Tampilkan postingan dengan label Jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Agustus 2009

Catatan Perjalanan Merbabu - Merapi - Lawu

Pendakian 3 gunung (merapi-merbabu-lawu) ini di lakukan mulai tanggal 21 Juni hingga 26 Juni 2009. Memakan waktu selama 6 hari 5 malam.

1. Pendakian Gn. Merbabu (3142 mdpl)

Gn. Merbabu merupakan gunung pertama yang didaki dari pendakian 3 gunung ini

pada tanggal 21-22 Juni 2009. Gn. Merbabu secara administratif terletak di propinsi jawa tengah dengan ketinggian 3142 mdpl.
Kami memilih jalur pendakian dari desa Thekelan dengan seven summit nya (7 puncak nya).
Rute pendakian Thekelan :

21 Juni 2009

12.15 berangkat dari basecamp setelah mendaftarkan diri
-> basecamp terletak didesa Thekelan ditengah perkampungan penduduk dan perjalanan menuju ke pos pending melewati kebun penduduk dan hutan pinus. Disini dapat dinikmati pemandangan gunung telomoyo, gn. Andhong, gn. Ungaran dan juga rawa pening.

13.15 tiba di pos pendhing
-> disini terdapat sumber air yang segar, sekalian buat yang pingin wudhu atau cuci muka, perjalanan menuju pos 1 melewati tebing berwarna putih yang disebut pereng putih.

14.30 sampai di pos 1
-> Pemandangan akan tebing putih beserta kota salatiga dibawah dapat dinikmati di Pos 1 ini.


15.30 pos 3
-> kami makan biskuit dan minum segelas kopi sebagai makan siang kami perjalanan menuju pos 4 yang mulai menanjak melaui hutan semak-semak.

16.20 pos 4
-> Pos 4 merupakan sebuah tanah lapang yang luas dan bisa dijadikan tempat untuk acara bersama. Pos 4 ini sudah tidak terdapat lagi shelter seperti pos2 sebelumnya.

17.30 sampai di puncak watu gubuk (puncak 1)
-> puncak pertama dari seven summit dan melihat sunset di belakang sindoro dan sumbing. Kemudian kami melanjutkan perjalanan, awalnya kami berencana untuk ngecamp di puncak pemancar, tapi terlihat pada puncak pemancar anginnya terlalu kencang, jadi kami ngecamp di tengah perjalanan menuju puncak pemancar, yang dimana terdapat batu-batu besar di sekelilingnya.
18.30 Kami memutuskan untuk ngecamp

Hari berikutnya (22 Juni 2009)

03.30 kami terbangun, lalu dengan bodohnya teman saya yang kehausan langsung membuat pocari sweat, dimana saat itu suhunya mencapai 12^C

06.30 setelah packing dan sarapan dan sunrise, kami langsung berangkat menuju puncak.

06.45 sampai di Puncak Pemancar (puncak II)
-> Di Puncak ini terdapat tower Pemancar yang terbengkalai (tampaknya) dan terdapat di ketinggian 2896 mdpl. selanjutnya perjalanan melalui jalan yang menurun dan melewati jembatan setan yang terdapat diantara 2 kawah (kawah lanang dan kawah wadon). Setelah iu mulai menanjak menuju Puncak III - Puncak Geger sapi

07.30 Tiba di Puncak Geger sapi (3000 mdpl)
-> Puncak ini menyerupai geger sapi yang terdapat 2 buah jurang di kedua sisinya. Pejalanan dilanjutkan menuju ke pertigaan. Apabila belok kekiri akan mencapai ke puncak Syarif dan apabila ke kanan menuju ke puncak ondhorante, puncak kenteng syarif dan puncak triangulasi. kami memutuskan untuk belok ke kanan.
08.00 Tiba di puncak Ondho ranthe (Puncak V)
-> Sebenarnya tanpa melalui puncak ini kita bisa langsung menuju ke puncak berikutnya melalui jalan melipir samping, menghindari puncakan. Jalur berikutnya merupakan jalur tanjakan yang terdapat juga jalan yang harus dilalui secara traverse (gambar samping)

08.30 Tiba di Puncak Syarif (puncak tertinggi)
-> Disini terdapat 4 buah batu bulat yang berlubang ditengahnya, konon batu itu pada mulanya terdapat 9 buah dan merupkan pondasi rumah.Pemandangan disini sanngat indah, merpai yang terlihat sangat dekat, sindoro sumbing slamet, lawu, Ungaran, dsb terlihat sangat jelas. Selanjutnya kami menuju ke Punak triangulasi.

08.40 Puncak Tri angulasi
-> Disini lah petualangan Merbabu ini berakhir, dengan merapi yang terlihat sangat dekat dan semakin dekat.
total perjalanan kami dari basecamp ke puncak triangulasi kurang 8 jam.

Kemudian kami melakukan perjalanan turun melalui Jalur selo untuk melanjutkan ke Gn. Merapi.

ketika perjalanan turun, inilah saat kami diuji..
air kami kurang dari 1.5 liter, udara di sekitar puncak sangatlah menyengat, membuat kami sedikit dehidrasi.
oiya fyi : gunung merbabu merupakan 7 summitnya Indonesia, jadi untuk turunnya kita harus menuruni dan mendaki lagi puncak2nya + dengan panasnya udara sekitar yang mencapai 37^C membuat kami lelah..

waktu yang kami tempuh untuk turun dari pukul 09.30-13.30..
total waktu turun = setengah dari waktu naik 4 jam.













2. Pendakian Gn. Merapi (2965 mdpl)

Pendakian berikutnya adalah pendakian Gn. Merapi. Terlatak di Propinsi Jawa Tengah dan DIY. Jalur yang kami pilih dari pendakian ini adalah Jalur Selo. Kami melakuna pendakian pada tanggal 23-24Juni 2009

23 Juni 2009

14.30 Kami Mulai pendakian dari base camp Jalur Selo.
->Pos-pos yang terdapat di Gn. merapi ini sudah tidak terdapa lagi shelter2 hanya berupa tanal lapang. Jalur Merapi via Selo ini merupakan jalur yang menanjak terus, disarankan untuk melakukan perjalanan sore hari supaya tidak terlalu panas dan menghindari dehidrasi.
17.30 Kami menikmati sunset di punggungan sebelum tugu memoriam dan mendirika camp disan untuk melakukan perjalanan keesokan harinya.

24 Juni 2009

seperti ritual2 kami sebelumnya, kami melihat sunrise di camp baru summit attack..
05.30 - 06.30 -> perjalanan menuju puncak,, dipuncak kami foto dengan bule (hehe..). perjalanan menuju puncak merapi, melalu jaur batu dan pasir yang menanjak sekitar 35 derajat. Perjalanan menuju puncak sebaiknya dilakukan pagi hari karena pada siang hari (pukul 08.00 keatas) asap - asap belerang sudah mulai muncul dan beraktivitas. dan karena asap dari belerang yang makin lebat, kami di puncak hanya sekitar 15 menit. Dipuncak ini terdapat kawah mati, yang dapat ditempuh sekitar 10 menit dari puncak.



setelah packing kami turun pukul 09.10 sampai di new selo pukul 11.30..dan setelah pengalaman di Gn. Merbabu, dengan bekal air yang cukup, tidak dehidrasi lagi kami..

Suhu terdingin di merapi yang kami hitung sampai 10^C














3. Pendakian Gn. Lawu (3265 mdpl)

Pendakian yang ketiga adalah Gn. Lawu. secara Administratif terletak di Propinsi Jawa tengah dan Jawa Timur. Jalur yang kami pilih untuk pendakian ini adalah Cemoro sewu dan Turun melalui jalur cemoro kandang.
25 Juni 2009

14.20 kami berangkat dari pos setelahmelakukan pendaftaran
-> berdasarkan informasi dari pos, jarak yang akan kami tempuh untuk pendakian ini adalah sejauh 7 km melalui jalan yang berbatu. Jalur Cemoro sewu merupakan jalur yang cukup menanjak sedangkan jalur Cemoro kandang merupakan jalur yang landai tapi jauh Sekitar 10 km. Dahulunya jalur cemoro kandang di gunakan sebagai jalan berkuda. Gn. Lawu sangat erat hubungannya dengan Prabu Brawijaya. Makam dari Prabu Brawijaya sendiri terdapat di puncak lawu yang di sebut Hargo Dumilah
-> Dan untuk pencatatan waktu tiap pos, saya lupa untuk melakukannya.

18.30 sampai di sendang drajat.
-> Disini kami mendirikan camp, dan terdapat sumber mata air disini, di sendang derajat tepatnya. Sendang derajat merupakan tempat yang menyediakan air semacam sumur (sendang) konon menurut cerita masyarakat sekitar dahulu sendang inin merupakan sarana untuk mencukupi kebutuhan sehari2 pada masa Prabu Brawijaya.


26 Juni 2009

seperti biasa, kami menikmati sunrise di tempat camp di sendang drajat. (gambar samping)
05.30 kami berangkat menuju puncak Hargo Dumillah

06.30 Kami mencapai Puncak Hargo Dumilah, Disini pemandangan nya indah dengan berbagai Gunung Tampak dari sini.

07.45 kami melakukan perjalanan turun..

sampai sekitar pukul 13.15 an kami tiba di cemoro kandang..

selain gunung terakhir yang kami daki, gunung lawu juga merupakan gunung yang fenomenal, diantaranya :
1. suhu terakhir yang saya catat pada pukul 8 malam sekitar 8^C, mungkin sekitaran jam 1-3 suhu bisa mencapai 4^C.
2. waktu naik hampir sama dengan waktu turun, apakah karena berbeda jalurnya atau karena kami malas untuk turun, padahal kecepatan turun kami bisa dibilang konstan.















SELESAI



Oleh : Bryan Brama R.
KMPA 'G' ITB
G-221-XVIII

Rabu, 07 Januari 2009

Navigasi Cicenang-Gunung Malang


Pagi hari yang sebenarnya cerah dan memang sangat bersahabat, tapi gak buat gue.. hehe, soalnya hari ini ada materi navdar atau navigasi darat untuk GL XVIII di daerah Cicenang. GL yang jumlahnya 15 orang, ternyata yang bisa ikut cuma 10 orang termasuk gue.. Dan sempat berpikir kenapa gue gak masuk yang 5 orang itu ya?? Karena terlalu banyak mikir, makanya malah jadi ikutan. Jadi anak GL yang ikut ada Freden, Cahyo, Nasir, Affan, Andi, Tetu, Rahman, Os, Yulyan, dan tidak lupa gue. Kegiatan ini juga didampingi oleh para pendamping yang katanya sih baik-baik (jangan dipercaya), mereka adalah Irfan, Arfan, Gian, Alam, Heri, serta tidak ketinggalan dua orang turis yang gak jelas datang dari mana, ya dia adalah Maul dan Maman (yang datangnya telat, makanya langsung nyusul ke tempat materi). Gue sendiri juga bingung kerjaan dua turis (M2M) ini ngapain aja

Irfan langsung menyuruh untuk membagi kami dalam 2 kelompok yang tiap kelompok ada 5 orang, ya otomatis semua pada rebutan ke kelompok gue la, secara alatnya gue kan paling lengkap (kompas, penggaris, pena, pensil, penghapus, busur derajat, dan masih banyak lagi yang lainnya), haha (narsis mode on). Tapi ternyata itu cuma kamuflase saja, kelompok yang sebenarnya adalah orang yang berdiri di depan masing-masing. Jadi tiap kelompok terdiri dari 2 orang yang totalnya ada 5 kelompok.

Dan dimulailah materi hari itu dengan mencari titik awal di peta yang telah diberikan sebelumnya. Gue dan Yulyan memulai dengan menembak 2 titik ekstrim, yaitu Gunung Tangkuban Perahu (yang uda lumayan ketutup sama kabut) dan satu lagi gue lupa nembak apaan, hehe. Baru setelah itu melakukan resection di peta, karena belum yakin dengan hasil resection, makanya harus dilanjutkan dengan orientasi medan. Dan atas saran dari pembimbing kami yaitu Heri, kami pergi ke tempat yang agak lebih tinggi supaya dapat lebih melihat medan di sekitar. Butuh waktu yang cukup lama sampai akhirnya terpaksa meyakini suatu titik sebagai titik awal dan semua itu juga karena gue yang tidak membantu sama sekali, harap dimaklumi soalnya emang gue gak ngerti tentang navdar.



Os, Rahman dan Pak Alam, satu tim, satu ke’liar’a
n.

Pada awalnya, kami tidak memilih pendamping, mau ga mau, Pak Alam menghampiri untuk menjadi pendamping navdar kelompok ini. Dari awal, kami ini tidak niat ikutan navdar. Si Rahman dah mala
s buat ikutan navdar, kemungkinan karena ga ada si Intan. Os ga niat karena tidak pernah bisa menyukai kebuh teh hingga sekarang. Dari persamaan ketidakniatan ini, mereka mulai mengerjakan resection dengan peralatan seadanya, yaitu pena dan kompas. Dengan pena dan kompas yang pas-pasan, Rahman mulai membidik Tangkuban Perahu dan Gunung.... Dengan perhitungan pas-pasan, akhirnya, kami menebak-nebak posisi kami di tempat berdiri. Tebakan pun salah. Pak Alam, dengan sabar, mengajak ke bawah, ke arah dekat aliran sungai untuk memperjelas penglihatan kami berdua. Dibawa ke bawah bukannya semakin tahu, atau mengerti pembacaan bentang alam yang ada di cicenang tersebut, malah kami berdua semakin mumet dan main tebak-tebakan semakin menjadi. Akhirnya cukup lama waktu yang dihabiskan untuk menebak dan tidur-tiduran, niatan pulang pun selalu terlintas.

Pak Alam pun menyerah dengan memberi clue pada kami berdua posisi berdiri ini dengan bertanya apa saja bentangan berupa punggungan yang ada, termasuk punggungan luas, tempat mereka berdiri. Akhirnya posisi pun didapat dengan (rincian ada di peta).
Setelah itu target dari navdar ini pun disebutkan bahwa k
ami harus menuju gunung Malang, yang secara kasat mata ternyata berada di seberang jalan. Pak Alam pun memberi pengarahan kepada kami untuk tahu bagaimana ke gunung tersebut. Keterbatasan alat sempat mengganggu rencana dan menurunkan semangat. Kebingungan mendera hingga si bapak bilang ada 3 cara navigasi, yang salah duanya adalah potong kompas dan trekking. Secara peralatan navigasi kurang, dan option ketiga juga bernasib sama, maka diambil opsi trekking. Opsi ini membawa kami harus mengerti dan menghitung jumlah punggungan yang akan dilewati di peta dan yang sebenarnya. Entah benaran mengerti atau hanya pura-pura mengerti, kami membawa pak Alam berjalan sesuai arah yang kami tunjuk dan pilih. Cuaca masih tampak bersahabat meskipun semua kelompok yang lain telah menghilang. Namun, keadaan tersebut tidak berlangsung lama karena akhirnya awan bergerak cepat, dan rintik pun turun. Hujan gerimis yang tidak deras turun. Jam telah menunjukkan sekitar pukul 12.00, setiap punggungan dan lembahan dilewati agar segera menemukan jalan dan menyebrang ke seberang. Hitung-hitung mengikuti aliran sungai ternyata sangat membantu kami. Trekking dengan mengikuti aliran sungai yang disarankan pak Alam sangat membantu dan mulai menimbulkan semangat kami untuk menyelesaikan tugas ini. Sempat rasa drop itu ada karena tugas ini mau tidak mau harus selesai, meskipun harus sampai malam. Melewati punggungan hingga akhirnya sempat salah jalan karena terlalu terjal turun ke lembah. Akhirnya, kembali dan menelusuri jalan yang ada, dengan tetap menghitung jumlah punggungan yang ada hingga menemukan spot untuk menyebrang jalan. Pilihan pun dijatuhkan bahwa menyebrang segera dilakukan. Perjalanan yang ditempuh akhirnya membuat Rahman setidaknya berakhir sebagai seseorang yang ber”prospek”, dan aku masih kesulitan untuk memiliki prospek itu. ya, setidaknya aman, tidak navdar sampai malam.


Setelah menyebrang, kami tidak menduga petualangan yang sesungguhnya sedang menunggu. Di seberang jalan, kabut mulai turun dan menghalangi pemandangan ke depan sehingga sempat kesulitan menentukan posisi kembali sesuai peta. (rincian di peta). Rahman yang berprospek setelah menerima pengarahan dari Pak Alam dan berkompromi dengan aku, akhirnya menemukan posisi tersebut. Menuju punggungan yang dimaksud mulai dilakukan, menelusuri kebun teh yang ada, menghindari tanjakan dan turunan terjal yang dapat dilewati untuk memotong. Kabut yang ada turun menjadi gerimis deras yang cukup membuat baju kami bertiga basah kuyup. Hal ini yang paling tidak disuka selama latihan-latihan navdar. Mengapa harus selalu basah? Semua diterima lapang dada untuk sementara. Turun dari punggungan, hujan berkurang dan sungai yang membantu jadi patokan pun mulai stop alirannya, lebih tepatnya mulai bercabang karena dimanfaatkan.

Dengan kesabaran yang dimiliki, akhirnya sekitar pukul 15.00 sampai di puncak gunung Malang 1024 mdpl. Di atas telah menunggu kelompok lain, kami menjadi yang keempat sampai, meski dengan aksi jagoan dan akhirnya muka pak Alam lumayan suntuk juga. Namun, kesenangan itu tetap ada.

Baca Selengkapnya di : SINI

Kamis, 29 Mei 2008

Catatan Perjalanan Kawah Putih-Situpatenggang

25-26 April 2008

By : Maria Ulfa

Pada minggu keempat April saat kegiatan akademik lagi padat2nya di ITB, tiba-tiba tecetus ide galatuping,(kalo ga salah sih idenya datang dari Arfan).Kemudian ditetapkan rute pejalanan kali ini adalah camping di Situ Patenggang di Ciwidey dan besoknya diterusin ke kawah putih.

Tim awal yang rencananya mau ikut itu, Arfan(sang pencetus ide), Didik, KoKo, Kanya, Mala, Ana, Alam, Irfan,Ria, dan Fusi(Saudara jauhnya Ria). Kalo ada keanehan dari nama-nama diatas, yaitu ga tercantum nama GL. Demi kebaikan nama GL akhirnya saya dan Aldi memutuskan untuk ikut. Karena saya sendiri ada urusan malam harinya, kami menyusul jam setengah empat pagi.

Pelajaran moral yang didapat dari mengendarai motor jam setengah empat pagi dari Bandung ke ciwidey.

1. Kamu ga bakal kepanasan dan jamuran saat melewati macetnya Kopo disiang hari

2. Kamu akan mencederai paru-parumu dengan bekerja lebih berat.

Sedikit informasi tentang situ patenggang niy, situ ini berada pada ketinggian sekitar 1600 m dari permukaan laut. Berada di daerah Bandung Selatan kawasan yang menempati luas 150 Ha ini dulunya merupakan kawasan cagar alam atau taman nasional, namun pada tahun 1981 telah resmi berubah menjadi sebuah taman wisata. Untuk menikmati objek wisata ini, terdapat fasilitas perahu yang bisa disewa untuk mengelilingi sebuah pulau kecil yang berada dibagian tengah danau yang bernama Pulau Sasuka. Fasilitas sarana transportasi air yang disewakan di tempat ini berupa penyewaan perahu dayung, perahu boat, dan sepeda air dengan harga yang masih bisa dinegosiasi dengan pemiliknya. Terdapat pula fasilitas gazebo maupun tempat-tempat duduk tanpa atap yang terbuat dari semen untuk keperluan menikmati panorama sekitar dari tepi danau. Urusan makananpun bukanlah suatu hal yang sulit dikarenakan banyaknya warung penjual makanan yang berderet dekat dengan area parkir.

Berhubung jalan pagi masih sepi, perjalanan yang biasanya ditempuh 2 jam lebih (belum dihitung macetnya) kami tempuh dalam waktu 1,5 jam. Jam 5, kami singgah disebuah Mesjid dekat pintu masuk Situ Patenggang. It’s time to pray.

Masuk ke daerah Situ Patenggang, Kami melihat situ masih diselubungi kabut, gabungan antara dingin dan sepi terbukti menimbulkan efek mistis tersendiri.

Entah karena efek mistis itu, atau kedodolan karena belum tidur semalam , kami ga berhasil menemukan pintu masuk ke Situ yang jelas-jelas udah terlihat didepan mata. Akhirnya sebelum memutuskan untuk terjun melewati tebing kami bertemu seseorang yang kelihatannya penduduk asli.

Percakapannya kira-kira begini :

Aldi : “Pak, punten, jalan masuk ke danau nya lewat mana yah?”

Si Bapak (ga tau namanya ): “o, terus aja , ntar ketemu parkiran masuk kedalam..”

Aldi : “o,, makasi ya pak”..(bersiap-siap mau pergi)

Si Bapak ( Yang masih ga diketahui namanya ): “eh , emangnya dipintu depan ga ada yang jaga yah?”

Aldi : “enggak pak..”

Si Bapak : ”wah, bayar kesini aja nak 10.000, qlo pake tiket mah 15000..”

Saya : “kesini? Ke Bapak ?”( dengan kepolosan yang bodoh)

Si Bapak : “iya neng...” (dengan tampang tak berdosa)

Siakek,, pagi-pagi kena palak bapak-bapak.

Dengan modal 10000 kami akhirnya menemukan pintu masuk danau. Karena trauma diminta bayaran lagi, kami ga bertanya ke petugas jaga dimana tempat anak KMPA camping, dan berusaha mencari sendiri disekeliling danau yang masih gelap. Karena ga menemukan tenda anak KMPA, saya mencoba menelpon. Saya mengakhiri usaha menelpon setelah 3 kali telpon tidak aktif, 2 kali salah sambung, dan 5 kali ga diangkat. Analisis sementara, sepertinya masih pada tidur.

Dan tepat saja, saat kami berhasil menemukan tenda dan mendekat, kami melihat beberapa tubuh dalam sleeping bag seperti kepompong kedinginan sedang tidur diluar. Kebiasaan anak KMPA: menyia-nyiakan keberadaan tenda dan malah tidur diluar. Karena ga ingin kedatangan saya sia-sia dan Cuma disambut udara pagi Situ Patenggang, saya mengaplikasikan cara membangunkan orang tidur dengan cara yang diajarkan Gugum dan Gemen, berteriak dan bernyanyilah sefals mungkin. Cara terjitu yang saya pelajari hingga saat ini.

Waktunya untuk makan pagi. Kami sarapan dengan sup krim manis asin campuran ayam+jagung, dan roti. Dengan sedikit kreatifitas , kami mengubah menu sarapan dengan roti bakar mentega gula isi supkrim dilumeri saus pedas. Hamburger tanpa beef, penjelasan paling sederhananya.


Sarapan kita...


Lagi makan...

Dari Ria, saya tau kalau ternyata mereka juga diminta bayaran 5000/orang sebagai admin untuk menginap. Jadi memang untuk dapat masuk ke sana kita harus membayar 5000.

Sekitar jam setengah 9 kami mulai packing. Dan kami menyelesaikan packing disaat yang tepat, saat matahari bersinar dengan hangatnya memantulkan cahaya dibeningnya air situ. Kami berfoto-foto sambil mendengarkan debat antara Alam dan Arfan tentang bagaimana terbentuknya Situ ini dan bagaimana debit airnya bisa naik turun. Sumpah, saintis abis, tapi ga jelas. ITB terlihat berhasil mendidik mahasiswanya.

Saya memilih mendengar Mala bercerita tentang dongeng asal muasal Situ Patenggang. Sains sepertinya kurang tepat untuk ketenangan galatuping diakhir minggu. Saya rasa menyediakan sedikit waktu untuk mengagumi ciptaanNya, membuat hari-hari anda berikutnya akan lebih bermakna.



Puas berfoto-foto dengan kamera Handpone Ana(Kamera Kanya baterainya abis dan lagi diCas di warung dekat sana).



Sebelum pergi, hal yang wajib dilakukan, sweeping sampah! Peraturan di KMPA : Leave Nothing but FootPrint.

Dan fenomena yang biasa ditemukan dtempat-tempat wisata di Indonesia, sampah bekas pengunjung bertebaran dimana-mana.

Aduh, dilema...

Punten yah, sedikit beropini disebuah catatan perjalanan...

(Bagian ini boleh dibaca, boleh ga...)

Ada 2 masalah yang dapat disorot dari fenomena diatas. Yang pertama, kurangnya kesadaran masyarakat untuk menjaga aset yang dimiliki. Atau mungkin juga kurangnya kesadaran ini disebabkan kurangnya rasa memiliki dari masyarakat sendiri. Masalah yang kedua, saat masyarakat membayar untuk memasuki tempat wisata, itu dianggap adalah bayaran untuk segalannya, termasuk kebersihan. Tapi ga tau kenapa, ternyata bayaran tiket masuk itu ga cukup buat menjaga sebuah tempat tetap bersih. At least, masih ada tempat wisata yang terawat kok.

Catatan perjalanannya dilanjutin...

Think Globally, Act Locally. Yah, sweeping sampah hasil aktivitas sendiri, dan memungut sampah disekitar semaksimal kemampuan, solusi praktis untuk saat itu.

Perjalanan diteruskan ke Kawah Putih. Jam 10-an.

Perjalanan dipagi hari dan bersama yang lain lebih menyenangkan, karena bentang alam disekitar sekarang terlihat jelas. Gunung yang tadi pagi terlihat seperti bayangan raksasa hitam menampilkan aslinya. Selain gunung dan hutan, kita juga disuguhi pemandangan hamparan kebun teh di sepanjang perjalanan. Dari Situ Patenggang melewati bumi perkemahan RancaUpas, kami sampai di pintu gerbang untuk masuk ke kawah putih.

Dan kita harus membayar 10.000/orang untuk dapat masuk. Perjalanan Galatuping hemat yang direncanakan, resmi gagal. Nasib jadi mahasiswa...

Untuk sampai ke kawah putih kita harus mendaki, dan untungnya sudah ada jalan raya yang dibangun untuk mempermudah transportasi. Tapi jalannya lumayan merusak kendaraan. Sedikit perjuangan untuk sampai ke atas, pemandangan yang ada mengingatkan saya dengan sebuah cekungan luas yang diisi dengan es vanilla blue cair. Hukum kesetaraan berlaku pada pemandangan yang kami lihat dengan uang 10.000 yang dibayar.Y ah, kepuasan memang butuh pengorbanan saudara-saudara.



Dengan tampang kucel belum mandi, pakai carier, dan agak kotor,saya pikir wajar kalo kami terlihat mencolok diantara pengunjung-pengunjung lain. Kami kemudian mencari spot bagus untuk berfoto, dan menggelar matras. Udara dingin dan kawah putih sedikit berkabut. Dan saya sedikit heran bagaimana cewek-cewek (kelihatannya model-model) diseberang sana yang sedang berfoto bisa bertahan dengan pakaian apa-adanya(dibaca : minim).

“aduh mbak, punya ilmu tahan dingin yah?”, pengen bertanya seperti itu, tapi takut di jejalin sama sepatu highheel mereka, hehe...

Hal paling penting nomor satu : Foto-foto



Hal paling penting nomor dua : Foto-foto


Hal paling penting nomor tiga : Foto-foto


Well, jam menunjukkan pukul 12 kurang, dan waktunya untuk pergi. Sebenarnya kami mau meneruskan perjalanan ke Pengalengan. Tapi sepertinya kita udah keburu capek dan pengen kembali ke Bandung.

Karena pengen menghindari macet didaerah Kopo, kami memilih pulang lewat Cimahi. Tapi ternyata itu bukan keputusan yang tepat. Tetap saja kami terjebak dalam macet didaerah Cimahi. Bandung, bandung, semakin hari semakin padat. Setelah berpanas-panasan, gerah dan stres karena macet, kami sampai ke Sel sekitar jam 3. Akhirnya,,,

Sampai di Sel, kami baru tau kalo Koko kena musibah. Kakinya keserempet knalpot motor waktu didaerah macet tadi. Lumayan besar dan terlihat perih.Oleh-oleh galatuping lah ya...

Minggu, 18 Mei 2008

Catatan Perjalanan Gunung Ciremai

Ini dia para Bolang yang berlibur ke Ciremai:
  • Anna
  • Rime
  • Koko
  • Arfan
  • Ria
  • Didik
  • Yostal
Dengan Bintang Tamu: Wulan Gurita & Yusni

Cerita Lebih Lanjut klik di sini



Catatan Perjalanan Pulau Sempu

Si Bolang yang ke Pulau Sempu : Mala, Manda, Kanya.

klik di sini untuk Melihat Catatan Perjalanan dari Si Bolang (Catatan Perjalanan By Malahayati).