami lewati begitu saja. Seperti biasa kereta ekonomi
seperti Kahuripan jarang berhenti di stasiun utama, paling-paling berhenti di stasiun-stasiun kecil.
Kereta Kahuripan berhenti di Stasiun Kiara Condong. Di sini pula si Cahyo naik bawa nasi
goreng. Makan malam tiba!
Kereta yang tadinya sepi tiba-tiba saja menjadi serame pasar. Penumpang berdesakan gak karuan.
Fanka, Cahyo, Hasti duduk satu kursi, Idham dan Johan duduk satu kursi pula. Mereka saling
berhadapan. Aku dan Andi membentuk kelompok sendiri di kursi di belakang mereka.
Perjalanan ke Kediri benar-benar panjang dan agak membosankan. Kami sepakat membeli TTS
buat mengisi kebosanan. Dan ternyata ada bapak-bapak yang jago benar ngisi TTS. Dia duduk
di depan Andi dan selalu bisa menjawab TTS. Kelihatannya dia memang sudah punya banyak
pengalaman. Konon dia bersama lima temannya yang berasal dari berbagai daerah pernah
bekerjasama hanya untuk mengisi TTS.
Hari 2
Pagi datang dan Kahuripan belum juga tiba di Kediri. Sawah-sawah tetep aja ada di samping rel
kereta. Aku dan Andi beli nasi dengan lauk ayam.
Sekitar jam 10:00 kereta berhenti cukup lama di Madiun. Padahal kalau menurut jadwal, kereta
harusnya tiba di Kediri jam 11:00. Kami duduk-duduk dulu di peron sambil minum es dawet
yang seger.
Dan ternyata seperti biasa juga kereta telat dan baru nyampe Kediri jam 14:00. Begitu nyampe
di Kediri kami langusng beli tiket kereta Doho tujuan Malang untuk keberangkatan 14:15.
Dan seperti biasanya kereta itu juga telat. Jam 15:30 kami baru berangkat. Sepanjang perjalanan
Andi dan Cahyo duduk berkelompok sendiri; Hasti duduk sendirian kursi agak depan; Aku,
Fanka, Idham, Johan main kartu di kursi agak belakang sampai akhirnya, "J#nc#k!!!"
Permainan berhenti. Kami mulai ngobrol dengan agak berbisik dan ada bapak-bapak agak tua
duduk di samping Idham. Bapak itu banyak bercerita tentang dirinya dan masa lalunya. Dia dulu pernah ke Timor Leste waktu keadaan memanas. Lalu dia juga banyak mentraktir kami makanan
yang di jual oleh pedagang-pedagang kereta.
Walaupun lokomotif sempat mengalami gangguan sehingga kereta harus terhenti hampir sejam,
kami akhirnya tiba dengan selamat di Malang jam 21:00. Kami langsung menuju ke sekretariat
IMPALA Universitas Brawijaya.
Setibanya di IMPALA, Cahyo tidak bisa ikut ke Semeru dan dia pergi ke rumah neneknya.
Sisanya menginap di sekretariat IMPALA. Sebelum tidur kami semua disarankan untuk cuci kaki.
Ritual cuci kaki ini bukan untuk alasan kesehatan, tapi jaga-jaga saja biar ga ditemui sesosok
wanita cantik yang telah lama ikut mendiami sekretariat IMPALA.



Hari 3
Rabu pagi tanggal 28 kami semua mempersiapkan diri. Logistik yang belum ada segera kami
lengkapi. Agak siangan kami semua membuat surat keterangan sehat di puskesmas yang ada di
sekitar Unbraw (aku lupa namanya). Yang jelas dari gerbang belakang Unbraw yang deket jalan
MT Haryono naik sekitar 300 m, sebelum pertigaan belok ke kanan.
Setelah persiapan beres, pukul 13:00 kami mulai perjalanan menuju puncak Semeru. Awalnya
kami naik angkot ADL yang ke arah Arjosari. Begitu tiba di Arjosari perjalanan dilanjutkan
menggunakan angkot AT dan kemudian turun di pasar Tumpang. Jalan menuju Tumpang agak
sedikit terhambat gara-gara ada Calon Bupati yang sedang kampanye.
Perjalanan harus dilanjutkan dengan menggunakan jip menuju Ranu Pane. Karena sopir jip tak
mau berangkat kecuali ada 15 orang. Terpaksa kami menunggu sambil menikmati parade Bupati
yang lagi kampanye. Sampai magrib ternyata kami masih diam di tempat. Idham, aku, Hasti
shalat magrib di masjid deket pasar Tumpang. Seusai shalat Idham tanya ke satpam masjid
tentang alternatif pergi ke ranu pane. Ternyata selain jip kita bisa naik truk. Tapi truk itu
berangkatnya pagi-pagi sekali sekitar sehabis subuh.
Kami akhirnya tahu juga bahwa ada orang yang sangat baik sekali namanya Pak Rusno. Kami
memutuskan untuk tidur di rumahnya. Rumahnya terletak di sebelah utara pasar Tumpang dan
agak masuk gang ke arah timur. Belakangan aku tahu dari tetanggaku bahwa rumah Pak Rusno
ternyata “pos” yang cukup populer jika mau pergi ke Semeru.
Hari 4
Sesuai informasi, kami berangkat dari Tumpang pagi-pagi sekali, naik truk yang mau ke Ranu
Pane. Dan ternyata pak Rusno adalah sopir truk yang ke Ranu Pane. Perjalanan ke Ranu Pane
benar-benar lama dan medannya terus nanjak dan nanjak terus. Suatu waktu truk rasanya hampir
tergelincir ke belakang. Kami juga diminta untuk berkumpul di bak paling belakang untuk
menjaga truk biar ga tergelincir. Namun semua itu ditebus oleh pemandangan sepanjang jalan
yang memang wah. Hijau pohon-pohon bener-bener menyejukkan mata.
Sekitar pukul 08.30 kami sampai di Ranu Pane. Kami yang dari subuh tadi belum makan
apapun kecuali gorengan langsung menuju warung yang ada di deket pos Ranu Pane. Tempegoreng plus sayur lodeh pun memuaskan kelaparan kami di tengah hawa yang dingin. Dan benar
apa kata seorang penjual gorengan yang kebetulan satu truk dengan kami, ternyata makan di
Ranu Pane ini teramat mahal. Nasi, tempe dan sayur lodeh berharga Rp 10.000. Wow!!
Setelah urusan perut beres, urusan administrasi segera kami selesaikan. Setiap orang diharuskan
memiliki surat keterangan sehat lalu membayar bea sekitar Rp 15.000. Di dinding sempat kubaca
nama-nama korban meninggal di gunung Semeru. Ternyata banyak juga ya.
Setelah melakukan pemanasan, pukul 10.00 kami memulai pendakian. Target kami hari ini ialah
sampai Kalimati, pos terakhir sebelum sampai puncak. Tapi ternyata itu cuma “isu”. Setelah
melewati jalanan berpaving selama 2 plus 1 jam jalanan tak berpaving; berhenti setiap 1 jam di
pos-pos kecil, ditemani pemandangan yang benar-benar memanjakan mata, kami akhirnya sampai
di Ranu Kumbolo, pos kedua setelah Ranu Pane.
Kami istirahat siang, duduk, masak sambil memandangi Ranu Kumbolo. Danau biru kehijauan,
dikelilingi perbukitan, dengan langit biru dan mentari yang bersinar cerah. Kami terbius.
Akhirnya Idham, sang ketua perjalanan, memutuskan untuk mendirikan camp di Ranu Kumbolo.
Rame sekali di Ranu Kumbolo. Banyak orang dari mana-mana. Kami mendirikan kamp dalam
shelter yang telah ada. Kami bertetangga dengan dua orang Jember, Rio dan Asa. Rio
mengingatkan kami pada Yasir yang gendut, tapi kegendutan Rio ternyata mengalahkan
kegendutan Yasir.
Di Ranu Kumbolo, ada yang namanya “tanjakan cinta”. Alkisah jika anda naik tanjakan itu;
anda memikirkan orang yang anda cintai; lalu anda naik terus tanpa sekalipun menoleh ke
belakang ataupun berhenti; maka dialah cinta sejati anda.
Hari 5
Malam kemarin yang dingin juga masih terus berlanjut hingga kesokan paginya. Yang mau
wudhu buat sholat subuh jadi berpikir dua kali. Tapi mau ga mau ya harus “nyemplung” ke
Ranu Kumbolo.
Setelah bersiap-siap, masak, sarapan plus foto-foto, kami siap berangkat. Target kami hari ini
jelas, sampai Kalimati. Sebenarnya sempet terpikir untuk mencapai Arcopodo, tapi di sana
ternyata ga ada sumber air. Dan jarum jam menunjuk pukul 09:00 ketika kami mulai jalan.
“Tanjakan cinta” kami naiki dengan pelan-pelan dan santai. Kulihat Fanka dan Hasti serius pisan
naiknya. Idham pun sudah tak terhitung berapa kali ia berhenti dan menoleh ke belakang.
Setelah tanjakan cinta, ada Oro-oro Rombo menanti. Padang ilalang membentang sepanjang
penglihatan kami. Dan tinggi ilalang melebihi tinggi badan kami. Setelah itu kami memasuki
hutan lagi.
Beberapa ratus meter sebelum tiba di Kalimati, kami berpapasan dengan para kakek-kakek
beserta para porter mereka. Kakek-kakek itu konon dulu punya klub adventrue, dan kini mereka
sedang bereuni ria. Kami sempet foto-foto bareng mereka berlatarbelakangkan puncak Semeru.
Setelah 4 jalan kami tiba di Kalimati. Suasananya kering. Ilalang tumbuh tak begitu tinggi, ada
bekas aliran lahar, ada banyak edelweiss, dan angin bertiup sangat kencang.
Setelah memilih lokasi yang pas buat nge-camp, para pria mendirikan camp sementara para gadis
ditemani mas mengambil air. Para pria selesai mendirikan tenda … dan ternyata Fanka, Hasti
dan mas … belum juga balik. Ternyata lokasi sumber air berjarak 2-3 kilometer dari camp. Aku
dan Idham sempet merasakan ketika kami mendapat giliran ambil air.
Sore kami mulai masak buat makan karena kami berencana tidur lebih awal dan bangun pukul
00:00 untuk mulai jalan ke puncak beserta rombongan yang lain. Makin menuju malan udara
makin dingin. Minuman yang baru mendidih pun jadi tak terasa panas lagi. Kami sempat
diingatkan untuk tidak minum minuman yang baru mendidih biar bibir kami ga pecah-pecah.
Kami semua spontan langsung memakai segala jenis pakaian yang kami bawa. Aku sendiri
memakai baju lapis 4, kaos-kemeja-jaket-anorak (diurutkan dari dalam). Dan begitu kami selesai
makan, kami langsung menutup tenda rapat dan menyelimuti tubuh dengan sleeping bag masingmasing.
Hari 6
Pukul 00:00 kami semua bangun, siap-siap mendaki. Namun ternyata Idham ga jadi ikut muncak.
Aku ga tahu apa karena kedinginan, sol sepatu yang lepas sejak dari Ranu Kumbolo, atau
menjaga camp. Yang jelas rasanya ga enak mendaki tanpa dipimpin ketua rombongan.
Sebenarnya kami agak telat karena ternyata rombongan kakek-kakek udah berangkat duluan.
Kami segera menyusul. Begitu memasuki hutan entah mengapa aku kesulitan bernafas. Apa aku
sakit, atau efek ketinggian yang membuat udara tipis, atau pepohonan yang terus memproduksi
karbon dioksida. Kami berhenti cukup lama di Arcopodo. Melepas lelah sambil menatap jutaan
bintang yang menghiasi angkasa malam. Indah dan baru kali ini aku melihat langit malam
seperti ini.
Setelah dirasa cukup perjalanan dilanjutkan kembali. Kami akhirnya sampai di Cemoro Tunggal,
batas vegetasi. Kami menatap hamparan pasir yang terus meninggi. Di sanalah puncak yang
kami tuju.
Kami mulai mendaki. Terlihat sudah ada beberapa orang di atas. Rombongan kakek-kakek tidak
lanjut. Dan kulihat masih banyak lagi yang ada di bawah.
Perjalanan ke puncak benar-benar tak mudah. Jika salah mengambil langkah, kaki tergelincir dan
pasir pun jatuh ke bawah. Sangat disarankan menghormati pendaki lain dengan tidak menjatuhkan
pasir atau kerikil ke bawah. Dan di tengah perjalanan ke puncak kudengar peribahasa baru,
“Deket di mata, jauh di kaki”
Kami berangkat pukul 00:00 karena kami ingin melihat sunrise dari puncak. Namun sayang
sekali ternyata metahari sudah terbit ketika kami beberapa meter lagi menuju puncak. Walaupun
begitu, tetap saja begitu kami sampai puncak, kami tetap senang, bangga, dan bersyukur. Dari
puncak tertinggi Jawa, kami melihat tanah Indonesia.
Dari puncak semua terasa wah. Ada batu penghormatan buat Idhan Lubis dan Soe Hok Gie.
Angin bertiup sangat kencang. Dan kami mencoba mengunyah coklat yang sepertinya sudah
berubah menjadi batu. Setelah puas merasa dan foto-foto, kami langsung turun.
Turun pun ga mudah kelihatannya. Namun setidaknya perjalanan turun ga secapek perjalanan
naik. Dan kata beberapa orang, turun seperti berselancar di atas pasir.
2 jam kemudian, kami sampai di camp yang dijaga Idham. Kami istirahat bentar dan kemudian
langusng packing dan balik lagi menuju Ranu Pane. Perjalanan balik benar-benar cepat. Pukul
11:00 kami meninggalkan Kalimati. Pukul 13:30 kami sampai di Ranu Kumbolo. Dan akhirnya
pukul 18:30 kami sampai di Ranu Pane.
Begitu tiba di Ranu Pane kami kira Pak Rusno sudah meninggalkan kami. Namun ia masih setia
dan menunggu sampai malam. Pukul 21:00 kami tiba di Tumpang. Lagi-lagi kami tidur di
rumah pak Rusno.
Hari 7
Keesokan paginya kami langsung berkemas. Awalnya kami berniat untuk beli sarapan, eh ga
taunya sudah dimasakkan sama istrinya pak Rusno. Jadinya kami langsung menyantap telor
dadar, mie goreng bikinan bu Rusno.
Sekitar pukul 08:00 ada sopir angkot yang menjemput kami. Pak Rusno sengaja memanggil dia.
Kami pun langsung sepakat untuk menggunakan jasa sopir angkot untuk kembali ke Malang.
Dan anehnya jalanan kota Malang justru sepi ketika hari Minggu.
Sesaat sebelum sampai di Unibraw, Idham dan Johan turun deket stasiun untuk pesen tiket buat
pulang ke Bandung nanti Sore. Yang pulang ke Bandung pada sore itu adalah Johan, Idham,
Hasti, dan Andi. Aku dan Fanka pulang pada hari-hari berikutnya.
Begitu sampai di IMPALA Unibraw, aku langsung pergi ke Mojokerto, menyambangi rumah.
Hari 8
Keesokan paginya aku balik lagi ke IMPALA Unibraw untuk mengambil carier yang
kutinggalkan dan sekaligus balik ke Bandung dari Malang. Dan ga taunya ada Fanka sama
Cahyo yang ke Surabaya, aku numpang mereka sampai Stasiun Gubeng. Aku balik ke Bandung
dari stasiun itu.
Perjalanan ke puncak Semeru meninggalkan kenangan dalam pikiranku. Ternyata alam Indonesia
memang benar-benar indah. Ternyata Indonesia ini memang pantas diperjuangkan. Ternyata ada
orang seperti pak Rusno yang rela membantu tanpa mengharap pamrih. Ternyata ada orang
seperti bapak di kereta yang malah menyuruh anak perempuannya untuk mengajar di tempat yang
sangat pelosok yang lebih membutuhkan daripada sekadar mengajar di kota. Jaya terus Indonesia,
semoga kau menjadi negeri yang hebat. (GM-001-XIX)
KMPA. Ganesha!!!



Catatan Perjalanan Navigasi Tertutup GL GH XIX
Waktu : 23 – 28 Mai 2010
Tempat : Gunung Sanggara, hingga sungai citereup

Peserta : Idam, Hasti, Johan, Fanka, Putra, dan Bainul “kadal”.
Pendamping : Andi, Hery, Cahyo, Gian
Hari 1
Awalnya, kami anggota subdiv GH, gw (idam), Hasti, Johan, Fanka, Putra, dan Bainul berencana mengadakan latihan navigasi tertutup selama 5 hari di daerah Gunung Sanggara. Ini merupakan latihan navigasi tertutup pertama kami setelah dilantik menjadi anggota muda KMPA Ganesha ITB. Latihan ini kami adakan untuk mempersiapkan mental dan fisik kami menghadapi XPDC yang rencananya akan dilaksanakan beberapa bulan mendatang.
Rencana awal kami pergi jam 11 siang tapi dikarenakan persiapan logistik dan makanan yang belum maksimal akhirnya kami baru berangkat jam 1 siang, saat berangkat kami cuma ber-6, cahyo gian heri putra karena berbagai hal rencananya menyusul. Kami ber-6 mencarter angkot dari gerbang belakang ITB sampai tugu bukit unggul lalu diteruskan jalan kaki sampai kamp panitia pas AA di sanggara. Di perjalanan, kami sempat nyasar dulu sampai ketemu jalan buntu lalu kami memutuskan balik menyari persimpangan jalan dan akhirnya sampai d kamp jam stengah tujuh, berbarengan dengan kedatangan kak Gian yang menyusul kami ke kamp, dan selang berapa waktu datang Cahyo. Malamnya diadakan evaluasi keberangkatan dan pembagian tim untuk navigsi besok dan dilanjutkan dengan makan makan dengan sate sosis dari kak Gian di api unggun, dan saat sedang sibuk makan terjadilah “tragedy kadal mencari cinta bainul”, yang demi kebaikan sang kadal sengaja tidak disebarluaskan.
Hari 2
Matri navigasi tertutup di mulai, dengan pembagian tim, navigator adalah Hasti Fanka, penebas Johan, dan porter Idam Putra Bainul. Sebelum memulai navigasi kami terlebih dahulu tracking ke puncak sanggara, Sebelum berangkat kak Gian izin balik ke Bandung karena ada keperluan lain. Secara umum tidak ada masalah berarti yang muncul saat pendakiaan ini. Di puncak sanggara kami istirahat setengah jam dan tak lupa foto foto terlebih dahulu. Dari puncak sanggara baru kami melakukan navigasi mengikuti plot yang kami buat kami mulai navigasi jam setengah 12 sampai jam 5. Selama navigasi jalur yang di lewati lumayan sulit, saat navigasi kita juga kena hujan deras, dan akhirnya kita bertemu jalan buntu. Karena hari sudah mulai sore maka kami memutuskan menghentikan navigasi dan mencari tempat untuk mendirikan kamp. Saat malamnya diadakan evaluasi, dan diketahui penyebab sulitnya medan adalah jalur yang diambil saat naviagasi adalah melipiri puncak sanggara dan tidak mengkuti punggungan yang ada, dan saat evaluasi kami baru mengerti mengenai filosofi punggungan. Total hari ini kami hanya berjalan 500 meter dari jalur plot.
Hari 3
Navigator hari ini Idam Bainul, dengan penebas Putra, dan porter Johan Fanka Hasti. Navigasi di mulai jam setengah Sembilan hingga jam setengah lima, hari ini tim sukses menuruni punggungan dan menemukan sungai yang ada di plot, lalu perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri sungai, masalah timbul saat menemui air terjun vertical setinggi 5 meter, saat itu muncul beberapa opsi untuk menuruninya, yaitu melipiri punggungan di kiri sungai, melipir di tepi air terjun atau menggunakan “hepotesis ponco” dari sang navigator. Akhirnya kami memutuskan melipiri di tepi air terjun, dan setelah hampir satu jam yang penuh lumpur dan peluh kami semua berhasil menuruni air terjun dan setelah berapa saat menyusuri sungai kami akhirnya menemukan pertigaan sungai yang ada di peta dan diputuskan mendirikan kamp di dekat pertigaan sungai tersebut. Hari ini kami berdasarkan plot yang telah di buat kami berjalan sejauh 1 kilometer



Hari 4
Hari ini pembagian tim adalah navigator Johan, Putra, dengan penebas Bainul dan porter Fanka Hasti Idam. Jalur yang dilewati adalah menaiki punggungan hingga puncak Gunung Ipis dan menuruni punggungan lalu kembali menyusuri sungai Citereup, saat menyusuri sungai ini terlihat di kanan kiri sungai banyak bekas longsoran, secara umum jalur yang dilewatili lumayan lancar. Saat menyusuri sungai tiba tiba kami dilanda hujan lebat, maka kami memutuskan lansung naik ke punggungan terdekat untuk menghindari air bah. Saat mendaki punggungan anggota tim terlihat panik dengan lebatnya hujan dan licinnya medan, akhirnya dipimpin Andi dan Hery kami menaiki punggungan dan mendirikan kamp. Malamnya saat evaluasi dibahas mengenai kondisi tim saat hujan lebat dan juga logistik makanan yang menipis dan keterbatasan air. Akhirnya kami memutuskan untuk mengubah jalur plot yang telah dibuat agar dapat lebih cepat mencapai desa terdekat.
Hari 5
Target hari ini adalah desa terdekat, dan tim navigator adalah Bainul Putra dengan penebas Idam dan porter Johan Fanka Hasti. Sebelum mulai jalan kami melakukan ormed terlebih dahulu untuk menentukan posisi punggungan saat itu. Lalu kami memutuskan untuk menaiki puncakan diarah utara dan kemudian menuruni punggungan kearah timur laut, jalur awal yang kami lalui adalah menaiki punggungan dan kemudian menuruni lembahan curam lalu melipir dari lembahan ke punggungan di sampingnnya dan kemudian menaiki punggungan lagi, DAN AKHIRNYAAAA…….. kami kembali kepunggungan awal tempat kami kamp. Jadi selama seharian kami memutari pungungan dan kembali ke punggungan awal. Selama perjalanan kami juga membatasi penggunaan air karena keterbatasan persediaan. Menurut porter dan penebas, jalur hari ini adalah lajur terberat selama navdar tertutup ini, beratnya medan juga meminta korban celana salah seorang anggota kami yang harus robek dibagian yang tak diinginkan. Saat evaluasi diketahhui kesalahan ini terjadi karena navigator mengambil jalur terlalu ke barat dan kurangnya komunkasi antar navigator lalu evaluasi dilanjutkan dengan membahas mengenai persiapan logistik pribadi dan makanan dari PJ masing masing dan akhirnya ditutup dengan acara meng-kubis salah seorang sesepuh GH.
Hari 6
EVAKUASI... Kami akhirnya diputuskan untuk dievakuasi oleh para pendamping karena logistik makanan yang ada telah sangat mengkhawatirkan, makanan yang tersisa hanya mie instan, biskuit kering dan air 3 botol. Pagi harinya kami hanya makan biscuit yang ada untuk menghemat penggunaan air selama memasak. Sebelum berangkat kami semua melakukan ormed untuk menentukan letak punggungan kami. Lalu kami berjalan menuruni punggungan dengan dipimpin oleh Heri dan Andi. Namun kami semua tetap diharuskan traking jalur yang dilewati untuk menentukan plot di peta. Siangnya kami telah sampai di sungai Citereup dan memutuskan untuk beristirahat. Saat istirahat beberapa anggota tim memutuskan mencari tempat untuk berenang, dan tak lupa foto foto saat berenang, beberapa orang terlihat berpose dengan penampilan yang menggugah selera ( foto terlampir ). Lalu perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri sungai citereup hingga menemui pedesaan. Jalur yang dilewati selama menyusuri sungai tergolong berat, kami harus berpindah pindah melipiri punggungan kanan dan kiri sugai dan ditambah dengan aliran sungai yang deras dan banyaknya jeram yang menggangu pergerakan. Selama penyusuran kami juga sering di selip oleh penduduk desa, yang berjalan jauh lebih cepat dari kami walaupun membawa beban yang jauh lebih berat (sebagian memanggul kayu gelondongan sepanjang 3 meter lebih dan karung kopi), lalu setelah sampai di tepi desa kami melanjutkan dengan navigasi punten hingga menemukan jalan raya dan langsung beristirahat di warung terdekat. Setelah cukup beristirahat, jam lima sore kami mulai balik ke kota Bandung dengan bis umum. Dan akhirnya jam setengah delapan malam kami tiba di kampus tercinta dengan tangan penuh luka, kaki bengkak dan perasaan puas.

Latihan Navdar @Cicenang




Catatan Perjalanan Latihan NavDar Terbuka @ Cicenang

Persiapan Perjalanan
Untuk menerapkan ilmu manajemen perjalanan, mula-mula ketua Ekspedisi [ GM-014-XIX ] mengarahkan tim ekspedisi GH untuk berkumpul guna menentukan susunan kepanitiaan perjalanan. Melalui sebuah diskusi singkat pada malam hari pukul 23.30 WIB tanggal 16 April 2010 telah ditentukan susunan kepanitiaan sebagai berikut :
1. Ketua Perjalanan : M.Bainul [GM-020-XIX]
2. PJ Logistik : Abdul Somat Budiaji [GM-001-XIX]
3. PJ Transportasi : Johan Santoso [GM-012-XIX]
4. PJ Konsumsi : Angelina Yofanka [GM-005-XIX]
Sementara jumlah peserta GL yang dipastikan hadir dalam latihan tersebut diantaranya (total 9 orang) didampingi seorang pembimbing (Andy Nugroho) :
Gladi Lanjut Gunung Hutan :
1. Abdul Somat Budiaji [GM-001-XIX]
2. Angelina Yofanka [GM-005-XIX]
3. Haryanda Eka Putra [GM-014-XIX]
4. Johan Santoso [GM-012-XIX]
5. M. Bainul [GM-020-XIX]
Gladi Lanjut non-Gunung Hutan :
1. Annisa Nurul H. [GM-006-XIX]
2. M. Adinata [GM-019-XIX]
3. Yoga Saktyanto [GM-024-XIX]
4. Yohanes Yudha [GM-025-XIX]

Pra-Perjalanan
Di pertemuan awal, ketua perjalanan telah menetapkan beberapa teknis sederhana mengenai waktu dan persiapan keberangkatan menuju Cicenang. Menurut laporan masing-masing PJ, persiapan sudah cukup matang. Logistik lengkap, konsumsi mencukupi, dan transportasi memadai. Sementara dari segi waktu, ditetapkan bahwa pelepasan keberangkatan akan dimulai pada pukul 17.00 WIB pada tanggal 17 April 2010 di SEL. Sayangnya, waktu keberangkatan terpaksa diundur dari rencana awal karena butuh waktu lebih untuk pembagian logistik dan packing serta adanya keterlambatan kedatangan beberapa peserta perjalanan ke SEL. Pada akhirnya, tim perjalanan dilepas oleh beberapa massa KMPA yang ada tepat pada pukul 19.00 WIB. Angkot yang tadinya nongkrong di gerbang utara Kampus ITB selama lebih kurang 2 jam akhirnya bergerak juga.



Perjalanan
Selama di dalam angkutan, peserta perjalanan tidak terlalu banyak berbicara, lebih menikmati perjalanan dengan tidur atau mendengarkan dengkuran peserta lain. Ckckck.
Perlahan namun pasti angkot bergerak ke utara Bandung melalui rute jalan umum Bandung-Lembang. Sekitar 50 menit kemudian akhirnya peserta perjalanan tiba di tempat yang telah ditentukan oleh panitia.
Perjalanan menuju BaseCamp ditempuh selama sekitar 15 menit dari titik turun angkot. Dari segi lokasi, letak BaseCamp cukup strategis karena lokasinya yang sangat dekat dengan sumber air dan tertutup dari terjangan angin. Pukul 20.30 WIB peserta mulai mendirikan tenda, memasak, dan membuat api unggun. Peserta mulai makan sekitar pukul 22.30 WIB.
Sekitar pukul 23.00 WIB, para pembimbing lainnya (selain Andy) mulai berdatangan ke lokasi BaseCamp dengan mengendarai sepeda motor. Akhirnya malam ini pun kami habiskan dengan sedikit evaluasi dan briefing, lalu dilanjutkan dengan ngobrol dan diskusi hingga hari menjelang pagi.
Peserta mulai bangun dan bersiap masak pada pukul 06.00 WIB, mundur dari rencana sebelumnya yakni pukul 05.00 WIB. Pukul 09.00 WIB peserta telah makan, packing dan siap untuk berangkat.
Briefing NavDar dimulai. Dipimpin oleh Andy Nugroho, peserta diarahkan untuk mencapai suatu titik, tepatnya di puncak Gunung Malang (1021 m) yang berjarak sekitar 4-5 petak di peta dari titik BaseCamp. Peserta yang berjumlah 9 orang dibagi menjadi 4 kelompok, diantaranya :
1. Annisa Nurul Hidayah
Haryanda Eka Putra
Yohanes Yudha
Pembimbing : Yanu dan Alam S.P

2. M.Bainul
Yoga S.
Pembimbing : Andy Nugroho

3. Angelina Yofanka
Johan Santoso
Pembimbing : Irfan ‘Jarwo’ dan Gustaf

4. Abdul Somat Budiaji
M. Adinata
Pembimbing : Aldi dan Yudi ‘ Bondon’
Masing-masing kelompok diharapkan untuk menempuh jalur yang berbeda satu sama lainnya. Masing-masing tim juga diberi kesempatan untuk melintasi jalan raya Bandung-Subang hanya sebanyak 1x.

Perjalanan Tim
Tahap pertama perjalanan ini adalah penentuan titik awal tim. Di tahap ini, tim kami cukup banyak menemukan kendala seperti belum ditetapkannya ketua tim dan kurangnya komunikasi antar anggota tim. Akibatnya proses penentuan titik awal hampir memakan waktu sekitar 1 jam.
Setelah memastikan titik awal, tim kami akhirnya memutuskan untuk bergerak ke titik tujuan dengan teknik potong kompas menuju arah timur laut. Alasan kami pilih teknik ini diantaranya :
- Permukaan kontur yang akan kami lalui dengan teknik potong kompas cukup landai sehingga memudahkan pergerakan tim
- Titik-titik patokan untuk penerapan teknik ini cukup banyak dan mudah diamati sehingga tim tidak perlu bersusah-susah untuk mencari-cari titik acuan yang abstrak
- Jika ditarik garis lurus, titik tujuan akhir mendekati arah timur laut dari titik awal.
Teknik potong kompas ini kami aplikasikan hampir setengah perjalanan total. Dan terbukti, tim kami tidak banyak menemukan kendala berarti selama teknik ini digunakan mengingat pula lokasi yang notabene-nya adalah perkebunan teh. Titik terakhir tim menggunakan teknik ini adalah jalan raya Bandung-Subang.
Sesampainya di jalan raya Bandung-Subang, tim memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu di warung terdekat. Mengisi perut dengan semangkuk mie instan dan air putih cukup membuat kami bertenaga kembali. Setelah makan dan beristirahat sekitar 45 menit, tim melakukan briefing terlebih dahulu untuk menemukan rencana rute yang akan ditempuh dengan bimbingan Yanu dan Alam S.P.
Istirahat selesai. Tim bersiap untuk kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini tim kami kembali dimudahkan dengan diperbolehkannya memanfaatkan jalan aspal yang telah ada namun tetap OrMed setiap saat. Setelah melalui track ‘bonus’ sekitar 800 m, akhirnya tim kami dihadapkan pada jalan berbatu menuju perkampungan penduduk. Dengan tetap mengikuti plot jalur yang telah direncanakan, tim kami terpaksa harus melalui sawah-sawah penduduk dengan melewati pematang-pematang sawahnya. 20 menit berlalu dan akhirnya tim kami tiba di tempat terbuka dimana terdapat jalur track off-road wisatawan. Setelah OrMed dan posisi Gunung Malang yang ada di depan mata telah dipastikan, semangat tim seketika on fire seolah akan menemukan harta karun. Sesuai plot awal, tim akan mendaki Gunung Malang melalui jalur timur dengan tantangan harus menyeberangi sebuah sungai.
Selama perjalanan ke arah timur, tim kami sempat dihadapkan pada track-track yang cukup menguras tenaga. Selain itu, terdapat beberapa lokasi yang terlihat masih tertutup sehingga tim harus mampu memanfaatkan instingnya masing-masing untuk menentukan jalur tempuh selanjutnya hingga tercapai suatu tempat yang cukup terbuka. Hampir 1 jam tim berjalan, akhirnya tim berhadapan dengan tantangan yang dimaksud. Tak disangka, sungai yang rencananya akan kami seberangi cukup lebar, yakni sekitar 12 m, dan deras pula. Tim kami mulai merundingkan kembali plot jalur yang akan ditempuh dan dengan cepat diputuskan untuk menyusuri tepian sungai menuju arah barat. Meskipun lelah sudah mulai menjangkiti fisik masing-masing anggota tim termasuk pembimbing, setidaknya kami sedikit terhibur dengan ditemukannya air terjun. Di lokasi ini kami beristirahat sekitar 10 menit, merasakan percikan-percikan kecil air terjun itu sambil memikirkan kembali rute jalur yang akan ditempuh.
Tim kembali bergerak. Setelah menempuh jarak sekitar 20 menit, akhirnya tim kembali ke jalur yang benar. Tim kembali menemukan track off-road yang dilewati sebelumnya dan akhirnya memutuskan untuk terus melanjutkan perjalanan ke arah barat. Sepanjang perjalanan kami menemukan banyak cottage/penginapan khusus serta sungai untuk wahana rafting. Sempat ragu untuk langsung menyeberangi sungai namun pembimbing kami meminta untuk segera mengambil langkah cepat. Tim kami pun segera memutuskan untuk menyeberang, meskipun sebelumnya kami berprinsip bahwa tim hanya akan menyeberang sungai jikalau memang benar-benar tidak ditemukan media penyeberangan dan alokasi waktu sedikit. Selama penyeberangan, keraguan kami membuat kami sedikit malu karena kedalaman sungai yang dimaksud ternyata hanya setinggi lutut orang dewasa. Tak beberapa lama, tim kami menemukan sebuah pondok kecil untuk berteduh. Istirahat lagi cuii..Lima menit kemudian tim pun kembali bergerak. Lega. Yaa, itulah yang tim kami rasakan ketika jalur pendakian resmi sudah terlihat di depan mata. Selama pendakian, ciri khusus yang dimiliki gunung ini adalah hutan pinusnya. Hutan seperti ini sebenarnya cukup rawan kebakaran jika di musim kemarau. Selain itu, antara satu pohon dengan pohon lainnya pun cukup berjarak (renggang). Jalur yang jelas amat memudahkan tim kami selama pendakian. Jalur yang kami lewati ini ternyata mengitari punggungan hingga ke utara. Meski pembimbing sempat memisahkan diri dari tim –entah karena capek atau yakin timnya akan sampai ke puncak tanpa bantuan mereka- akhirnya tim dan pembimbing kembali bertemu di kontur terakhir sebelum puncak. Hanya butuh waktu sekitar 15 menit bagi tim kami untuk mencapai titik puncak dari pintu masuk awal. Sesampainya di titik puncak, kami dikejutkan dengan adanya kepulan asap 30 m di depan kami. Ternyata ada makhluk-makhluk yang telah mendahului kami kira-kira 40 menit sebelumnya yakni tim yang beranggotakan M.Bainul dan Yoga. Tepat pukul 13.45 WIB tanggal 18 April 2010 tim kami tiba di puncak. HAHAHA!!!

Pasca-Perjalanan
Setelah seluruh tim tiba di titik puncak, tim dan para pembimbing segera mengevaluasi perjalanan masing-masing. Banyak masukan yang kami peroleh saat itu. Terutama dalam hal manajemen tim, koordinasi, teknik navigasi, dan manajemen waktu. Perjalanan kami tutup dengan sesi foto bareng. Pukul 16.00 WIB seluruh peserta turun, keluar melalui spot wisata ‘Ciater Spa Resort’dan kembali ke tempat dimana angkot telah menanti kedatangan kami.

Cikandang Sekali Lagi



Catatan Perjalanan “ Cikandang Sekali lagi “
Waktu perjalanan : 3-5 Agustus 2010
Peserta pengarungan : Yodia, Emil, Yana, Yasir, Jekim, Rahman, Freden, Fya, dan 3 orang Astacala
Tim darat : Andy, Yudha

3 Agustus 2010
Tim berangkat Pk.15.00. Mengalami keterlambatan kurang lebih 1 jam karena beberapa peserta harus mengurus keperluan daftar ulang kuliah. Akhirnya diputuskan Yana dan Emil menyusul dengan motor, sisanya berangkat dengan angkot caheum ledeng ke terminal caheum. Dari terminal Caheum naik bus langsung ke Garut. Perjalanan memakan waktun kira-kira 2 jam lebih karena sempat ada kemacetan. Sampai di Garut kami langsung naik angkot menuju ke sekre Gerhana di Universitas Garut. Emil dan Yana sudah sampai terlebih dahulu di Gerhana. Rencana awal kami istirahat di Gerhana dan berangkat malam ke start Cikandang. Tetapi rencana berubah menjadi berangkat di pagi hari dengan pertimbangan biaya sewa mobil akan bertambah jika berangkat malam hari. Beberapa logistik sudah disiapkan malam harinya agar pada pagi hari bisa berangkat tepat waktu. Malam harinya beberapa peserta langsung istirahat dan beberapa peserta pergi ke pemandian air panas.
4 Agustus 2010
Rencana berangkat Pk.04.00 berjalan dengan lancar. Semua bangun tepat waktu. Sarapan dibeli di jalan dan dimakan di start Cikandang. Start pengarungan mengalami sedikit keterlambatan karena koordinator lapangannya mual. Jumlah perahu yang berangkat 3 buah. Perahu pertama adalah perahu Gerhana yang berperan sebagai pembuka jalur dengan skipper Jon. Perahu kedua adalah tim rescue yang berisi freden, fya, dan Astacala dengan skipper Pak Yana. Tim ketiga adalah tim pemetaan dengan skipper Yodia, lalu tim darat langsung menuju finish. Start pengarungan agak mengalami masalah karena keadaan start sungai yang sangat berbatu-batu. Ketika memasuki awal Sungai Cikandang Skipper tim pemetaan mengalami syok berat karena harus dihadapkan dengan undercut pertamanya. Perahu sempat nyangkut di batu dan air masuk ke dalam perahu sehingga ada logistik makanan yang hanyut dan kertas pemetaan basah kuyup dan lapuk. Terjadi salah paham ketika memasuki undercut. Pak Yana memerintahkan tim untuk turun. Tim mengira turun dari perahu, namun ternyataaa maksud Pak Yana adalah turun beserta perahu-perahunya. Akhirnya perahu tim pemetaan diambil alih oleh anak Gerhana hingga melewati undercut. Kertas untuk mencatat peta telah hancur lebur beserta clipboardnya. Akhirnya pemetaan dilaksanakan dengan metode yang sedikit lebih canggih yaitu dengan markin dan trekking GPS, dan karakteristik jeram direkam dengan video kamera. Setiap ada jeram tim pemetaan berhenti sebelum dan sesudah jeram untuk melakukan kegiatan pemetaannya.
Pukul 12.00 seharusnya sudah di Desa Bokor untuk makan siang, namun mengalami keterlambatan karena lambatnya perngarungan akibat pemetaan. Namun kami sampai di Desa bokor Pk.13.30 dengan diiringi hujan dan awan yang gelap. Di Desa Bokor kami makan siang dengan enaknya dan dengan lahapnya. Makan siang hanya sekitar 1 jam dan pengarungan langsung dilanjutkan kembali melihat hujan yang sudah reda. Posisi peserta mengalami perubahan. Yodia menjadi Skipper Perahu rescue dan Pak Yana di perahu pemetaan. Namun di awal-awal pengarungan kami diguyur hujan kembali. Muncul kekhawatiran akan banjir bandang. Ritme pengarungan kami percepat. Beberapa peserta sempat mencoba river board, dan body rafting ketika mendekati finish. Akhirnya kami sampai di finish lebih cepat setengah jam dari waktu yang ditentukan. Perahu dan logistik diangkut ke mobil. Beberapa ganti baju di finish. Kami langsung menuju rumah Kang Dewek di dekat pantai untuk mandi dan beristirahat. DI rumah kang Gewek kami menyempatkan diri untuk ikut memetik kelapa muda dan melahapnya bersama-sama. Pk. 06.00 kami berangkat ke Pantai Sayang Heulang. Beberapa utusan membeli ikan untuk dibakar di pinggir pantai. Yang lainnya menyiapkan tenda dan alat-alat masak. Malam hari kami makan ikan tuna bakar yang sangat sedap dengan sambal kecap super pedas. Ketika bersantai memandang langit malam, tiba-tiba turun hujan dengan anginnya yang kencang. Kami langsung mencari tempat untuk berteduh. Karena tenda kami bocor kami mengungsi ke pendopo dekat warung. Kami istirahat di pendopo tersebut



5 Agustus 2010
Kami bangun Pk.07.00, berberes dan langsung pulang ke Garut. Makan siang di jalan menuju Garut. Perjalanan sedikit berkabut namun tetap lancar. Sampai di Gerhana kami membersihkan logistik dan Pk.15.00 kami pulang ke Bandung. Sampai di Bandung sekitar Pk.06.00.