Minggu, 19 Juli 2009

Gunung Kerinci

Gunung Kerinci merupakan gunung api aktif yang tertinggi di Indonesia.Puncaknya berada pada ketinggian 3810 Mdpl.
Kerinci berada dalam 2 wilayah administratif, yaitu provinsi Sumatera Barat dan Jambi.Gunung Kerinci terletak di Bukit Barisan, dekat pantai barat, dan terletak sekitar 130 km sebelah selatan Padang.

Terdapat dua alternatif jalur pendakian di gunung Kerinci.
Jalur pertama berada di desa kersik tuo Kabupaten Kerinci,Jambi.Para pendaki biasanya menggunakan jalur ini untuk mencapai puncak.
Satu jalur lagi berada di daerah Solok Selatan.Jalur ini baru dibuka tahun 2007 lalu.

Desa Kersik Tuo dapat dicapai dengan 2 alternatif perjalanan darat. Pertama perjalanan dapat dimulai dari kota Jambi menuju Sungai Penuh dengan jarak perjalanan sejauh 500 Km, +/- 10 jam. Kemudian melanjutkan perjalanan kedesa Kayu Aro selama +/- 2 jam.

Desa ini juga dapat dicapai dari kota Padang, dengan lama perjalanan +/- 7 jam.

RUTE PENDAKIAN

- Pondok R10 (1611 m dpl) - Pintu Rimba (1800 m dpl).
R10 adalah pondok jaga balai TNKS untuk mengawasi setiap pengunjung yang akan mendaki gunung Kerinci. Medannya berupa perkebunan/ladang penduduk, kondisi jalan baik (aspal) sampai batas hutan. Jarak tempuh 2 km atau 1 jam perjalanan.

- Pintu Rimba - Pos Bangku Panjang (1909 m dpl).
Pintu Rimba merupakan gerbang awal pendakian berada dalam batas hutan antara ladang dan hutan heterogen sebagai pintu masuk, disini ada shelter dan juga lokasi air kurang lebih 200 meter sebelah kiri jika kita menghadap gunung Kerinci.

Jarak tempuh ke Bangku Panjang 2 km atau 30 menit perjalanan, lintasan trekking nya relatif landai.

- Pos Bangku Panjang - Pos Batu Lumut (2000 m dpl).
Pos Bangku Panjang terdapat dua shelter yang masih boleh dibilang layak. Menuju Batu Lumut medan pendakian masih landai dan jarak tempuhnya sekitar 2 km dengan waktu tempuh 30 menit.

- Pos Batu Lumut - Shelter 1 (2225 m dpl).
Pos Batu Lumut merupakan tempat istirahat namun tidak ada shelternya tetapi disini ada lokasi airnya (air endapan). Memang lokasinya di sungai tetapi sungai ini konterporer yang hanya berair dimusim hujan.

Jarak tempuh menuju Shelter 1 sejauh 2 km perjalanan dengan waktu tempuh 1 jam. Kondisi jalan setapaknya relatif terjal dengan kemiringan sekitar 60.

- Shelter 1 - Shelter 2 (2510 m dpl).
Shelter 1 merupakan tempat istirahat, terdiri dari satu buah pondok yang masih terawat baik, jarak tempuh menuju pos 2 yaitu 3 km dengan waktu tempuh 1,5 jam. Di lintasan ini sesekali jalan setapaknya terjal sampai kemiringan 45.

- Shelter 2 - Shelter 3 (3073 m dpl).
Shelter 2 merupakan tempat istirahat, dengan satu buah shelter namun tidak terlalu kokoh. Mungkin karena usia pondok ini cukup tua dan kondisi medan yang suhu udara dratis membuat shelter ini masih bertahan walaupun dalam keadaan miring hampir rubuh.

Jarak tempuh menuju shelter 3 yaitu 2 km dengan waktu tempuh 2 jam.

- Shelter 3 - Shelter 4 (3351 m dpl).
Shelter 3 merupakan tempat istirahat yang hanya tingga kerangka besinya saja. Lokasi ini merupakan medan yang terbuka dan bisa memandang kearah desa Kersik Tuo.

Tempat ini juga bagus untuk dijadikan tempat mendirikan tenda. karena tempat datarnya lumayan luas. Disini juga kita bisa menjumpai sumber air. Perjalanan menuju puncak hanya tinggal 3 jam perjalanan dari shelter ini.

Menuju shelter 4 jarak 1,5 km dengan waktu tempuh 1 jam. Kondisi jalan setapaknya merupakan bekas aliran air yang menjadi jalur pendakian.

- Shelter 4 - Batas vegetasi/Pasir/Batuan Cadas - Puncak (3800 m dpl).
Ditempat ini terdapat papan pengumuman yang berisikan larangan membuat rute baru dan informasi mengenai lintasan pasir dan cadas harap berhati-hati.

Lapangan yang luas. Disini bisa mendirikan tenda asalkan tenda anda memenuhi persyaratan untuk didirikan disini, karena disini angin bertiup lumayan kencang serta suhu yang dingin.

PERIJINAN

Perijinan dapat diurus di R.10


By : Maria Ulfa
dikutip dari berbagai sumber

Senin, 01 Juni 2009

Forum Hijau Di Hotel Aston

Tanggal 24 Mei 2009, KMPA mendapat undangan untuk Menghadiri Forum Hijau yang bertempat di Hotel Aston Meeting Room. Forum Hijau merupakan forum tempat berkumpulnya komunitas-komunitas berwawasan lingkungan. Pada saat itu, beberapa komunitas peduli lingkungan hadir, seperti dari YPBB, U green ITB, Balad Kuring, BCS (konsrvasi Burangrang) dan tentu saja KMPA. Disitu KMPA berkesempatan untuk melakukan Presentasi mengenai organisasi nya dan kegiatan-kegiatannya. KMPA di forum itu diwakili Oleh Maul, Eko dan Bryan.
Presentasi dikemukakan oleh Maul yang didalam nya berisi pengenalan organisasi KMPA yang merupakan organisasi pencinta Alam yang juga berlandasan lingkungan. Dalam presentasi tersebut forum ternyata cukup terkejut ketika kami mengangkat masalah yang terjadi di Citatah. Dan terjadilah perbincagan yang cukup hangat disana. Selain kami, yang melakukan presentasi adalah dari YPBB dan Baladkuring. YPBB mengangkat tema tentang penanganan sampah di rumah tangga dan perkotaab serta pelatihan-pelatihan yang telah dilakukannya. Sedang Balad Kuring mengangkat tema tentang Dago car free day yang akan dilakukan pada tanggal 30 Mei 2009. Di Forum itu, terjadi suatu perbincangan dan pertukaran informasi yang cukup hangat dan responsif. Masalah-masalah lingkungan yang terjadi dan dipandang dari banyak sudut yang kadang luput dari pengamatan kita. Dan Masih banyak PR-PR kita untuk menangani isu-isu Lingkungan. Forum tersebut berlangsung dari Jam 20.00 hingga 22.00 dan dimoderatori oleh Vera dari U green ITB. Semoga forum ini masih terus berlanjut dan mampu memberikan solusi -solusi untuk berbagai macam masalah lingkungan.


Salam Lestari,


By Bryan Brama R. (G-221-XVIII)a

Latihan Bersama Dayung di Pengalengan

Pada hari kamis dan jumat Tanggal 21 dan 22 Mei 2009. KMPA melakukan latihan bersama Dayung dengan WARP. WARP dengan kebaikan hatinya bersedia menfasilitasi perahu dan logistik lainnya. Dengan begitu kami tidak perlu menyewa perahu.. itung2 penghematan, hehe. Sebelum latihan, sehari sebelumnya tepatnya hari rabu malam, kami melakukan tech meet. Dalam tech meet kontingen KMPA dipimpin oleh Dani Johan Malmsteen The Dying Pharmacist. Dan dalm Tech Meet tersebut akhirnya diputuskan untuk mengambil tempat di pengalengan.

Keesokan harinya, kita berangkat pukul 07.30 dengan menyewa angkot. Tetapi ada juga yang naik motor yaitu Emil, Arfan dan Bryan. dan dengan diwarnai putar sana dan putar sini, akhirnya sampai juga di tempat target. Langsung saja latihan dimulai, pukul 11.00. Latihan dipimpin oleh kang Bolet dari Rahwayan. Total peserta yang ikut dari WARP dan KMPA adalah 11 orang dengan 2 perahu. Dari Kami adalah Dani, Emil, Yana, Bryan, Arfan. Latihan itu berlangsung hingga pukul 17.00. Materi dalam latihan tersebut adalah berenang dalam sungai, rescue sungai, macam2 dayung (j stroke, C stroke, draw dsb), Flipflop, dll. Latihan akan dilanjutkan keesokan harinya.

Keesokan Harinya latihan dimulai pukul 8.30 sampe jam 15.00 dengan break solat jumat. Materi yang disampaikan adalah latihan skipper, pengarungan dan River Rescue. Setelah berbasah2 ria dan berdingin2 ria, kami ganti baju dan melakukan perjalanan pulang. Dan banyak Terima kasih untuk Kang Bolet dan Rahwayan.

Salam Lestari,


By Bryan Brama R. (G-221-XVIII)

Latihan Bersama Team Rescue

Pada Tanggal 2 dan 3 Mei 2009, Kami bersama Warp (ST-Inten) dan Mapaligi (Unikom) melakukan Latihan Bersama Team Rescue. Latihan Ini bertempat di ST Inten dan WARP Selaku Tuan Rumah nya. Hari sabtu nya kami melakukan Tech meet dulu untuk membicarakan skenario apa yang akan kita lakukan. Dari KMPA yang Hadir sekitar 6 orang (Sigit, Bryan, Sani, Maul, jarwo, Cuy). Setelah pembicaraan cukup panjang akhirnya diputuskeun untuk menindaklanjuti skenario latihan sebagaimana yang sebelumnya (tanggal 18-19 april di ITB) dan untuk melancarkan tehnik2 yang diperlukan.
Keesokan harinya, seperti biasa di kehidupan sehari2 Indonesia, jadwal yang sudah disetujui ternyata molor. Sebenarnya kami sih yang datang nya telat.. hehe... Waktu itu yang datang sebagai advance ke warp adalah Bambang dengan Bryan. Yang lain katanya akan menyusul (menyusul juga akhirnya). Kemudian kamu melakukan survei lokasi untuk menentukan dimana bisa melakukan skenario kasus yang sudah direncanakan sebelumnya. Setelah oke semua, kami melakukan briefing, dan langsung eksekusi. Team dibagi 2, team bawah dan tim atas. Tim bawah bertugas membawa tali ke target korban, menangani korban dan melakukan instalasi tambatan di bawah. Tim atas bertugas mengencangkan tali, mengirim peralatan, dan pusat komunikasi. teknis penyelamatan Sebagai berikut:

  1. Tim mentransfer 2 tali ke titik target dan melakukan instalasi tambatan sekaligus menangani korban dan membersihkan jalur lintasan
  2. 2. Tim atas melakukan pengencangan tali yang akan digunakan untuk lintasan transfer korban. Tali yang digunakan 2 buah Untuk memenuhi safety procedure. Pengencangan tali dilakukan menggunakan Hauling system ( N dan M system)
  3. 3. Setelah terbentuk Lintasan yang diinginkan, 1 orang dari Tim bawah menemani korban untuk di bawa ke titik aman. Tim atas menarik korban juga dengan menggunakan Hauling system.
  4. 4. Setelah Korban di amankan, jalur sudah tidak diperlukan sehingga bisa dilepaskan(dibereskan)
Alat 2 yang dibutuhkan untuk melakukan Rescue tsb adalah : Pulley (tandem dan Single), Karabiner (snap dan Screw), ascender (jumar, croll basic), Descender (autostop, figure), Webbing, Tali statis 3 buah (2 untuk lintasan dan 1 untuk alat transfer), harnes.

Latihan berlangsung selama 4 jam, dan berakhir pukul 17.00. Setelah itu kami melakukan evaluasi, komunikasi dan koordinasi tim dan teknis2 nya merupakan point yang dievaluasi. Secara Overall latihan kami lebih baik dibandingkan dengan latihan sebelumnya yang di Tuan Rumahi oleh KMPA G. Latihan ditutup dengan makan bareng di depan Sekre Warp.

Salam Lestari.



By Bryan Brama Ramadhana (G-221-XVIII)

Sabtu, 16 Mei 2009

DP Terbaik Bulan April

Sabtu, 02 Mei 2009

Seminar Lingkungan Hidup @ Argawilis, STSI,22 April 2009

Pada awal bulan April lalu, KMPA mendapatkan undangan seminar lingkungan hidup dari kelompok pecinta alam Argawilis, sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI). Seminar ini bertujuan untuk Memperingati hari Bumi tahun 2009 , dilaksanakan bertepatan pada hari bumi (22 April 2009) di gedung GSG STSI, seminarnya bertemakan “Lingkungan Hidup dalam perspektif kebudayaan”. Selama ini, Argawilis memang diketahui selalu mengadakan event untuk memperingati hari bumi setiap tahunnya.
Seminar ini dhadiri oleh 3 pembicara yang berasal dari WALHI Bandung (Saya lupa nama mas2nya, aduh maaf ya mas…),STSI (bapak Arthur S Nalan, penulis naskah), dan dari Fakultas Desain dan Seni rupa ITB(Bapak Jakob Sumardjo).
Seminar dibagi atas 3 sesi dimana tiap sesinya diisi oleh 1 pembicara kemudian dilanjutkan dengan Tanya jawab.
Sesi pertama diisi oleh pembicara dari WALHI (Aduh, sekali lagi saya minta maaf karena lupa namanya…).Inti materi yang disampaikan bagus, dan sangat dekat sekali kenyataannya dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Bandung, yaitu konversi Lahan didaerah Bandung. Wacana ini sepertinya sudah sering kali kita dengar diforum-forum, berita, dan banyak media lainnya.Bagaimana efek alih fungsi lahan untuk pembangunan memberikan dampak yang sangat buruk terhadap keseimbangan alami kota Bandung. Contoh yang diberikan pada pembicaraan kali ini adalah perubahan suhu yang sangat kentara dirasakan didaerah Bandung Utara yang terus-terusan dibangun, sementara masyarakat sendiri juga tidak banyak yang mengetahui tentang perencanaan tata lahan kota dan tentang prosedur pemberian IMB (izin mendirikan bangunan)oleh pemerintah. Contoh terdekat lain diberikan oleh audience, yaitu rencana pembangunan didaerah hutan Babakan Siliwangi, hal yang mengancam oleh rencana pembangunan ini adalah hilangnya titik sumber-sumber mata air yang ada dilokasi hutan ini. Padahal selama ini, sumber-sumber mata air ini dimanfaatkan oleh warga disekitar Baksil untuk kehidupan sehari-hari mereka.Dampak negative lain tentu saja semakin berkurangnya lahan hijau di kota Bandung , sementara yang kita punya saat inipun sudah jauh dibawah standar yang seharusnya. Ada pertanyaan dari audiense yang menarik saya waktu itu. Inti pertanyaannya adalah, kenapa selama ini aksi protes terhadap alih fungsi lahan yang kita lakukan selama ini cenderung memojokkan pemerintah dengan izin-izin yang mereka berikan terhadap pengusaha, sementara tidak bisa dibantah kita juga menikmati hasil dari pembangunan ini.Opini-opini lain yang dilemparkan seperti kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam, pembangunan-pembangunan yang seolah-olah tidak ada batasan, dan beberapa opini lain. Beberapa kesimpulan yang diambil dari sesi pertama ini adalah : menyebarluaskan pemahaman tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam pada masyarakat (dan ini menjadi tanggung jawab personal tiap orang yang sudah memahami ilmunya, apalagi pencinta alam yang keberadaannya sangat terkait dengan kelestarian alam), membuat perencanaan pembangunan yang ramah lingkungan dan disiplin terhadap apa yang sudah kita rencanakan.Sedikit masukan, pembicaraan sepertinya akan lebih hidup dan interaksi jadi lebih terasa kalau materi disertai slide.
Sesi kedua diisi oleh bapak Jakob Sumardjo yang berasal dari FSRD ITB. Peserta seminar sebelumnya sudah dibekali oleh sebuah artikel dari beliau dengan judul “Hutan dan Kearifan Lokal”.
Pada pembukaannya, artikel ini bercerita tenang makna dan cara pandang masyarakat Indonesia terhadap hutan yang berbeda-beda. Secara umum , cara pandangnya dibagi atas keadaan geografis tempat tinggal masyarakat, yaitu dataran rendah, perbukitan, dan lading. Masyarakat dataran rendah cenderung hidup bersawah dan tidak menganggap hutan sebagai sesuatu yang harus dilestarikan. Untuk yang diperbukitan yang hidupnya berpindah-pindah, hutan sangat dibutuhkan karena perladangan mereka sangat tergantung pada kesuburan tanah. Sementara masyarakat didaerah pantai juga merupakan pelestari hutan karena mereka memperdagangkan hasil-hasil hutan dengan kecakapan berlayar mereka. Kerajaan-kerajaan di Indonesia dibangun atas basis pengetahuan ini. Ketika Indonesia mulai dimasuki kolonial, pola hidup Industri diberlakukan di Indonesia. Bagi colonial, Indonesia hanya dibutuhkan sebagai sumber bahan metah Industri negara mereka dan pemerintah colonial mengabaikan makna hutan yang telah tumbuh dalam diri masyarakat Indonesia.
Masalah yang terjadi kemudian adalah, cara pandang kolonial ini kemudian diteruskan oleh pemerintah Indonesia setelah kemerdekaan. Hal ini semakin diperburuk karena ada kecenderungan negara dikendalikan oleh pemerintah dinegara Indonesia. Dimana kebijakan-kebijakan dikendalikan oleh pemerintah (yang sudah dipengaruhi oleh cara pandang luar) dan melupakan kearifan lokal rakyat setempat yang padahal sudah terbentuk ribuan tahun sebelum kedatangan koloni . Dan lalu terjadi titik balik cara pandang dalam membangun bangsa dan negara Indonesia yang sangat terkenal keberagaman budayanya dimana cara pandang ini dibangun oleh ekologi kehidupan dan bukannya sistem pengetahuan yang muncul sebagai refleksi pangjang lingkungan hidup yang empiric. Salah satu penyebab terjadinya titik balik ini adalah aktivitas dan pemikiran kaum intelektual Indonesia yang berpendidikan colonial barat yang membentuk negara dan pemerintahan Indonesia yang membangun dengan orientasi model negara Barat. Mekanisme pembangunan yang dilakukan mengabaikan kondisi empiric masyarakat Indonesia yang sebagian besar masih agraris-hutan , sementara rakyat hanya bisa mengikuti, mematuhi, dan mempercayai para pemimpin yang diyakini lebih “terpelajar”
Bapak Jakob dalam artikel ini mewacanakan turning point paska kolonial. Beliau juga memberikan cara hidup yang arif dan ramah lingkungan seperti yang dilakukan oleh kaum dayak punai diKalimantan (Bagi yang tertarik dapat searching di internet untuk keterangan lebih lanjutnya).
Sesi ketiga dari seminar ini diisi oleh Bapak Arthur S Nalan dari STSI yang bertemakan nurani ekologis dan nurani panggung.Beliau mengaitkan cara hidup arif dan ramah lingkungan (nurani ekologis) yang tumbuh dari kesehariaan beliau bergelut dengan dunia panggung. Beliau menceritakan bagaimana ide-ide untuk panggung kemudian justru tumbuh dari alam.
Pada slidenya, beliau memberikan definisi nurani ekologis dan nurani panggung. Nurani ekologis : “ “pengetahuan dibidang ilmu-ilmu humaniora, khususnya etika yang mengutamakan keselamatan lingkungan, baik manusia dan makluk kain serta habitatnya.”, Nurani Panggung :”Pengetahuan dibidang-dibidang ilmu pertunjukkan, khususnya estetika yang mengutamakan realitas nilai-nilai yang memiliki maknawinya sendiri.”.
Lalu beliau juga memberikan beberapa filsafat lingkungan yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan untuk menjaga kelestraian lingkungan :
• Komperehensif
• Tekad Kuat
• Hidup secara spiritual
• Berorientasi kehidupam
• Memperhatikan kesehatan
• Toleransi terhadap fenomena transfisik
• Tanggung jawab individu
• Prihatin secara lingkungan
• Sadar secara politis
• Berhubungan dengan ekonomi dan kualitas kehidupan
• Sadar secara lingkungan dan ekologis
• Mengejar Kebijaksanaan
Seminar ini ditutup oleh pertunjukan music oleh musisi STSI. Pertunjukan musik ini sangat special karena alat-alat musik yang dimainkan merupakan hasil karya tangan sendiri dan terbuat dari barang-barang buangan. (Lagi-lagi saya lupa nama musisinya, aduh maaf…). Sang musisi memilih caranya sendiri dalam melestarikan lingkungan dan dengan cara yang sangat kreatif. Sang musisi sudah mendapatkan banyak penghargaan dan yang terbaru dari Thailand atas kreatifitasnya memanfaatkan barang bekas.
Sedikit banyak seminar ini memberikan beberapa ilmu baru bagi saya dan beberapa hal saya catat untuk direnungi. Semoga dengan acara ini semakin banyak orang yang mengerti pentingnya arti lingkungan hidup bagi kehidupan kita.Terima kasih sahabat di Arga Wilis!
(By : Maria Ulfa, G-226-XVIII)

Rabu, 07 Januari 2009

Navigasi Cicenang-Gunung Malang


Pagi hari yang sebenarnya cerah dan memang sangat bersahabat, tapi gak buat gue.. hehe, soalnya hari ini ada materi navdar atau navigasi darat untuk GL XVIII di daerah Cicenang. GL yang jumlahnya 15 orang, ternyata yang bisa ikut cuma 10 orang termasuk gue.. Dan sempat berpikir kenapa gue gak masuk yang 5 orang itu ya?? Karena terlalu banyak mikir, makanya malah jadi ikutan. Jadi anak GL yang ikut ada Freden, Cahyo, Nasir, Affan, Andi, Tetu, Rahman, Os, Yulyan, dan tidak lupa gue. Kegiatan ini juga didampingi oleh para pendamping yang katanya sih baik-baik (jangan dipercaya), mereka adalah Irfan, Arfan, Gian, Alam, Heri, serta tidak ketinggalan dua orang turis yang gak jelas datang dari mana, ya dia adalah Maul dan Maman (yang datangnya telat, makanya langsung nyusul ke tempat materi). Gue sendiri juga bingung kerjaan dua turis (M2M) ini ngapain aja

Irfan langsung menyuruh untuk membagi kami dalam 2 kelompok yang tiap kelompok ada 5 orang, ya otomatis semua pada rebutan ke kelompok gue la, secara alatnya gue kan paling lengkap (kompas, penggaris, pena, pensil, penghapus, busur derajat, dan masih banyak lagi yang lainnya), haha (narsis mode on). Tapi ternyata itu cuma kamuflase saja, kelompok yang sebenarnya adalah orang yang berdiri di depan masing-masing. Jadi tiap kelompok terdiri dari 2 orang yang totalnya ada 5 kelompok.

Dan dimulailah materi hari itu dengan mencari titik awal di peta yang telah diberikan sebelumnya. Gue dan Yulyan memulai dengan menembak 2 titik ekstrim, yaitu Gunung Tangkuban Perahu (yang uda lumayan ketutup sama kabut) dan satu lagi gue lupa nembak apaan, hehe. Baru setelah itu melakukan resection di peta, karena belum yakin dengan hasil resection, makanya harus dilanjutkan dengan orientasi medan. Dan atas saran dari pembimbing kami yaitu Heri, kami pergi ke tempat yang agak lebih tinggi supaya dapat lebih melihat medan di sekitar. Butuh waktu yang cukup lama sampai akhirnya terpaksa meyakini suatu titik sebagai titik awal dan semua itu juga karena gue yang tidak membantu sama sekali, harap dimaklumi soalnya emang gue gak ngerti tentang navdar.



Os, Rahman dan Pak Alam, satu tim, satu ke’liar’a
n.

Pada awalnya, kami tidak memilih pendamping, mau ga mau, Pak Alam menghampiri untuk menjadi pendamping navdar kelompok ini. Dari awal, kami ini tidak niat ikutan navdar. Si Rahman dah mala
s buat ikutan navdar, kemungkinan karena ga ada si Intan. Os ga niat karena tidak pernah bisa menyukai kebuh teh hingga sekarang. Dari persamaan ketidakniatan ini, mereka mulai mengerjakan resection dengan peralatan seadanya, yaitu pena dan kompas. Dengan pena dan kompas yang pas-pasan, Rahman mulai membidik Tangkuban Perahu dan Gunung.... Dengan perhitungan pas-pasan, akhirnya, kami menebak-nebak posisi kami di tempat berdiri. Tebakan pun salah. Pak Alam, dengan sabar, mengajak ke bawah, ke arah dekat aliran sungai untuk memperjelas penglihatan kami berdua. Dibawa ke bawah bukannya semakin tahu, atau mengerti pembacaan bentang alam yang ada di cicenang tersebut, malah kami berdua semakin mumet dan main tebak-tebakan semakin menjadi. Akhirnya cukup lama waktu yang dihabiskan untuk menebak dan tidur-tiduran, niatan pulang pun selalu terlintas.

Pak Alam pun menyerah dengan memberi clue pada kami berdua posisi berdiri ini dengan bertanya apa saja bentangan berupa punggungan yang ada, termasuk punggungan luas, tempat mereka berdiri. Akhirnya posisi pun didapat dengan (rincian ada di peta).
Setelah itu target dari navdar ini pun disebutkan bahwa k
ami harus menuju gunung Malang, yang secara kasat mata ternyata berada di seberang jalan. Pak Alam pun memberi pengarahan kepada kami untuk tahu bagaimana ke gunung tersebut. Keterbatasan alat sempat mengganggu rencana dan menurunkan semangat. Kebingungan mendera hingga si bapak bilang ada 3 cara navigasi, yang salah duanya adalah potong kompas dan trekking. Secara peralatan navigasi kurang, dan option ketiga juga bernasib sama, maka diambil opsi trekking. Opsi ini membawa kami harus mengerti dan menghitung jumlah punggungan yang akan dilewati di peta dan yang sebenarnya. Entah benaran mengerti atau hanya pura-pura mengerti, kami membawa pak Alam berjalan sesuai arah yang kami tunjuk dan pilih. Cuaca masih tampak bersahabat meskipun semua kelompok yang lain telah menghilang. Namun, keadaan tersebut tidak berlangsung lama karena akhirnya awan bergerak cepat, dan rintik pun turun. Hujan gerimis yang tidak deras turun. Jam telah menunjukkan sekitar pukul 12.00, setiap punggungan dan lembahan dilewati agar segera menemukan jalan dan menyebrang ke seberang. Hitung-hitung mengikuti aliran sungai ternyata sangat membantu kami. Trekking dengan mengikuti aliran sungai yang disarankan pak Alam sangat membantu dan mulai menimbulkan semangat kami untuk menyelesaikan tugas ini. Sempat rasa drop itu ada karena tugas ini mau tidak mau harus selesai, meskipun harus sampai malam. Melewati punggungan hingga akhirnya sempat salah jalan karena terlalu terjal turun ke lembah. Akhirnya, kembali dan menelusuri jalan yang ada, dengan tetap menghitung jumlah punggungan yang ada hingga menemukan spot untuk menyebrang jalan. Pilihan pun dijatuhkan bahwa menyebrang segera dilakukan. Perjalanan yang ditempuh akhirnya membuat Rahman setidaknya berakhir sebagai seseorang yang ber”prospek”, dan aku masih kesulitan untuk memiliki prospek itu. ya, setidaknya aman, tidak navdar sampai malam.


Setelah menyebrang, kami tidak menduga petualangan yang sesungguhnya sedang menunggu. Di seberang jalan, kabut mulai turun dan menghalangi pemandangan ke depan sehingga sempat kesulitan menentukan posisi kembali sesuai peta. (rincian di peta). Rahman yang berprospek setelah menerima pengarahan dari Pak Alam dan berkompromi dengan aku, akhirnya menemukan posisi tersebut. Menuju punggungan yang dimaksud mulai dilakukan, menelusuri kebun teh yang ada, menghindari tanjakan dan turunan terjal yang dapat dilewati untuk memotong. Kabut yang ada turun menjadi gerimis deras yang cukup membuat baju kami bertiga basah kuyup. Hal ini yang paling tidak disuka selama latihan-latihan navdar. Mengapa harus selalu basah? Semua diterima lapang dada untuk sementara. Turun dari punggungan, hujan berkurang dan sungai yang membantu jadi patokan pun mulai stop alirannya, lebih tepatnya mulai bercabang karena dimanfaatkan.

Dengan kesabaran yang dimiliki, akhirnya sekitar pukul 15.00 sampai di puncak gunung Malang 1024 mdpl. Di atas telah menunggu kelompok lain, kami menjadi yang keempat sampai, meski dengan aksi jagoan dan akhirnya muka pak Alam lumayan suntuk juga. Namun, kesenangan itu tetap ada.

Baca Selengkapnya di : SINI

Materi SAR, Sanggara

By: GL GHPerjalanan kami dimulai keberangkatan dari basecamp(red: SEL) sekitar jam 4 sore. Hoho, materi kali ini pesertanya Aldi, Ari, Gian dan Hery beserta 2 orang pembimbing yaitu pak ustadz Alam dan gustaf pooh perjalanan kami tempuh dengan mengendarai motor, lalu harus menempuh jalanan penuh batuan yang teramat hancur. Walaupun segala rintangan menghadang tetap dengan senang hati kami lalui, karena rintangan tersebut yang membuat kami dewasa. Hehehe, sedikit berpuisi ria.
Perjalanan panjang kami pun berakhir di sebuah warung di desa panghaiatan. Ooo salah masih belum berakhir, masih panjang jalan yang menunggu kami. Kami berehat sekejap. Sekaligus menikmati indomie traktiran gustaf, sekaligus jajan. Setelah kenyang kami berinisiatif untuk melanjutkan perjalanan, dan motor yang kami gunakan kami titipkan di warung tempat kami belanja. Hehehe

Perjalanan kami lanjutkan dengan berjalan kaki menuju sanggara. Perjalanan kami tempuh dengan bermodalkan senter. Untuk menghemat bateri kita berjalan menggunakan formasi, 2 baris dengan tiap baris terdiri dari 3 orang dan yang di tengah membawa senter. Kami berjalan sekitar 2 hingga 3 kilometer. Sungguha perjalanan yang melelahkan. Sesampainya di camp, kami langsung mendirikan tenda dan membuat api. Setelah evaluasi kami berbincang-bincang hingga jam 12 lebih lalu tidur.


Besok paginya, seperti biasa sarapan ala kadarnya dengan oseng-oseng sayur dan tempe goreng tidak lupa ditemani teh manis ala heri. Pokoknnya serapan pagi kami sangat sederhana tapi puas, karena tempenya buanyak banget.hehehe. plek –plek bereslah kerjaan awa pagi-pagi.. lalu kami pergi ke aula, untuk mendapat materi dari Alam. Seusai sesi materi, gustaf terpaksa pulang ke kota.karena ia harus menghadiri agenda lain yang menurutnya sangat urgent.
Lalu kami diberi lokasi TKP, dan materi pun dimulai, hoho…



Kami menerapkan metode penyisiran dalam SAR kali ini. Maksudnya untuk mencari petunjuk dan keberadaan korban, kami menyisir daerah yang ditentukan dengan metode dari atas ke bawah lalu keatas lagi dan seterusnya, ato sebaliknya. Alamat kata kami harus tebas sana tebas sini, cuapek. Teknis lapangan kali ini yaitu tim dipimpin oleh ketua regunya, dan digilir secara bergantian. Dan juga selama di lapangan diterapkan beberapa simulasi, seperti penyelamatan, komunikasi, dan lain-lain. Waktu terus berlalu hingga akhirnya waktu menunjukkan jam 4. Berakhirlah materi sar hari ini. Dan materi dilanjutkan dengan materi camp di lereng, tapi sayangnya tempat yang kami tuju(red:tempat traversal) telah jadi rata oleh sendirinya. Jadinya ya camp seperti biasa. Dan malam pun berlalu dengan ditemani hujan rintik-tintik.


Besok Pagi ya seperti biasa, sarapan, packing lalu materi. Materi hari ke2 yaitu sar sungai. Dari namanya udah ketauan. Ya dalam sar sungai, teknisnya sama seperti sar biasa, namun bedanya penyisirannya dilakukan di daerah aliran sungai(nyemplung ke dalam sungai). Tentunya medan yang dilalui sangat berat. Karena banyaknya pohon yang bertumbangan di sekitar lokasi. SAR hari ke2 ini dilanjutkan dengan evakuasi korban( menurut scenario alam). Evakuasi dilakukan hingga ke basecamp(alias camp panitia yang waktu survival). Setelah itu kami diajari Navigasi malam. Setelah menempuh jalan yang menanjak bak tanjakan laknat, kami berpapasan dengan anak palawa unpad yang juga sedang materi. Ternyata ada juga yang wah, namun apalah daya no telpon pun tak dapat. Balik ke materi. Materi ini tergolong unik, karena hanya bisa dilakukan bila ada 1 tim, 1 orang sebagai navigator dan yang lainnya di sekeliling navigator dengan masing-masing membaw a senter tentunya. Cara berjalannya ya potong terus kea rah navigarot minta. Tebas-tebasan tentunya. Kami melakukan navigasi malam hingga jam 6 sore. Sekitar 1-2 jam. Lalu balik ke Camp.


Buesoknya…
Kami semua dibekali dengan pengantar seputar GPS oleh alam..
Prinsipnya mudah, tinggal tentuin spot target lalu ikutin tracking yang ada di GPS tersebut, lalu nyampe deh.. dan tidak lupa foto-foto dong…



Penyeberangan Basah Situ Ciburuy

Sabtu, 10 Mei 2008
By : Dinna Tazkiana


Salah satu agenda diklat GH buat Ekspedisi Tumbang Maluhoi ntar adalah penyebrangan basah. pertimbangannya, di lapangan ntar kita bakal nemuin rawa yg teramat luas dan harus dilewati. Dipikir-pikir ngapain kita berenang di rawa? Kan banyak buaya? Luas pula, kapan nyampenya??? Yah, karena pemikiran logis ini saat itu belum muncul, jadi kita lancarkan latihan penyebrangan basah ini. Kegiatan dilakukan hari Sabtu, 10 mei 2008, pesertanya 6 orang anggota GLGH, Geblek sebagai pelatih sekaligus pembimbing, serta Ulfa, Arfan dan Ria jg ikut meramaikan. Lokasi yang kita ambil adalah Situ Ciburuy, pertimbangannya ajimumpung, soalnya pada saat yang bersamaan orad juga mau latihan disana, jadi kita bisa berdayakan Tejo, si perahu penyelamat. Perlengkapan lain yang dibawa masing-masing orang adalah ponco, rafia, dan kerir berisi. Kita bawa juga tali kernmantel.

Rencananya, kita mau pergi dari sel jam 9 dengan alasan biar ga panas. Tapi ya itu, selalu ada hambatan untuk ontime, akhirnya kita pergi jam 11, disaat teriknya siang. Dengan naik mobil Heri yg penuh sesak oleh manusia dan kerir, kita meluncur menuju lokasi lewat jalan tol padalarang, nyampe situ ciburuy jam 12an. Langsung aja kita masuk ke gerbang masuk. Taunya, waktu kita di enterance, kita ditanya mecem-macem ma si bapa yang jaganya. Katanya darimana, mau ngapain, gitulah. Ya kita bilang aja dari itb mau latihan penyebrangan, trus kita ditagih surat ijin resmi dari instansi (ITB maksudnya) sama sii bapa itu. Tapi kita kan ga bawa, ngga tau msti bw juga, jadi ga ngasih surat, ngasihnya duit (maaf saya lupa berapa nominalnya, pokonya mayan murahlah untuk disebut duit nyogok). Fyi, htm biasa harganya 1750.

Selesai di pintu masuk, kita langsung parkir dan cari spot yg pas buat latihan. Ternyata ga ada. Ke daratan terdekat di tengah sana aja penjangnya ampe 50 meteran lebih. Intinya kita ga dapet lokasi yg sesuai buat latihan,,,, Setelah nyari-nyari sambil jajan gorengan dan es doger, akhirnya geblek dan tim pencari lokasi bilang kalo kita dapet tempat yg mayan cocok. Ternyata tempatnya diluar area wisata, tapi lebih deket ke rumah penduduk, tapi masih situ ciburuy juga. Langsung kita ngedodol kerir di tepian, trus tinggal nunggu perahu yang ngga kunjung dateng. Selagi nunggu perahu, kita nyampah di pinggir situ, ngobrol-ngobrol tiduran ga jelas, untungnya Ria bawa cemilan, kita jadi ada kerjaan yang berarti. Perahu akhirnya dateng sore, trus kita langsung latihan deh. Anak-anak GH gantian turun satu-satu, berenang dari pinggir menuju perahu di tengah sana, trus balik lagi ke tepi.

Di air ada geblek sebagai “penyemangat” yang setia di samping kita dikala kita renang, di perahu ada irland ma baim sebagai tim rescue sekaligus penentu jarak renang kita mpe mana. Ternyata nggak gampang renang pake kerir itu, ribet soalnya. Kalo bisa sih mending ga pake kerir deh. Indikator keberhasilan penyebrangan basah ini adalah kerir yang tetap terjaga kering dan kita yang selamat sampai tujuan. Selesai latihan yang Cuma berlangsung sekitar 1,5 jam, kita foto-foto sambil ngliatin anak orad latihan. Abis rangkaian acara latihan GH dan Orad beres, kita balik ke sel rame-rame maghriban. Sekian.

KONDISI DAERAH SITU CIBURUY

Situ Ciburuy yang berlokasi di Padalarang (tepatnya setelah tol padalarang, deket citatah, masuknya Kabupaten Bandung) merupakan sebuah danau milik pemerintah yang dibuka untuk umum. Waktu kita kesana bilang mau latihan penyebrangan, di pos enterance kita ditagih surat ijin resmi dari instansi (ITB maksudnya) sama petugas yg jaga dsana. Tapi kita kan ga bawa, ngga tau msti bw juga, jadi ya ga ngasih surat, ngasihnya duit (maaf saya lupa berapa nominalnya, pokonya mayan murahlah untuk disebut duit nyogok).

Oya lupa bilang, Situ Ciburuy tu menurut sy rada aneh lokasinya. Gimana engga, situnya tuh berada di tengah kota. Kota bener” kota, jalan raya, banyak mobil, motor, penduduk, pemukiman, kemacetan, kepanasan. Sebenernya bagus juga si, jadi kesannya the ecocity, tapi da tetep aja aneh, abisnya tu tempat kayak ga keurus. Di airnya tu banyak ‘asesorisnya’, kayak sampah-sampah ngambang, aroma yg kurang sedap buat dihirup, dan warna air yang coklat tua keijoan (emang ada warna kyk ini?). Sebenernya kalo kita liat view-nya si ngga ada masalah, bagus malah, apalagi klo sore tuh keren bgt. Udah mah pemandangan di sekitarnya bagus, rindang byk pohon”an (ada yg bilang suka ada lutung juga nangkring di pohon), lighting alami jg bagus, warna asli si air jg ga kliatan. Tapi ya itu, mungkin salah satunya disebabkan oleh kurangnya kesadaran masyarakat (penduduk sekitar dan pengunjung) akan pentingnya kebersihan lingkungan. Itu mungkin sekilas tentang situ-nya.

Udah sy singgung di atas klo di sekitar Situ Ciburuy itu rame. Ada pemukiman penduduk juga. Pas sy ‘soskot’ ke salah satu rumah (dengan niat numpang mandi), yang sy temukan adalah ternyata air disana bagus, sangat layak. Listrik juga masuk (yaiyalah, namanya juga kota). Terus lagi, disana rada’ gersang gitu (menurut sy lho) panas bgt pula (kalo yg ini si mungkin emang karena siang aj). Kurang pohon-pohonan di pinggir jalan dan di rumah penduduk, jadi kesannya jalanannya kurang segar dan berdebu.

Yaudah, segitu aja yg bisa sy ceritain. Yah intinya, pemugaran dan pemeliharaan Situ Ciburuy itu sangat diperlukan melihat kondisinya airnya sekarang yang kurang layak dijadikan objek wisata dan tempat latihan renang. Diluar itu, kondisi air penduduk tergolong memadai. Namun, di daerah pemukiman tersebut sedikit kering dan berdebu. Tapi rada gpp jg sih soalnya di sekitar Situ kan banyak pohon-pohon gede. Sekian.

Kamis, 18 Desember 2008

CATATAN PERJALANAN PEMETAAN GOA SEDEN-BULUH

20-23 JUNI 2008
By: Muhsin

Minggu, 20 Juni 2008
Pagi hari yang cerah kami—saya (muhsin), Arfan, Cusi, Geblek, dan Didik—berangkat dari kampus ITB menuju terminal Caheum. Saat itu waktu menunjukkan pukul 10.00 WIB. Terlambat sekitar satu jam dari rencana keberangkatan semula. Sesampainya di terminal caheum kami telah ditunggu oleh pak Taat, lelaki berdarah Cilacap yang saat itu sedang menjalankan studi pasca sarjana jurusan Geologi di ITB. Beliau ingin mengetahui bagaimana kami melakukan pemetaan goa Seden-Buluh.
Perjalanan pun dilanjutkan dari Terminal Caheum menuju Pangandaran menggunakan Bus Budiman ber-AC. FYI, Tarif Bus Budiman dari terminal Caheum ke Pangandaran saat itu adalah Rp33.000,00. Perjalanan tersebut memakan waktu sekitar 6 jam. Kemudian, kami melanjutkan perjalanan menggunakan bus Budiman jurusan Parigi yang selanjutnya kami charter hingga ke desa Masawah. Tepat di depan rumah kepala desa Masawah, Pak Tohidin.
Setelah menjelaskan maksud kedatangan kami kepada Pak Tohidin, kami pun dipersilahkan untuk beristirahat dan bermalam disana.

Senin, 21 Juni 2008

Peralatan yang digunakan. (kanan ke kiri) klinometer, meteran 50m,kompas geologi.

Pukul 9.00 WIB, kami berangkat menuju mulut goa Seden ditemani seorang penduduk setempat—yang ditugaskan oleh pak kepala desa (pak Kuwu). Di dekat mulut goa, kami mempersiapkan segala peralatan yang dibutuhkan. Beberapa peralatan yang kami bawa saat itu, antara lain : 4 overall, 4 helm, 4 sepatu boots, 3 headlamp, 2 senter anti air, perahu kecil untuk peralatan, 2 pelampung, meteran, klinometer, kompas, kertas, dan alat tulis. Tak lupa kami membawa 2 botol air minum dan beberapa snack.
FYI, goa yang akan kami petakan ini merupakan goa sungai bawah tanah. Rata-rata ketinggian airnya sekitar 1 meter. Tim yang memetakan terdiri dari 4 orang, yaitu saya (muhsin), Geblek, Cusi dan Arfan. Sedangkan tim basecamp yang menunggu di mulut goa terdiri dari 2 orang, yaitu Didik dan Pak Taat.
Setelah semuanya siap, kami pun masuk ke goa. Di depan mulut goa ketinggian air sekitar 120 cm. Otomatis overall kami basah dan rasa dingin perlahan merayap ke dalam tubuh kami. Brrr!!!
Pengukuran pun dimulai, saya (muhsin) sebagai stasioner yang berada paling depan bertugas menentukan titik stasiun. Cusi sebagai shooter yang bertugas membidik saya dengan klinometer guna mengetahui kemiringan vertical goa. Arfan bertugas sebagai deskriptor yang bertugas menggambar kondisi goa dan mencatat data pengukuran. Sedangkan Geblek bertugas sebagai fotografer.
Satu jam pertama merupakan satu jam terberat bagi kami. Kondisi goa yang memiliki ketinggian air mencapai 180 cm itu benar-benar menyulitkan kami. Baju yang basah dan udara goa yang lembab membuat kami merasakan kedinginan yang amat sangat. Dalam satu jam itu, kami hanya dapat memetakan goa sepanjang kira-kira 30 meter. Beruntung, setelah 30 meter dari mulut goa Seden ada rekahan yang tersambung ke permukaan sehingga kami dapat naik dulu ke atas tempat tim basecamp. Kami pun beristirahat sambil minum kopi hangat guna mengembalikan kehangatan tubuh kami yang tadi dirampas oleh air goa yang dingin. Setelah puas beristirahat, kami pun kembali memetakan goa Seden-Buluh dengan perubahan strategi kerja. Geblek yang semula bertugas sebagai fotografer diberdayakan sebagai pengukur guna membantu dan mempercepat pekerjaan ukur-mengukur.
Pekerjaan pun kami mulai kembali. Semakin lama, kami pun semakin dalam menembus kedalaman goa. Semakin indah juga pemandangan-pemandangan yang kami lihat disana. Ornamen-ornamen putih yang berkilau ketika terkena sinar senter, serangga-serangga aneh, kelelawar, serta ikan2 albino membuat saya merasa takjub dan kagum atas ciptaan-Nya itu. Perjalanan kami memetakan goa tersebut bervariasi. Terkadang kami harus jalan jongkok, menunduk, berenang dan berjalan guna melanjutkan perjalanan menembus perut bumi itu. Kemudian tak terasa tiga jam sudah kami memetakan goa Seden-Buluh. Kemudian secercah cahaya terlihat di depan kami. Di sana mulut goa Sodong Buluh telah menganga menunggu kami yang menggigil kedinginan. Cahaya matahari menyambut kami keluar dari kegelapan goa yang pekat.

Perkenalkan anggota baru tim kami “Flinstone Si perahu karet”


Selasa, 22 Juni 2008
Hari itu kami bangun agak siang. Rencananya siang ini kami akan kembali ke goa guna mendokumentasikan lebih banyak goa Seden-Buluh. Jam 11 kami berangkat ke sana ditemani teriknya matahari daerah pantai. Puanass pisan euy!
Kemudian kami pun masuk melalui mulut goa Sodong Buluh dan mulai mendokumentasi. Kira-kira satu setengah jam lamanya kami menulusuri goa dan mendokumentasikan keindahan di dalamnya.
Seusai itu, kami pun kembali ke rumah pak Kades dan menunggu kang Diky yang rencananya sore itu akan menyusul ke desa Masawah bersama tim LVG.
Sekitar pukul 4 sore, kang Diky tiba di rumah pak Kades bersama timnya. Kang Diky pun bertegur sapa dengan bu Kades dan segera meminta pamit untuk mempersiapkan tenda di dekat mulut goa Seden. Kami yang saat itu sedang bersantai segera diberdayakan guna mempersiapkan segala hal yang perlu disiapkan.
Malam itu saya, Arfan, dan Geblek bermalam di tenda tim LVG.

Ini waktu lagi kerja, pak….Cusi sebagai shooter dan arfan sebagai deskriptor.


Mengukur lebar gua bareng penduduk setempat



Rabu, 23 Juni 2008
Hari itu turun hujan. Hujan yang pertama bagi desa yang sudah 4 bulan tidak turun hujan. Di saat itu Arfan dan beberapa orang dari tim LVG masuk ke goa Seden-Buluh guna memasang katoda. Seusai pemasangan katoda dan bersantai ria sebentar, kami bersiap-siap untuk kembali ke Bandung. Sekitar pukul 11.30 WIB kami pun pamit kepada bu Kades untuk pulang ke Bandung.
Good Bye Masawah! See you next time.

Ternyata flinstone itu narsis…


Model manusia-manusia gua dan perahu gua jaman sekarang.

Pose-pose eksentrik biota-biota endemik goa seden-buluh (eksentrik dan endemik itu apa ya?)

Ceritanya lagi jadi photo model…

Goa = kolam renang

Weits, si photographer juga ingin diphoto ternyata.

Photo bareng di “bendungan alami” buatan Yang Maha Pencipta.