Rabu, 07 Januari 2009

Materi SAR, Sanggara

By: GL GHPerjalanan kami dimulai keberangkatan dari basecamp(red: SEL) sekitar jam 4 sore. Hoho, materi kali ini pesertanya Aldi, Ari, Gian dan Hery beserta 2 orang pembimbing yaitu pak ustadz Alam dan gustaf pooh perjalanan kami tempuh dengan mengendarai motor, lalu harus menempuh jalanan penuh batuan yang teramat hancur. Walaupun segala rintangan menghadang tetap dengan senang hati kami lalui, karena rintangan tersebut yang membuat kami dewasa. Hehehe, sedikit berpuisi ria.
Perjalanan panjang kami pun berakhir di sebuah warung di desa panghaiatan. Ooo salah masih belum berakhir, masih panjang jalan yang menunggu kami. Kami berehat sekejap. Sekaligus menikmati indomie traktiran gustaf, sekaligus jajan. Setelah kenyang kami berinisiatif untuk melanjutkan perjalanan, dan motor yang kami gunakan kami titipkan di warung tempat kami belanja. Hehehe

Perjalanan kami lanjutkan dengan berjalan kaki menuju sanggara. Perjalanan kami tempuh dengan bermodalkan senter. Untuk menghemat bateri kita berjalan menggunakan formasi, 2 baris dengan tiap baris terdiri dari 3 orang dan yang di tengah membawa senter. Kami berjalan sekitar 2 hingga 3 kilometer. Sungguha perjalanan yang melelahkan. Sesampainya di camp, kami langsung mendirikan tenda dan membuat api. Setelah evaluasi kami berbincang-bincang hingga jam 12 lebih lalu tidur.


Besok paginya, seperti biasa sarapan ala kadarnya dengan oseng-oseng sayur dan tempe goreng tidak lupa ditemani teh manis ala heri. Pokoknnya serapan pagi kami sangat sederhana tapi puas, karena tempenya buanyak banget.hehehe. plek –plek bereslah kerjaan awa pagi-pagi.. lalu kami pergi ke aula, untuk mendapat materi dari Alam. Seusai sesi materi, gustaf terpaksa pulang ke kota.karena ia harus menghadiri agenda lain yang menurutnya sangat urgent.
Lalu kami diberi lokasi TKP, dan materi pun dimulai, hoho…



Kami menerapkan metode penyisiran dalam SAR kali ini. Maksudnya untuk mencari petunjuk dan keberadaan korban, kami menyisir daerah yang ditentukan dengan metode dari atas ke bawah lalu keatas lagi dan seterusnya, ato sebaliknya. Alamat kata kami harus tebas sana tebas sini, cuapek. Teknis lapangan kali ini yaitu tim dipimpin oleh ketua regunya, dan digilir secara bergantian. Dan juga selama di lapangan diterapkan beberapa simulasi, seperti penyelamatan, komunikasi, dan lain-lain. Waktu terus berlalu hingga akhirnya waktu menunjukkan jam 4. Berakhirlah materi sar hari ini. Dan materi dilanjutkan dengan materi camp di lereng, tapi sayangnya tempat yang kami tuju(red:tempat traversal) telah jadi rata oleh sendirinya. Jadinya ya camp seperti biasa. Dan malam pun berlalu dengan ditemani hujan rintik-tintik.


Besok Pagi ya seperti biasa, sarapan, packing lalu materi. Materi hari ke2 yaitu sar sungai. Dari namanya udah ketauan. Ya dalam sar sungai, teknisnya sama seperti sar biasa, namun bedanya penyisirannya dilakukan di daerah aliran sungai(nyemplung ke dalam sungai). Tentunya medan yang dilalui sangat berat. Karena banyaknya pohon yang bertumbangan di sekitar lokasi. SAR hari ke2 ini dilanjutkan dengan evakuasi korban( menurut scenario alam). Evakuasi dilakukan hingga ke basecamp(alias camp panitia yang waktu survival). Setelah itu kami diajari Navigasi malam. Setelah menempuh jalan yang menanjak bak tanjakan laknat, kami berpapasan dengan anak palawa unpad yang juga sedang materi. Ternyata ada juga yang wah, namun apalah daya no telpon pun tak dapat. Balik ke materi. Materi ini tergolong unik, karena hanya bisa dilakukan bila ada 1 tim, 1 orang sebagai navigator dan yang lainnya di sekeliling navigator dengan masing-masing membaw a senter tentunya. Cara berjalannya ya potong terus kea rah navigarot minta. Tebas-tebasan tentunya. Kami melakukan navigasi malam hingga jam 6 sore. Sekitar 1-2 jam. Lalu balik ke Camp.


Buesoknya…
Kami semua dibekali dengan pengantar seputar GPS oleh alam..
Prinsipnya mudah, tinggal tentuin spot target lalu ikutin tracking yang ada di GPS tersebut, lalu nyampe deh.. dan tidak lupa foto-foto dong…



Penyeberangan Basah Situ Ciburuy

Sabtu, 10 Mei 2008
By : Dinna Tazkiana


Salah satu agenda diklat GH buat Ekspedisi Tumbang Maluhoi ntar adalah penyebrangan basah. pertimbangannya, di lapangan ntar kita bakal nemuin rawa yg teramat luas dan harus dilewati. Dipikir-pikir ngapain kita berenang di rawa? Kan banyak buaya? Luas pula, kapan nyampenya??? Yah, karena pemikiran logis ini saat itu belum muncul, jadi kita lancarkan latihan penyebrangan basah ini. Kegiatan dilakukan hari Sabtu, 10 mei 2008, pesertanya 6 orang anggota GLGH, Geblek sebagai pelatih sekaligus pembimbing, serta Ulfa, Arfan dan Ria jg ikut meramaikan. Lokasi yang kita ambil adalah Situ Ciburuy, pertimbangannya ajimumpung, soalnya pada saat yang bersamaan orad juga mau latihan disana, jadi kita bisa berdayakan Tejo, si perahu penyelamat. Perlengkapan lain yang dibawa masing-masing orang adalah ponco, rafia, dan kerir berisi. Kita bawa juga tali kernmantel.

Rencananya, kita mau pergi dari sel jam 9 dengan alasan biar ga panas. Tapi ya itu, selalu ada hambatan untuk ontime, akhirnya kita pergi jam 11, disaat teriknya siang. Dengan naik mobil Heri yg penuh sesak oleh manusia dan kerir, kita meluncur menuju lokasi lewat jalan tol padalarang, nyampe situ ciburuy jam 12an. Langsung aja kita masuk ke gerbang masuk. Taunya, waktu kita di enterance, kita ditanya mecem-macem ma si bapa yang jaganya. Katanya darimana, mau ngapain, gitulah. Ya kita bilang aja dari itb mau latihan penyebrangan, trus kita ditagih surat ijin resmi dari instansi (ITB maksudnya) sama sii bapa itu. Tapi kita kan ga bawa, ngga tau msti bw juga, jadi ga ngasih surat, ngasihnya duit (maaf saya lupa berapa nominalnya, pokonya mayan murahlah untuk disebut duit nyogok). Fyi, htm biasa harganya 1750.

Selesai di pintu masuk, kita langsung parkir dan cari spot yg pas buat latihan. Ternyata ga ada. Ke daratan terdekat di tengah sana aja penjangnya ampe 50 meteran lebih. Intinya kita ga dapet lokasi yg sesuai buat latihan,,,, Setelah nyari-nyari sambil jajan gorengan dan es doger, akhirnya geblek dan tim pencari lokasi bilang kalo kita dapet tempat yg mayan cocok. Ternyata tempatnya diluar area wisata, tapi lebih deket ke rumah penduduk, tapi masih situ ciburuy juga. Langsung kita ngedodol kerir di tepian, trus tinggal nunggu perahu yang ngga kunjung dateng. Selagi nunggu perahu, kita nyampah di pinggir situ, ngobrol-ngobrol tiduran ga jelas, untungnya Ria bawa cemilan, kita jadi ada kerjaan yang berarti. Perahu akhirnya dateng sore, trus kita langsung latihan deh. Anak-anak GH gantian turun satu-satu, berenang dari pinggir menuju perahu di tengah sana, trus balik lagi ke tepi.

Di air ada geblek sebagai “penyemangat” yang setia di samping kita dikala kita renang, di perahu ada irland ma baim sebagai tim rescue sekaligus penentu jarak renang kita mpe mana. Ternyata nggak gampang renang pake kerir itu, ribet soalnya. Kalo bisa sih mending ga pake kerir deh. Indikator keberhasilan penyebrangan basah ini adalah kerir yang tetap terjaga kering dan kita yang selamat sampai tujuan. Selesai latihan yang Cuma berlangsung sekitar 1,5 jam, kita foto-foto sambil ngliatin anak orad latihan. Abis rangkaian acara latihan GH dan Orad beres, kita balik ke sel rame-rame maghriban. Sekian.

KONDISI DAERAH SITU CIBURUY

Situ Ciburuy yang berlokasi di Padalarang (tepatnya setelah tol padalarang, deket citatah, masuknya Kabupaten Bandung) merupakan sebuah danau milik pemerintah yang dibuka untuk umum. Waktu kita kesana bilang mau latihan penyebrangan, di pos enterance kita ditagih surat ijin resmi dari instansi (ITB maksudnya) sama petugas yg jaga dsana. Tapi kita kan ga bawa, ngga tau msti bw juga, jadi ya ga ngasih surat, ngasihnya duit (maaf saya lupa berapa nominalnya, pokonya mayan murahlah untuk disebut duit nyogok).

Oya lupa bilang, Situ Ciburuy tu menurut sy rada aneh lokasinya. Gimana engga, situnya tuh berada di tengah kota. Kota bener” kota, jalan raya, banyak mobil, motor, penduduk, pemukiman, kemacetan, kepanasan. Sebenernya bagus juga si, jadi kesannya the ecocity, tapi da tetep aja aneh, abisnya tu tempat kayak ga keurus. Di airnya tu banyak ‘asesorisnya’, kayak sampah-sampah ngambang, aroma yg kurang sedap buat dihirup, dan warna air yang coklat tua keijoan (emang ada warna kyk ini?). Sebenernya kalo kita liat view-nya si ngga ada masalah, bagus malah, apalagi klo sore tuh keren bgt. Udah mah pemandangan di sekitarnya bagus, rindang byk pohon”an (ada yg bilang suka ada lutung juga nangkring di pohon), lighting alami jg bagus, warna asli si air jg ga kliatan. Tapi ya itu, mungkin salah satunya disebabkan oleh kurangnya kesadaran masyarakat (penduduk sekitar dan pengunjung) akan pentingnya kebersihan lingkungan. Itu mungkin sekilas tentang situ-nya.

Udah sy singgung di atas klo di sekitar Situ Ciburuy itu rame. Ada pemukiman penduduk juga. Pas sy ‘soskot’ ke salah satu rumah (dengan niat numpang mandi), yang sy temukan adalah ternyata air disana bagus, sangat layak. Listrik juga masuk (yaiyalah, namanya juga kota). Terus lagi, disana rada’ gersang gitu (menurut sy lho) panas bgt pula (kalo yg ini si mungkin emang karena siang aj). Kurang pohon-pohonan di pinggir jalan dan di rumah penduduk, jadi kesannya jalanannya kurang segar dan berdebu.

Yaudah, segitu aja yg bisa sy ceritain. Yah intinya, pemugaran dan pemeliharaan Situ Ciburuy itu sangat diperlukan melihat kondisinya airnya sekarang yang kurang layak dijadikan objek wisata dan tempat latihan renang. Diluar itu, kondisi air penduduk tergolong memadai. Namun, di daerah pemukiman tersebut sedikit kering dan berdebu. Tapi rada gpp jg sih soalnya di sekitar Situ kan banyak pohon-pohon gede. Sekian.

Kamis, 18 Desember 2008

CATATAN PERJALANAN PEMETAAN GOA SEDEN-BULUH

20-23 JUNI 2008
By: Muhsin

Minggu, 20 Juni 2008
Pagi hari yang cerah kami—saya (muhsin), Arfan, Cusi, Geblek, dan Didik—berangkat dari kampus ITB menuju terminal Caheum. Saat itu waktu menunjukkan pukul 10.00 WIB. Terlambat sekitar satu jam dari rencana keberangkatan semula. Sesampainya di terminal caheum kami telah ditunggu oleh pak Taat, lelaki berdarah Cilacap yang saat itu sedang menjalankan studi pasca sarjana jurusan Geologi di ITB. Beliau ingin mengetahui bagaimana kami melakukan pemetaan goa Seden-Buluh.
Perjalanan pun dilanjutkan dari Terminal Caheum menuju Pangandaran menggunakan Bus Budiman ber-AC. FYI, Tarif Bus Budiman dari terminal Caheum ke Pangandaran saat itu adalah Rp33.000,00. Perjalanan tersebut memakan waktu sekitar 6 jam. Kemudian, kami melanjutkan perjalanan menggunakan bus Budiman jurusan Parigi yang selanjutnya kami charter hingga ke desa Masawah. Tepat di depan rumah kepala desa Masawah, Pak Tohidin.
Setelah menjelaskan maksud kedatangan kami kepada Pak Tohidin, kami pun dipersilahkan untuk beristirahat dan bermalam disana.

Senin, 21 Juni 2008

Peralatan yang digunakan. (kanan ke kiri) klinometer, meteran 50m,kompas geologi.

Pukul 9.00 WIB, kami berangkat menuju mulut goa Seden ditemani seorang penduduk setempat—yang ditugaskan oleh pak kepala desa (pak Kuwu). Di dekat mulut goa, kami mempersiapkan segala peralatan yang dibutuhkan. Beberapa peralatan yang kami bawa saat itu, antara lain : 4 overall, 4 helm, 4 sepatu boots, 3 headlamp, 2 senter anti air, perahu kecil untuk peralatan, 2 pelampung, meteran, klinometer, kompas, kertas, dan alat tulis. Tak lupa kami membawa 2 botol air minum dan beberapa snack.
FYI, goa yang akan kami petakan ini merupakan goa sungai bawah tanah. Rata-rata ketinggian airnya sekitar 1 meter. Tim yang memetakan terdiri dari 4 orang, yaitu saya (muhsin), Geblek, Cusi dan Arfan. Sedangkan tim basecamp yang menunggu di mulut goa terdiri dari 2 orang, yaitu Didik dan Pak Taat.
Setelah semuanya siap, kami pun masuk ke goa. Di depan mulut goa ketinggian air sekitar 120 cm. Otomatis overall kami basah dan rasa dingin perlahan merayap ke dalam tubuh kami. Brrr!!!
Pengukuran pun dimulai, saya (muhsin) sebagai stasioner yang berada paling depan bertugas menentukan titik stasiun. Cusi sebagai shooter yang bertugas membidik saya dengan klinometer guna mengetahui kemiringan vertical goa. Arfan bertugas sebagai deskriptor yang bertugas menggambar kondisi goa dan mencatat data pengukuran. Sedangkan Geblek bertugas sebagai fotografer.
Satu jam pertama merupakan satu jam terberat bagi kami. Kondisi goa yang memiliki ketinggian air mencapai 180 cm itu benar-benar menyulitkan kami. Baju yang basah dan udara goa yang lembab membuat kami merasakan kedinginan yang amat sangat. Dalam satu jam itu, kami hanya dapat memetakan goa sepanjang kira-kira 30 meter. Beruntung, setelah 30 meter dari mulut goa Seden ada rekahan yang tersambung ke permukaan sehingga kami dapat naik dulu ke atas tempat tim basecamp. Kami pun beristirahat sambil minum kopi hangat guna mengembalikan kehangatan tubuh kami yang tadi dirampas oleh air goa yang dingin. Setelah puas beristirahat, kami pun kembali memetakan goa Seden-Buluh dengan perubahan strategi kerja. Geblek yang semula bertugas sebagai fotografer diberdayakan sebagai pengukur guna membantu dan mempercepat pekerjaan ukur-mengukur.
Pekerjaan pun kami mulai kembali. Semakin lama, kami pun semakin dalam menembus kedalaman goa. Semakin indah juga pemandangan-pemandangan yang kami lihat disana. Ornamen-ornamen putih yang berkilau ketika terkena sinar senter, serangga-serangga aneh, kelelawar, serta ikan2 albino membuat saya merasa takjub dan kagum atas ciptaan-Nya itu. Perjalanan kami memetakan goa tersebut bervariasi. Terkadang kami harus jalan jongkok, menunduk, berenang dan berjalan guna melanjutkan perjalanan menembus perut bumi itu. Kemudian tak terasa tiga jam sudah kami memetakan goa Seden-Buluh. Kemudian secercah cahaya terlihat di depan kami. Di sana mulut goa Sodong Buluh telah menganga menunggu kami yang menggigil kedinginan. Cahaya matahari menyambut kami keluar dari kegelapan goa yang pekat.

Perkenalkan anggota baru tim kami “Flinstone Si perahu karet”


Selasa, 22 Juni 2008
Hari itu kami bangun agak siang. Rencananya siang ini kami akan kembali ke goa guna mendokumentasikan lebih banyak goa Seden-Buluh. Jam 11 kami berangkat ke sana ditemani teriknya matahari daerah pantai. Puanass pisan euy!
Kemudian kami pun masuk melalui mulut goa Sodong Buluh dan mulai mendokumentasi. Kira-kira satu setengah jam lamanya kami menulusuri goa dan mendokumentasikan keindahan di dalamnya.
Seusai itu, kami pun kembali ke rumah pak Kades dan menunggu kang Diky yang rencananya sore itu akan menyusul ke desa Masawah bersama tim LVG.
Sekitar pukul 4 sore, kang Diky tiba di rumah pak Kades bersama timnya. Kang Diky pun bertegur sapa dengan bu Kades dan segera meminta pamit untuk mempersiapkan tenda di dekat mulut goa Seden. Kami yang saat itu sedang bersantai segera diberdayakan guna mempersiapkan segala hal yang perlu disiapkan.
Malam itu saya, Arfan, dan Geblek bermalam di tenda tim LVG.

Ini waktu lagi kerja, pak….Cusi sebagai shooter dan arfan sebagai deskriptor.


Mengukur lebar gua bareng penduduk setempat



Rabu, 23 Juni 2008
Hari itu turun hujan. Hujan yang pertama bagi desa yang sudah 4 bulan tidak turun hujan. Di saat itu Arfan dan beberapa orang dari tim LVG masuk ke goa Seden-Buluh guna memasang katoda. Seusai pemasangan katoda dan bersantai ria sebentar, kami bersiap-siap untuk kembali ke Bandung. Sekitar pukul 11.30 WIB kami pun pamit kepada bu Kades untuk pulang ke Bandung.
Good Bye Masawah! See you next time.

Ternyata flinstone itu narsis…


Model manusia-manusia gua dan perahu gua jaman sekarang.

Pose-pose eksentrik biota-biota endemik goa seden-buluh (eksentrik dan endemik itu apa ya?)

Ceritanya lagi jadi photo model…

Goa = kolam renang

Weits, si photographer juga ingin diphoto ternyata.

Photo bareng di “bendungan alami” buatan Yang Maha Pencipta.

Rabu, 05 November 2008

Materi Survival di Lembah Ciherang

Selengkapnya bisa didownload di sini

By : Zulhariansyah

Hari Pertama Survival (7 Juni 2008)


Survival GL tahun ini sengaja mengambil lokasi di ciherang agar kami lebih dapat banyak ilmu dan sekaligus mengenal lokasi-lokasi baru yang belum pernah kami kunjungi. Perserta survival kali ini adalah kami berlima alias, Ary, Aldi,Yudhi, Dinna, dan Hery serta ditemani oleh seorang pembimbing berinisial MDC, hehehe alias Maman DC. Perjalanan kami dimulai dengan keberangkatan dari rumah makan nasi pecel, tepatnya jam 10.00 WIB. menurut rundown kami, kami telat sekitar 2 jam. Hal ini terjadi karena kami menunggu pasukan kami(Hery) yang sedang berjuang naik angkot dari margahayu karena ban motornya bocor. Walapun segala rintangan menghadang akhirnya kami dapat berangkat. Semangat !! Hidup GH!!

Perjuangan keras kami dimulai, pertama-tama kami naik angkot caheum-ledeng ke terminal ledeng, ternyata dari ITB ke Ledeng tarifnya sudah mencapai Rp. 2.500,- suatu dampak yang diakibatkan kenaikan BBM. Seperti yang kita ketahui, angkot tersebut penuh, dan tentunya BAU. Alhasil Ari pun muntah-muntah ketika tiba di terminal ledeng. Memang pada awal keberangkatan ia menunjukkan gejala-gejala tidak fit. Namun itu tidak menghambat semangat juang kami, sehingga perjalanan pun kami lanjutkan. Selanjutnya kami naik angkot jurusan parongpong untuk menuju stasiun parongpong. Diluar dugaan, tarifnya udah Rp.3500 aja. Lalu kami berjalan ke villa istana bunga dan diteruskan kearah pintu angin.
Karena kondisi keuangan, kami berencana untuk masuk lewat hutan. Hutan pinus pun kami susuri, namun anjing-anjing penjaga dengan sigap menanti, kami kena palak lagi deh. Wong Cuma mau lewat dipalaki, SiaL!! namun apalah daya, golok masih didalam carier dan anak-anak make anorak. Kamipun terus berjalan sesudah membayar tiket. Kami berjalan hingga ke gubuk yang berada di persimpangan menuju ke Burangrang dan situ lembang, lalu kami beristirahat sekitar 30 menit.

Kami berjalan naik, masuk ke dalam hutan kearah barat laut mengikuti jalan setapak, namun lama sudah kami masuk, jalan setapak tersebut berakhir di lereng punggungan yang cukup terjal dan berbatu tidak lupa tentunya ada jelatang walaupun masih setinggi semak belukar. Lalu kami memutuskan untuk menggapai puncakan terlebih dahulu dengan cara apapun. Golok pun akhirnya dikeluarkan. Kami melipir punggungan untuk mencari lereng yang dapat dilalui. Setelah bersusah payah akhirnya kami dapat menginjakkan kaki di punggungan yang sempit dan terjal. Setelah Navigator kami alias Maman mengutak atik peta dan kompas orienteeringnya, kami menelusuri punggungan kearah barat daya, akhirnya ketemulah tapal kuda.

Mengikuti nasehat para petua, kami mengambil jalan yang melipir di punggungan yang terletak di kiri kami. Jalannya berkelok-kelok macem ular, untungnya jalan ini hanya 1 jalur, walaupun terkadang ada cabangnya. Kami berjalan hingga ke ujung punggungan, lalu kami menjumpai sungai, airnya segar betul lah. Kami terus berjalan mengikuti arah aliran sungai berbelok-belok. Kiri kanan kami lihat, ternyata banyak begonia, alhamdulillah makan malamnya begonia. Kami mengambil sebanyak mungkin. Soalnya di camp kayaknya tidak ada makanan yang banyak. Kami terus berjalan mengikuti Maman, sekitar jam setengah lima akhirnya kami tiba di camp. Setibanya di camp, tanpa rasa bersalah si Yudhi langsung memakai celana pendek karena celananya robek parah. Lalu kami pun mencari-cari kayu untuk mendirikan bivak alam, ada yang mengambil kayu,ada yang mencari daun-daunan, ternyata di camp kami ada pohon yang sudah hampir rubuh, karena kami pikir jika ketimpa pohon itu sakit juga, maka kami berinisiatif untuk merubuhkannya terlebih dahulu. Kami dorong pohonya bruk, tapi masih dalam posisi tergantung, rupanya ranting-rantingnya tersangkut sulur-sulur, usaha kami tidak sampai disini, kami menarik dan mendorong pohon tersebut agar jatuh sempurna, dalam artian jatuh ke tanah, kami tarik, pohon itu tertarik, namun ternyata sulur tadi memberikan efek pegas pada sistem kayu-sulur. Kami tarik lagi hingga kami masuk ke semak-semak, Alhasil Yudhi merasakan nikmatnya jelatang.

Untungnya kami (kecuali Yudhi) menggenakan seragam tempur. Karena sulurnya begitu kuat, kami potong saja kayu tadi. Kami melanjutkan pekerjaan hingga matahari terbenam, karena semuanya sibuk mendirikan bivak, Maman yang notabenenya turis terpaksa membuat api (sorry man), bivak kami jadi… maksudnya jadinya ancur, untung saja tidak hujan. Setelah bivak dirasa udah jadi, dan badan dirasa udah capek,,,kita semua memutuskan untuk menghentikan kegatan dengan evaluasi sambil ngemil _______. Abis gitu kita main kartu di dalem bivak,,,peraturannya rada aneh, yang kalah maen salahs atu anggota badannya ditetesin lilin panas. Hhaaa,,,mayan lah,,, setelah jalannya permainan mulai kacau karena pada ngantuk,,,kita memutuskan untuk tidur aja dengan tak lupa berdoa supaya ntar malem jangan ampe hujan,,,soalnya kalo ujan bakal banjir kita,,,,

Hari Kedua Survival (8 Juni 2008)

Rangkaian kegiatan dimulai jam 8 pagi, emang dah kita rencanain sebelumnya bakal bangun jam segitu. Diawali dengan kemales-malesan di depan (bekas) api unggun, kegiatan survival hari kedua yang penuh materi dimulai. Jam 9 pagi kita nyiapin barang-barang buat materi air dan trap. Barang yang disiapkan adalah sebagai berikut: Buat materi air, kita nyiapin ponco, misting, golok, dan kantong kresek warna item, sedangkan buat materi trap kita cuma butuh golok, bekas botol air mineral, dan kreativitas.

Lalu kami pergi ke aula. Di sanalah materi trap diberikan. Yang dibutuhkan untuk trap hanyalah kreativitas. Semua berkarya dengan kreativitas masing-masing. Intinya diharapkan kita dapat menangkap hewan dengan menggunakan bahan yang tersedia dari alam, dan seefektif mungkin. Selanjutnya acara diisi dengan materi air. Kami diberikan pengetahuan dan ketrampilan untuk mendapatkan air. Sebagian besar sama seperti pada saat acara akhir. Bagaimana mendapatkan air dari pisang, evaporasi, penguapan, dll.

Siang hari adalah saat untuk tidur siang, jadi kami tidur. Huah.. bangun dari tidur siang yang panjang, badan terasa aneh, maklum perut sedang lapar. Lalu ntah apa apa, tak da yang kerja,,,, nyampe juga setengah lima, kami berinisiatif untuk membuat api. matah-matahin ranting pohon, ngikis-ngikis kayu untuk starter jadi kerjaan pokok,tapi beberapa dari kami berperan sebagai DU untuk menyiapkan makanan sebagai penutupan survival. Nyalahin lilin,, starter terbakar,, lalu… ternyata butuh kesabaran untuk menggedekan api. Alhadulillah sewaktu matahari tergelincir api kita sudah jadi, namun makanan tetap belum dapat dinikmati.sekitar jam setengah delapan, akhirnya makanan telah siap di santap. HOREEE… Survival ditutup, walaupun dengan nasi + indomie..alhamdulillah. Perut kami akhirnya terisi. Lalu kami semua bingung mau ngapain, jadi semua langsung berselimut sleeping Bag dan tidur nyenyak, padahal blum jam 10.

Besok paginya alias hari ketiga, kami bangun sekitar jam 6. Lalu para DU sigap membuat indomie yang jadi santapan pagi kami. Kami sarapan dengan nikmat. Lalu packing dan foto-foto tentunya. O ya tidak lupa melihat hasil trap, ternyata ada yang kena. Daun yang hanyut di sungai mengisi trap kami. Lumayan,,,,, lalu kami briefing untuk pulang, ternyata kami semua memilih untuk potong turun ke arah barat laut lalu kearah Purwakarta. Seperti biasa, jalan-jalan abis tu nyasar. Tapi semangat kami tetap ada, kami terus jalan turun hingga, ketemu perumahan. Perkampungan yaitu ciliwung. Langsung navigasi punten.. hehehe… lalu jajan-jajan di warung yang ternyata rada nyari untung. Sehingga kami tertahan disana hingga jam 11. Setelah itu kami baru mendapat imformasi yang pasti bagaimana caranya pulang ke Bandung. Menunggu di tepi jalan hingga jam setengah satu, akhirnya muncullah bis yang kami harapkan. Yes pulang ke bandung. Setelah tiba ke bandung langsung ke warung Steak. Beh kenyang abis Barudeh ke sel.

Selasa, 09 September 2008

Simulasi vertikal terakhir menuju Eval artifisial

Perjalanan gladi lanjut RC menuju evaluasi kali ini dilaksanakan tanggal 23 Agustus 2008. Perjalanan kali ini lumayan banyak hambatannya. Soalnya selain ngejar evaluasi Citatah- 125, nak- nak Gladi Lanjut XVII juga punya acara lain. Tujuan dari acara ini sih sebenernya Cuma buat ngakrabin antar anggota GL aja, salnya udah lama juga kita gak ngumpul bareng- bareng ber- 18.

Acara Gladi lanjut kali ini mengambil tempat di Sukawana, rencananya kita mau pergi hari Jum’ at Sre dan balik lagi ke sel tengah malemnya. Namun,karena banyak dari anggota GL yang kuliah sore, alhasil kita malah jadi bernagkat sekitar jam 7 abis magrib. Selain itu juga, ada acara lain. Yaitu ulang tahun 2 anggota KMPA, yaitu Ramzi dan K’ Epin. Satu kue pun dibeli K’ Ana. Dan sambil rapat, kita pun ngerayain ulang tahun mereka di depan sel. Lumayan juga bwat seru- seruan. Sebelumnya juga kita dah nyiain 1 kue bwat Ramzi, dan rencananya mau dikasih waktu di Sukawana.

Tidak disangka acara GL kali ini lumayan seru, dan kita ngerasaim bareng- bareng lagi kayak jaman Acara akhir dulu. Acara di sana kebanyakan adalah sharing- sharing, dan makan- makan. Sekitar jam 3 malem, kita siap- siap pulang ke sel, soalnya banyak yang punya urusan masing- masing. Aldi, Ari, Muhsin, Heri mau berangkat ke Depok pagi jam 6an bwat ikut lomba navigasi yang diadain Universitas Pancasila. Nama lombanya Talaseta. Nak- nak GL RC tentunya maw melanjutkan perjuangan ber- simulasi vertikal ria.

Sekitar jam 4an pagi, kita semua nyampe sel. Rencana baiknya sih kita mau langsung berangkat ke Citatah. Tapi apa mau dikata bukan direncanakan, kita tepar. Ha… dan para G- RC pun ngamuk- ngamuk soalnya kita telat banget. Jam 8 kita ber- 4 baru bangun. Dan lebih bodohnya lagi, walaupun udah beres- beres, kita tuh siapnya lama. Dan ada lagi kebodohan lain, motor Brian emang STNK nya lagi ilang. Makanya kita kekurangan motor. Dan solusinya Brian mau gak mau harus ngurusin STNK nya dulu. Ide nya sih mau bikin surat keterangan dari satpam, bahwa kehilangan STNK. Tapi, ternyata Brian nyari STNK nya ke laundyan dan lama. Masalah lain lagi, Hari itu 23 Agustus 2008 Mba’ May lagi nikah, terus kita malah disuruh ke sana dulu. Dan perjalanan ke Citatah pun semakin molor.

Dan akhirnya Bambang dan Brian memutuskan untuk menjadi tim advance ke Citatah. Mereka berangkat sekitar jam 11an. Mereka dah sarapan. Dan gw dengan Maul dengan jahatnya meninggalkan mereka, pergi makan- makan di tempatnya Mba’ May.

Tadinya gw pikir, kita bakal balik dulu ke sel setelah dari pernikahan Mba’ may yang berlokasi di Cimahi. Dan akibatnya adalah gw lupa membawa daypack nya Brian yang beisi sleeping bag nya Brian dan Bambang. Ho… teganya gw sama teman- teman gw. Padahal gw yang dititipin sama Brian.

Kita ber-empat (yostal, Maul, Giri, Sani) nyampe ke citatah sekitar jam setengah 3 menuju jam 3. Sebelumnya kita shalat dulu di Musholla Ciburuy. Sesampainya di Citatah, gw melihat Bambang sedang tutorial sama Brian. Tutorialnya berupa memalu dan mencari crack2 yang bisa dijadikan tempat untuk memasang alat artificial. Setelah itu, gw langsung bergegas siap- siap racking alt, soalnya mau latihan simulasi horizontal lagi. Bambang jadi leader, gw jadi cleaner. Simulasi lumayan bejalan dengan lancar. Tapi, simulasi Cuma sempet dilakuin 1 kali, soalnya udah sore.

Keesokan harinya , kita mulai jam 8. Citatah kali itu sepi, Cuma kita aja yang ada di sana. Jadi, jalur vertical yang biasanya rame dipake bwat latihan artificial bisa kita pake sampe sore. Kita paa GL dibagi ke dalam 2 tim. Maul- Brian, Bambang- Yostal. Tim pertama Maul sama Brian. Kita ber- 4 simulasi vertical sampe goa, dengan system bergantian jadi leader dan cleaner.Sambil menunggu tim 1 selesai, gw pun memperhatikan dengan seksama rangkaian latihan simulasi sambil memotret. Sedangkan Nda dan Sani melakukan penghijauan kecil- kecilan, yaitu menanam beberapa pohon di Citatah. Biar citatah gak kering, sekalian menjaga lingkungan hidup.heheh…Kan KMPA berbasis lingkungan hidup.


Heu… Kita Cuma ditemenin sama K’ Giri sampai siang aja. Karena motornya jadi kurang kalaw K’ Giri pulang, jadi maul pulang duluan bareng K’ Giri.

Di saat gw jadi leader dan cleaner, kerasa banget capek nya. Hamper aja mau nyerah, tapi untungnya nggak. Kendala lainnya adalah kala itu lumayan panas. Yang menguras tenaga juga adalah waktu gw mau meng- clean phyton angle yang gw pasang sendiri, waktu bikin tambatan di pitch. Untungnya tim 2, yaitu gw dan Bambang didampingi Nda. Jadi tim 1 gak nyopot tali statisnya. Tali statis dipake buat ngejumar. Trus kita turun dari goa lewat pintu belakang Citatah. Inilah enaknya Citatah kalaw buat latihan.

Di luar rencana lagi, simulasi akhirnya jadi dilakuin 3 kali. Yang terakhir sebenernya dah sore banget, sekitar jam setengah 5 lewat. Brian jadi leader, Bambang jadi cleaner, dan gw menjumar. Brian untungnya kala itu dengan sigap dan cepat menyelesaikan leader nya sampe goa dengan 1 pitch. Lalu, setelah selesai, Brian pasang tali statis, gw langsung menjumar. Biar cepet, gw menjumar sambil manjat. Tiba- tiba hujan datang menyergap. Huh…baju gw serta merta jadi basah dan kotor. Waktu itu jadi agak deg- degan soalnya takut banget batunya jadi licin. Untung aja bisa cepet, dan akhirnya langsung berteduh di goa. Heu...pengalaman baru, karena sebelumnya belum pernah kita manjat sambil ujan- ujanan. Nggak Cuma ujan aja, waktu itu juga hari udah gelap, jadi mengganggu pemanjatan juga, apalagi bwat Bambang yang jadi cleaner.


Untung aja gak cuma Sani sendiri, ada Nda’ dan 1 orang temennya yang bantuin ngarahin apa yang harus kita perbuat. Karena panic, dan komunikasi jadi susah, Brian salah ngelepas tali dinamis yang harusnya jadi petunjuk jalan bwat Bambang. Dan akhirnya Bambang meng- clean dengan menggunakan tali statis, dan dengan pengaman jumar. Kasian juga dya nge- cleaner sambil gelap- gelapan. Kita ber- 3 turun sambil rapling pake tali dinamis yang dipasang di hanger. Akhirnya kita berhasil turun sekitar jam setengah 7. Huhu..pengalaman yang seru dan sedikit menegangkan.

Masalah berikutnya adalah packing. Soalnya senter yang kita bawa kehabisan baterai. Ada lilin sih, tapi angin Citatah yang lumayan gede, bikin lilin kita jadi gampang mati. Untunglah masih bisa di handle. Sky hook sempat menghilang waktu di packing, entah ke mana. Cuma ada 1. Heheh… tapi karena susah, bambang lebih milih bwat ganti. Brian juga rencananya mau beliin heksentrik. Makin banyak deh alat baru. Untung aja gak ujan lagi. Akhirnya kita pulang juga. Capek euy…

Sesampainya di sel, langsunglah beberes dan mandi. Dan kita ditraktir sama ka gugum. Hu.asik kan ditraktir ma om Gugum di MCD lagi. Haha… Dan jam 10 sampailah di kos.


oleh : Yositalida K. F

Minggu, 07 September 2008

Pembukaan Gladi Mula XVIII

Sabtu, 6 September 2008, merupakan momen di mana KMPA akan mendapatkan keluarga baru (anggota baru).
Pembukaan kali ini berbeda dengan sebelumnya. Pembukaan GM XVIII ini dilakukan di sore hari sekalian ber-ngabuburit ria di bulan puasa ini.

Berikut sekilas cuplikannya:


Photobucket
"Peserta dibariskan di terowongan"

Photobucket
"Panitia pun tak kalah, berbaris di tangga untuk menyambut calon keluarga baru"

Photobucket
"Penyematan Slayer kepada perwakilan siswa GM XVIII oleh ketua KMPA Ganesha ITB"

Photobucket
"Penyalaan Api, pertanda acara GM XVIII telah dibuka"
***

Selanjutnya, saling kenal-mengenal antara siswa dan seluruh anggota KMPA:
Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket
***

Kegiatan pembukaan GM XVIII ini ditutup dengan slide show kegiatan-kegiatan KMPA dan berbuka dengan ta'jil bersama-sama...
Photobucket
***

Rabu, 03 September 2008

When the world is all about rubbish...

WALL-E

Photobucket

"... ketika robot lebih pantas disebut manusia..."
"... dan ketika manusia lebih pantas disebut robot..."


Film dari Walt Disney & Pixar ini memberikan gambaran mengenai kehidupan manusia masa depan, kurang lebih di tahun 28xx masehi. Saat itu manusia sudah meninggalkan bumi dan bertempat tinggal di pesawat ruang angkasa yang bernama Axiom. Segalanya serba robotisasi.

Film ini dikemas dengan berbagai adegan humor yang bisa mengocok perut, namun tetap sarat akan amanat bagi penonton.

Pergerakan manusia tidak lagi menggunakan kaki dan tangan, tetapi menggunakan kursi otomatis yang bisa bergerak ke mana saja layaknya laju mobil. Segala makanan dan aktivitas lain disuplai dan dilakukan oleh robot. Manusia hanya makan, berkomunikasi dengan dunia maya, alias autis sendiri-sendiri. Tidak peduli lagi dengan yang namanya interaksi satu sama lain.

Sementara tulang dan tubuh manusia semakin berevolusi karena tidak pernah digunakan di Axiom, bumi hanyalah sebagai tempat sampah, penuh dengan gedung-gedung rongsokan dan sanpah-sampah kaleng.

Di bumilah tempat wall-e bertugas membersihkan dan merapikan sampah-sampah tersebut hingga akhirnya menemukan bibit suatu tanaman. suatu hal langka bisa menemukan tanaman di bumi pada saat itu. Wall-e bertemu dengan Eva yang sedang bermisi mencari tanda-tanda adanya tanaman. Dimulailah petualangan Wall-e dan Eva mempertahankan tanaman tersebut.

Photobucket

Sebuah film yang bisa dibilang menyadarkan manusia untuk tetap memperhatikan kelangsungan hidup dan kehancuran bumi.
Sangat direkomendasikan untuk menonton film ini...

...pedulikah kita...
...robot saja peduli dan memiliki hati...


Selasa, 02 September 2008

Pendokumentasian Jalur Selatan Gunung Raung

Berikut adalah sekilas pendokumentasian Pendakian Gunung Raung...

Yanuar Prima,C. N. N Ria Lestari,Malahayati,Gustaf Ardana,Alam Surya Pasemah,Irfan Hamzah,Maman Dwi Cahyo
"Tim Raung"

Photobucket
"Briefing menjelang keberangkatan"

Photobucket
"Pelepasan dari SEL"

Photobucket
"Malam Evaluasi, Polsek Kalibaru"

Photobucket
"Batas akses kendaraan, Glenmore"

Photobucket
"Camp 2"

Photobucket
"Camp menjelang batas vegetasi"

Yanuar Prima,Alam Surya Pasemah,Irfan Hamzah,C. N. N Ria Lestari,Maman Dwi Cahyo
"Batas Vegetasi"

Photobucket
"Menuju puncak, instalasi punggungan sempit, moving together"

Photobucket
"Punggungan pasir dan batu labil/rapuh"

Photobucket
"Puncak Raung"

Photobucket
"Bibir kawah Gunung Raung"

Photobucket
"Kawah Gunung Raung"

Photobucket
"Puncak Selatan Gunung Raung"